Date and Time

Minggu, 01 Desember 2013

Creepypasta Indonesia

Knock, knock, who’s there?

Daratan tanah di daerah sekitar La Ville, New Orleans begitu rendah dan becek sehingga mayat orang mati harus dikubur di bawah tanah dengan dimasukan ke peti dari besi. Jika tidak begitu, apabila sungai meluapkan bendungan, atau hujan badai membanjiri lahan, kerabat tercintamu yang sudah mati mungkin saja akan menyembul ke atas tanah dan petinya terseret arus mengunjungi rumahmu!
Dahulu kala di pinggir sebuah jalan kecil tepi sungai dari arah La Ville, hidup seorang duda tua dengan anak semata wayangnya yang ceria bernama Therese. Ibunya sudah meninggal sehingga Therese hanya di asuh oleh sang ayah yang bersifat tamak, kikir dan suka memperkerjakan putrinya seperti budak dengan baju kain perca.
Meskipun gadis ini sudah mencapai usia untuk berumah tangga, ayahnya tak pernah memperbolehkan siapapun meminangnya. Gadis ini sangat jarang bertemu orang lain kecuali si ayah tuanya yang jahat.
Segala yang di perdulikan pria tua itu hanyalah koin-koin emas yang dia simpan dalam regangan papan di bawah kasurnya. Setiap malam dia mengunci pintu kamar, dan sibuk menghitung setiap keping koin emasnya dalam keremangan cahaya lilin. Ia senang akan bunyi gemerincing dan kilauan dan berat koin-koin itu di gengaman tangannya.
Namun Therese yang malang, begitu kesepian. Setiap malam gadis ini datang dan mengetuk pintu kamar sang ayah, tok, tok. Kemudian sang ayahnya akan berteriak,
"Siapa itu?!"
"Papa, buka pintunya," pinta gadis itu. "Ini saya, Therese. Papa, biarkan saya masuk, saya ingin ngobrol. Saya kesepian."
Tetapi ayahnya hanya akan berseru,
"Pergilah dan kembali bekerja sana. Kau hanya ingin menyentuh emasku kan, jangan berharap sebelum aku mati!"
Dan malam selanjutnya, tok, tok, "Siapa itu?!"
"Papa, ini saya, Therese. Saya sakit," rintihnya. "Papa, biarkan saya masuk..."
Lagi-lagi ayahnya hanya berseru,
"Dasar anak pemalas tak berguna! Pergilah. Kau tidak sakit. Jika kau cuma menginginkan uangku, langkahi dulu mayatku!"
Lagi dan lagi Therese mendatangi kamar sang ayah,
tok, tok. "Siapa itu?!"
"Papa, tolong. Papa, biarkan saya masuk. Saya sakit parah. Saya butuh obat. Saya mohon, Papa, belikan obat untuk saya..."
Tok, tok. "Siapa itu?!"
"Papa, tolonglah saya. Sakitnya tambah buruk. Oh, papa, buka pintunya..."
Namun hati sang ayah sedingin koin2 emas di tangannya. Hingga akhirnya tangisan si gadis memudar dalam keheningan, dan ia... tak lagi mengetuk pintu. Si pria tua jadi penasaran, maka diapun membuka pintunya. Diatas lantai beranda, terbaring tubuh tak bernyawa Therese si gadis ceria.
Pria tua itu terlalu kikir untuk membelikan peti besi bagi jenazah putrinya. Dia malah menempatkan mayatnya di dalam sebuah peti kayu lapuk dan menguburnya di tanah becek dan dangkal di bawah pohon cemara.
Para tetangga hanya bisa menggeleng prihatin. Mereka sudah memperingatkan bahwa hal ini dapat menimbulkan masalah. Bagaimana Therese yang malang bisa beristirahat dengan tenang di makam semacam itu?
Tiga minggu pun berlalu dan sebuah hujan badai datang menggulung daerah teluk itu. Angin menderu dahsyat dan tetesan hujan deras sebesar jarum berjatuhan sembari badai melanda daratan. Malam itu si pria tua sedang duduk di dalam kamarnya menghitungi koin emas dalam temaram cahaya lilin. Di luar, angin mendesau dan menghunjami genteng rumahnya dengan deras air hujan. Pria tua itu tak tahu kalau sungai telah meluap sampai ke tepian dan menggenangi daratan dengan airnya yang kehitaman. Dia masih terduduk di kursi goyangnya, dengan segengam koin emas di telapak tangan, bergoyang dan menghitung,
"Ahh.. Satu, dua, tiga..."
Terdengar suara kayu lapuk membentur dan menggores beranda rumahnya.
Tok, tok, tok, pintunya berbunyi.
"Siapa itu?!" seru si pria tua.
Hanya suara hembusan angin yang menjawab.
'mungkin itu benturan dari daun pintu yang renggang.' pikirnya, lalu kembali menghitung koin.
"Satu, dua, tiga..."
Tok, tok, tok, ketukan terdengar lagi, dan lebih keras.
"Siapa itu?!"
Hanya suara deru angin yang menyahut. 'mungkin hanya anjing liar mencoba masuk,' pikirnya. Dan kembali menghitung,
"Satu, dua, tiga..."
Tok, tok, tok! Tiga kali gedoran keras menghantam daun pintu.
"Siapa itu!"
Sayup-sayup terdengar rintihan sedih dan pelan. Hawa dingin menjalari tulang punggung si pria tua.
"Badai memang menakutkan," katanya pada diri sendiri. "Itu hanyalah tiupan angin yang menerbangkan ranting dari pohon oak tua lalu membentur rumahku."
Namun rintihan itu semakin kencang dan kencang dalam deru angin hingga berubah menjadi jeritan yang memekakan.
"Papa, ini saya, Therese! Biarkan saya masuk! Saya Therese papa!"
Tok, tok, tok!
"Papa, biarkan saya masuk!"
Tok, tok, tok!
"Papa, biarkan saya masuuuk...!!"
Bersamaan dengan berlalunya mata badai, suara pekikan horor terdengar menyeruak dalam keheningan mematikan di malam itu.
Tiga hari kemudian banjir mulai surut. Para tetangga datang untuk memeriksa tempat kediaman si pria tua. Saat mereka berkendara ke sana, mereka melewati pohon cemara dan melihat bahwa banjir telah menghanyutkan segala hal di sana tak terkecuali peti Therese karena makamnya telah kosong.
Mereka mengetuk pintu belakang, namun tak ada jawaban. Cemas jika sesuatu yang buruk telah menimpa si pria tua, maka mereka mendobrak pintunya.
Mereka mendapapati jasad si tua telah kaku di atas kursi goyangnya, tubuhnya sedingin batu kelereng, rambutnya berubah putih seperti salju. Raut horor menghiasi wajah kakunya dengan mulut ternganga, dan matanya terbelalak menyiratkan gumpalan teror tak terperi.
Di seberang ruangan, daun pintu menggantung timpang seolah olah di gedor oleh sesuatu dengan begitu kencangnya. Beberapa kaki dari pintu tergeletak peti kayu rusak yang tutupnya agak membuka dan didalamnya terbaring mayat kisut Therese. Di dalam genggaman tangannya yang hampir tak berdaging terdapat koin2 emas sang ayah, segurat senyum tipis tersungging di bibirnya yang membusuk.
Dengan emas itu, para tetangga membeli peti besi mengkilap untuk Therese, lalu memakamkannya di tanah yang lebih layak. Namun uangnya tidak tersisa cukup banyak guna membeli jatah peti untuk mayat si pria tua, jadi mereka memasukan jasadnya ke dalam peti dari kayu pinus dan menguburnya di bawah pohon cemara.
Sejak saat itu, setiap kali air sungai meluap ke daratan, arwah penasaran si pria tua akan bergentayangan dan memperingatkan orang orang sekitar bahwa ketamakan itu amatlah sangat berbahaya. Para penduduk sudah tahu jika arwah si pria tua mengunjungi rumah mereka maka akan terdengar suara ketukan di pintu namun setelah dibuka, tak ada siapapun di sana!

The Hobyahs

Alkisah hiduplah sepasang kakek nenek dengan cucu perempuannya, mereka tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari batang pohon rami. si kakek memiliki seekor anjing kecil bernama Turpie.
Suatu malam, para Hobyah datang dan bilang,
"Hobyah, Hobyah, Hobyah! kami datang untuk merobohkan gubukmu, memakan si kakek serta nenek, dan menculik si anak gadis"
Namun Turpie terus menyalak dan membuat para Hobyah lari terbirit-birit.
si kakek mengumpat, "Turpie begitu berisik dan mengganggu tidurku, besok pagi aku akan memotong ekornya"
Dan jadilah keesokan harinya si kakek memotong ekor Turpie si anjing.
Malam berikutnya para Hobyah datang kembali dan bilang
"Hobyah, Hobyah, Hobyah! kami datang untuk merobohkan gubukmu, memakan si kakek serta nenek, dan menculik si anak gadis"
Namun Turpie terus menyalak dan membuat para Hobyah lari terbirit-birit.
Si kakek mengumpat "Turpie begitu berisik dan mengganggu tidurku, besok pagi aku akan memotong telinganya"
Dan jadilah keesokan harinya si kakek memotong telinga Turpie si anjing.
Malam berikutnya para Hobyah datang lagi.
"Hobyah, Hobyah, Hobyah! kami datang untuk merobohkan gubukmu, memakan si kakek serta nenek, dan menculik si anak gadis"
Namun Turpie terus menyalak dan membuat para Hobyah lari terbirit-birit.
Si kakek mengumpat "Turpie begitu berisik dan mengganggu tidurku, besok pagi aku akan memotong kakinya"
Dan jadilah keesokan harinya si kakek memotong kaki Turpie si anjing.

Malam selanjutnya para Hobyah datang lagi,
"Hobyah, Hobyah, Hobyah! kami datang untuk merobohkan gubukmu, memakan si kakek serta nenek, dan menculik si anak gadis"
Kemudian mereka melihat Turpie si anjing duduk didepan pintu.
"mereka didalam" Turpie bilang.
"pintu kedua dikiri, ayo tangkap mereka"

Mysterious Woman on The Road

Pada suatu malam, pasangan suami istri sedang dalam perjalanan dengan mengendarai mobil, saat dari jarak jauh mereka melihat seorang wanita di tengah jalan, melambaikan tangan dengan penuh ketakutan.
Sang istri memberitahu suaminya untuk terus mengemudi karena mungkin bisa sangat berbahaya, tetapi sang suami memutuskan untuk mengemudi secara pelan jadi dia tidak akan merasa ragu tentang apa yang terjadi dan kemungkinan siapapun yang terluka.
Saat mereka semakin dekat, mereka melihat seorang wanita dengan luka dan memar di wajahnya dan juga di lengannya. Mereka kemudian memutuskan untuk berhenti dan melihat jika mereka bisa membantu. Wanita yang penuh luka dan memar itu memohon bantuan dan memberitahukan mereka bahwa dia mengalami kecelakaan mobil bersama suami dan anaknya, bayi yang baru lahir, masih di dalam mobil yang terperosok ke parit yang dalam.
Wanita itu memberitahu mereka bahwa suaminya telah meninggal tetapi bayinya nampaknya masih hidup. Sang suami yang dalam perjalanan itu pun memutuskan untuk turun ke bawah parit itu dan mencoba untuk menyelamatkan bayi tersebut, dan dia menyuruh wanita yang terluka itu untuk tetap disana bersama istrinya di dalam mobil.
Saat dia telah sampai di bawah, dia melihat dua orang di kursi depan mobil itu tetapi dia tidak mementingkannya dan mengambil bayi tersebut dengan cepat dan naik ke atas kembali untuk memberikan bayi itu ke ibunya. Saat dia telah sampai ke atas, dia tidak melihat wanita itu dimana mana dan menanyakan istrinya kemana wanita itu pergi.
Istrinya berkata bahwa wanita itu mengikutinya kembali ke mobil yang telah jatuh itu.
Saat sang suami turun kembali untuk mencarinya, dia melihat dengan jelas bahwa pasangan suami istri telah tewas, yang salah satunya tidak salah lagi adalah wanita yang telah melambaikan tangan kepada mereka sebelumnya.

Smile

Sepupuku baru baru ini pindah ke rumahku di Amerika dari Secunderabad, India. Saat di perjalanan menjelajahi Amerika, kita berfoto – foto dan bertukar cerita cerita hantu dan tertawa akan kemiripan dan perbedaan antara cerita hantu Amerika dan cerita hantu India. Saat aku menanyakannya apakah dia pernah mengalami apapun yang berhubungan dengan hal hal gaib, matanya terbelalak dan memalingkan matanya ke jendela. Dan saat keheningan begitu terasa bagiku, dia menjawabnya dengan pelan “Ya, beberapa. Salah satunya sangat menakutkan.”
“Saat aku sedang menjalani tahun kedua kuliahku, aku tinggal di asrama perempuan. Aku mendapatkan banyak teman disana. Kami semua sangat senang untuk bersekolah jauh dari orang tua kami yang kolot. Berada di asrama itu sangat menyenangkan, tetapi itu adalah gedung yang sangat sangat tua. Listrik hanya dipasang di kamar kamar. Terkadang, lilin lilin ditaruh di sepanjang jendela jika penjaga hadir, tetapi biasanya saat kamu meninggalkan kamar, kamu akan berhadapan dengan lorong yang gelap gulita. Sudah lazim membangunkan seseorang jika kamu ingin berjalan ke wc yang berada di ujung lorong. Kami semua mempunyai ketakutan kekanak-kanakan akan berada sendirian di kegelapan.
Suatu malam, aku harus menggunakan wc.
Pada saat itu sekitar jam 4 dini hari.
Aku beranjak ke ranjang temanku dan menepuk pundaknya. Dia langsung membuka matanya tepat setelah aku menyentuhnya. Aku meminta maaf karena telah menggangunya, dan memberitahu nya bahwa aku ingin buang air kecil. Dia tersenyum padaku dan lompat dari ranjangnya. Di sepanjang jalan menyusuri lorong, dia tertawa dan menari. Aku tidak bisa melihatnya sama sekali, gelangnya menggerincing bersamaan dengan kencang dan bel di gelangnya berdenting dengan pelan. Itu sangat menenangkan rasa takutku. Aku tertawa dan menggoyangkan pinggulku di sepanjang lorong bersamanya, sangat lelah untuk meniru gerakan lengan yang rumit. Dia tidak berbicara apapun padaku, dan kadangkala aku mendengar dia mendengungkan satu dari lagu Bollywood kesukaanku. Kejadian yang sama terjadi lagi saat di sepanjang jalan kembali ke kamar.
Aku bangun telat di pagi harinya karena suara beberapa pria yang berada di ruangan kami. Mereka mengerubungi ranjang temanku. Aku loncat dari tempat tidurku, bersiap untuk melindungi temanku, saat aku menyadari mereka adalah para pengurus asrama kampus. Aku mengintip lebih dekat. Mata temanku yang sudah tidak bernyawa terfokus ke tempat tidurku; senyum yang sama di wajahnya. Bunuh diri.
Waktu kematian dia adalah pada jam 11.30 pm, hampir 5 jam sebelum ku bangunkan dia.”

A Close Call

Saat itu aku masih berumur sekitar 10 tahun, aku punya seorang sahabat karib yang tinggal hanya beberapa blok dari rumahku. suatu hari sepulang sekolah, aku datang kerumahnya untuk mengajaknya bermain seperti yang biasa kami lakukan, keadaan rumahnya begitu sepi saat aku sampai disana, kuketuk pintunya beberapa kali sambil terus memanggil-manggil namanya, namun aku tidak mendapat jawaban.
Mobil milik ibunya masih terparkir di garasi, jadi aku tahu dia tidak sedang pergi kemanapun.
"Hei ayo kita bermain" panggilku sedikit berteriak. "Ayo keluar, aku tahu kau didalam" dan tetap tidak ada jawaban, hal ini tak biasanya terjadi.
Aku mengintip lewat jendela di teras, tidak terlihat seorangpun.
Aku memberanikan diri membuka pintunya saat kudengar suara temanku berteriak
"Pergilah ! Menjauh dari sini !"
Tiba-tiba, aku mendengar jeritan keras disertai bunyi berdebum, aku begitu kaget dan langsung berlari pontang-panting kembali kerumahku.
Esok harinya, aku mendengar sebuah kabar mengerikan dari kakak kelas. mereka bilang sekelompok pencuri telah berhasil membobol masuk kedalam rumah temanku hari sebelumnya. temanku dan ibunya dibunuh ditempat.
Jika saja saat itu aku masuk kedalam rumah, aku pasti juga ikut terbunuh, temanku dan ibunya sedang bersembunyi ketika aku datang, ia sudah menyelamatkan nyawaku karena telah memperingatkanku lebih dulu, namun dengan mengorbankan tempat persembunyiannya.


A Rainy Day

Suatu hari, aku sedang dalam perjalanan pulang kerumah dari kantor. aku keluar dari stasiun kereta bawah tanah dan mendapati hujan turun dengan derasnya diluar. beruntung, aku sudah membawa payung untuk berjaga-jaga. aku mulai berjalan kaki dan selang beberapa saat kemudian, aku mulai merasakan sesuatu yang salah sedang terjadi.
Keadaan begitu mencekam saat aku melangkah dijalanan gelap dibawah guyuran hujan. aku menyadari bahwa setiap orang di sekitarku hanya diam berdiri, tak ada dari mereka yang memakai payung. mereka benar-benar diam berdiri memunggungiku. semua menghadap kearah yang sama. aku harus berjalan berbelok-belok untuk menghindari menabrak salah satu dari mereka.
Ketika secara tiba-tiba, sebuah taksi berhenti tepat di sisiku dan sang supir menurunkan kaca jendelanya, lengannya menjulur keluar dan mengisyaratkan padaku untuk mendekat. aku bilang padanya aku tidak butuh taksi, tapi dia terus berkata "cepat naik! tak usah bayar!"
Si supir taksi bersikeras memaksaku untuk menerima tumpangan gratis darinya. berhubung orang-orang di jalan tadi sudah mulai membuatku takut, aku segera naik ke kursi penumpang dibelakang dan kami beranjak pergi.
Sang supir menoleh ke arahku dengan wajah pucat pasi.
"Kupikir aku memang seharusnya menolongmu, kulihat kau berjalan sendirian seperti menghindari banyak orang di jalanan yang lengang"

Father In-Law

Alkisah seorang gadis jepang menikah dengan seorang pria muda yang sangat dicintainya, namun karena si pria belum memiliki rumah sendiri. mereka pun tinggal di rumah orangtua si pria.
Ibu mertua si gadis adalah orang yang ramah, ia selalu memperlakukan si gadis dengan baik layaknya anak sendiri. berbanding terbalik, ayah mertuanya adalah sosok yang kejam, ia sering berlaku kasar pada si gadis. ia begitu keras kepala dan egois sehingga selalu menyusahkan setiap orang yang tinggal di rumah tersebut.
Ia menderita lumpuh dan kini harus duduk di kursi roda, si ibu mertualah yang selalu melayani kebutuhan kebutuhannya, si ayah mertua akan duduk di kursinya dan memerintahkan orang-orang untuk menuruti segala kemauannya. setiap hari, ia selalu minta dibuatkan semangkuk sup daging.
Beberapa bulan kemudian, sang ibu mertua meninggal. dan gadis muda tadi terpaksa harus mengurusi semua keperluan ayah mertuanya. tak perlu waktu lama, si ayah mertua mulai mengomel akan ketidakbecusan si gadis merawatnya dan dan membanding-bandingkannya dengan mendiang istrinya.
Setiap hari, saat si gadis muda menyajikannya sup daging, ia akan mencoba sesendok dan menyemburkannya kembali tepat di muka si gadis, kemudian melempar mangkuknya kelantai dan berteriak "bukan seperti itu rasa sup daging! tidak bisakah kau melakukan sesuatu dengan benar ?"
Si gadis muda harus bertahan dengan bermacam-macam cacimaki yang dilontarkan ayah mertua padanya dan perlahan mulai habis kesabaran. suatu hari, saat ia sedang membereskan gudang, si gadis menemukan toples berisi racun tikus. ketika jam makan siang tiba, ia merasa sudah tak tahan dengan kelakuan ayah mertuanya dan diam-diam mencampur racun tikus tadi kedalam mangkuk sup daging yang sedang ia buat. dengan senyum mengembang, ia menyajikannya pada si ayah mertua.
Ia menyaksikan sendiri saat ayah mertuanya mulai melahap sup dengan rakus, sambil menjilati bibirnya, si ayah mertua bilang
"Nah, itu baru namanya sup daging, seperti yang biasa istriku berikan untukku"

There’s something on the stairs

Saat aku masih kanak kanak, aku selalu berlari menaiki anak tangga hingga yang paling atas secepat yang ku bisa, seperti sejenis permainan yang bodoh. Well, aku masih berumur 5 atau 6 tahun pada saat itu. Aku tidak yakin, tapi aku tau aku masih sangat kecil pada saat itu. Entah dari mana asalnya, suara dari tangga paling atas mulai berbisik kepadaku. Suara itu menawarkan taruhan padaku, seperti… “ Aku bertaruh satu sen, kamu tidak akan berhasil mencapai anak tangga paling atas.” Aku benar benar tidak memikirkan itu terjadi pada waktu tertentu. Seperti yang ku bilang, aku masih sangat kecil, jadi aku mungkin belum bisa berhitung. Ha. Aku mengingat kembali pada saat aku duduk di tangga paling atas, berbicara dengan suara itu, tentang taruhan, tentunya.
Akhirnya suara itu (itu terdengar seperti suara bisikan seorang pria, bukan suaraku sendiri dari dalam kepalaku) mulai bertaruh nyawaku. Bukannya bertaruh satu sen, dia berkata “Aku bertaruh nyawamu, kamu tidak bisa berhasil menaiki tangga paling atas blah blah.”
Sejak aku bertambah usia suara itu pun mulai berhenti terdengar olehku. Aku benar benar sama sekali tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Aku tidak pernah memberitahu siapapun… SAMPAI suatu malam aku menginap di tempat kakak laki laki ku (Pada saat itu aku berumur 18 tahun, dan dia berumur 22 tahun) dan kita bercerita tentang cerita cerita seram. Entah apa yang kupikirkan, aku menceritakan “Suara dari atas tangga” itu dan kakakku terdiam. Sebelum aku menceritakan hal hal tentang taruhan, dia berkata “Apakah dia membuat taruhan denganmu?”
Kami berdua melihat ke satu sama lain, ketakutan. Hal itu tentunya terasa menakutkan setelah kakakku mengatakannya.
Banyak kejadian kejadian aneh yang terjadi di keluarga ku pada jangka waktu itu di hidupku, dan ibuku, seorang wanita yang sangat religius, berkata bahwa ada banyak “hantu” di kehidupan kami pada waktu itu. Aku sama sekali tidak berpikir tempat kami berhantu, ngomong ngomong, rumahku dibangun di akhir tahun 70’an dan semenjak aku bertambah usia, Aku tidak pernah mengalami kejadian seperti itu lagi.

From the mouth of babes

Saat kakak perempuan ku lahir, orangtua ku pindah ke sebuah rumah kecil, dan di dalam rumah itu ruang mencuci baju berada tepat di depan meja ruang makan. So kakakku sering terlihat melambaikan tangannya, menatap, dan tertawa saat melihat ke ruangan itu. Kebiasaan itu berlanjut untuk waktu yang lama dan disaat dia sudah bisa berbicara, orangtua ku bertanya padanya siapa yang dia ajak bicara. Menanggapi itu, dia menatap mereka dan berkata ‘seorang anak laki-laki’. Orangtua ku meneruskan bertanya apakah anak laki-laki itu baik, dan mendengar itu, dia terdiam sejenak dan menjawab ‘ya’. Setelah itu dia nampaknya bertambah usia dan melupakan semua hal tentang itu dan yang membuat orangtua ku lega, dia hanya menganggapnya teman khayalan. Mereka tidak pernah membahas hal itu setelahnya. Saat aku lahir, aku melakukan kebiasaan yang sama dan saat aku sudah bisa berbicara, orang tua ku bertanya padaku siapa yang telah aku ajak bicara. Aku menjawab ‘Seorang anak laki-laki’. Mereka sekali lagi menanyakanku apakah anak laki-laki itu baik dan aku mengatakan hal yang sama dengan kakakku, meskipun sedikit berbeda. ‘Ya’, Jawabku. ‘Walaupun ku pikir dia berbohong.’

The Wrong Parents

Saat aku masih kecil, Aku biasanya terbangun di tengah malam dan masuk ke dalam kamar orangtua ku dan tidur disamping ibuku. Suatu malam saat aku masih berumur 5 atau 6 tahun, aku mengalami mimpi yang benar benar jelas dimana Aku terbangun ketakutan, dan pergi ke kamar ibuku untuk tidur dengannya. Namun, saat aku masuk, ada sepasang orangtua ku di atas kasur, dan sepasang orangtua yang serupa berbaring di lantai. Menurut naluriku, aku tau di dalam mimpiku bahwa aku harus membangunkan orangtua yang benar, karena orangtua yang salah adalah hantu. So kupilih orangtua ku yang berbaring di lantai. Saat aku menghampiri orangtua ku yang berbaring di lantai, mereka berdua membuka mata, dan di tempat dimana seharusnya bola mata mereka berada, hanya terdapat cahaya merah terang yang berpijar. Dan saat aku benar benar terbangun. Sangat ketakutan, aku tentunya berlarii ke kamar orangtua ku untuk tidur disebelah ibuku.
Tadinya disana ada sepasang orangtua ku yang berada di atas kasur, dan sepasang lagi yang berbaring di lantai.
Aku benar benar ketakutan.
“Pasangan kedua” dari orangtua ku sebenarnya adalah tumpukan cucian yang belum terlipat. Tapi aku tidak akan pernah melupakan ketakutan itu yang menghantui diriku yang masih berumur 6 tahun.

Sorry Mom

Ada seorang ibu yang hidup di kota kecil di Spanyol bersama suaminya. Pasangan suami istri itu mempunyai anak laki-laki yang selalu membuat onar,Federico. Kedua orang tuanya selalu kecewa karena Federico selalu mebuat masalah di sekolahnya.
Suatu pagi, ibunya membangunkan anaknya dan menyuruhnya untuk siap-siap ke sekolah. Saat dia gosok gigi, ibunya membuatkannya sarapan. Setelah selesai sarapan, dia mengantarkan anaknya untuk naik bis sekolah.
Beberapa jam kemudian, ibunya sedang membersihkan rumah. Saat itu hampir jam makan siang saat ibunya pergi ke ruang keluarga. Dia terkejut karena melihat anaknya duduk di kursi dekat jendela, dan menatap keluar jendela.
"Federico!" katanya marah. "Apa yang kau lakukan di rumah sekarang? Kenapa kau tidak sekolah?"
Anaknya diam, lalu menatap ibunya. Ibu itu menyadari kalau ada darah di kepala anaknya.
"Federico, kenapa kepalamu berdarah?" tanyanya.
"Aku minta maaf, Ibu..." jawab anaknya.
"Apa kau berkelahi lagi?" tanya ibunya. "Apa gurumu menyuruhmu pulang?"
"Aku minta maaf, Ibu..." jawab Federico pelan.
"Aku tidak mau dengar alasanmu." kata ibunya marah. "Pergi ke kamarmu! Saat ayahmu sudah pulang, dia kan menghukummu."
Anak itu menunduk dan naik ke tangga menuju kamarnya. Ibunya menghela nafas sedih. Lalu, teleponnya tiba-tiba berdering. Ibu itu segera mengangkatnya.
"Halo." kata sebuah suara di seberang telepon."Bisakah aku bicara dengan ibu Federico?"
"Siapa ini?" tanya ibu itu.
"Ini kepala sekolah."
"Oh, tidak." kata ibu itu menghela nafas. "Apa yang dilakukan setan kecil itu sekarang?"
"Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini." kata kepala sekolah. "Pagi ini, Federico naik ke atap sekolah..."
"Aku disini meminta maaf atas kelakuannya." jawab ibunya. "Aku bisa meyakinkanmu saat ayahnya sudah pulang, dia akan mendapat hukuman."
"Tidak, kau tidak mengerti." jawab kepala sekolah. "Federico melompat dari atap sekolah dan kepalanya terbentur aspal..... aku sangat minta maaf...... dia langsung meninggal..."
Ibu itu menjatuhkan hp nya. Mataya berkaca-kaca. Dia langsung berlari menuju tangga dan langsung masuk ke kamar anaknya. Kamarnya kosong.

The Picky Eater

Picky Eater adalah sebuah kisah menyeramkan tentang seorang pria yang menikahi seorang wanita muda yang wajahnya belum pernah ia lihat sebelumnya. setelah hari pernikahan, ia menyadari bahwa sang istri jarang menyantap makanan dan memutuskan untuk mencari tahu penyebabnya. diangkat dari cerita rakyat Arab kuno dengan judul "The Tale of Sidi Nouman" dari dongeng 1001 Malam.
Alkisah hiduplah seorang pria muda bernama Sidi Nouman yang berasal dari keluarga Muslim kaya raya. sudah tiba saat baginya untuk menikah, namun ia belum bertemu dengan si calon pendamping. pada zaman tersebut, segala hal yang berhubungan dengan pernikahan diatur oleh orangtua. malah, ia belum pernah melihat secara langsung wajah si pengantin wanita. sudah menjadi tradisi bahwa setiap wanita disana harus menutupi wajah mereka dengan kerudung sampai hari pernikahan tiba. yang Sidi tahu hanyalah bahwa si pengantin wanita bernama Amina.
Ketika pernikahan selesai dilangsungkan, Sidi pulang kerumah bersama sang pengantin baru. ia begitu penasaran seperti apa rupa istrinya nanti.
Didalam kamar, Amina melepaskan kerudungnya dan Sidi sungguh terkejut sekaligus lega melihat betapa cantiknya wajah Amina. dengan rasa bahagia yang begitu menggebu, ia menggenggam tangannya dan memeluk sang istri erat.
Keesokan harinya, Sidi dan Amina duduk bersama di meja ruang makan, para pelayan telah menyajikan bermacam hidangan lezat. namun begitu, saat Sidi mulai menyantap makanannya, ia menyadari bahwa sang istri tidak memakan apapun.
Ia melihat Amina meraih sebuah sendok kecil dan mulai mengambil butir demi butir nasi. setelah memakannya, Amina meminta izin untuk meninggalkan meja makan.
Hari-hari berikutnya, saat mereka makan bersama, Amina hampir tidak menyentuh apapun, kadang ia akan mengambil remah-remah roti dan kemudian pergi, bilang bahwa ia sudah kenyang. perilaku anehnya ini membuat Sidi sungguh khawatir.
Suatu malam, ketika Amina mengira bahwa Sidi telah tertidur lelap, pelan-pelan ia beranjak dari ranjang, Sidi hanya sedang berpura-pura tidur saat ia menyadari bahwa istrinya tiba-tiba terbangun, ia menaruh curiga. ia menutup matanya dan terus mendengarkan saat Amina diam-diam memakai baju lalu berjingkat keluar dari kamar.
Sidi kemudian bangun dan segera mengenakan jubahnya. mengintip dari jendela, ia melihat Amina berjalan keluar dari rumah, Sidi lalu berlari ke pintu depan dan mengikutinya dari belakang.
Dibawah remang sinar rembulan, Sidi membuntuti Amina menuju pekuburan terdekat.

Saat itu tengah malam dan pemakaman begitu sepi.
Sidi menyembunyikan dirinya diantara pepohonan dan terus mengawasi, ia sangat terkejut ketika Amina masuk kedalam pemakaman dan menemui seorang lelaki asing yang tengah duduk diatas salah satu batu nisan. Sidi terlalu jauh untuk mendengar percakapan mereka.
Amina dan si lelaki asing kemudian bersama-sama menggali makam yang masih basah dan menaikkan peti matinya, Sidi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat mereka menarik mayat yang mulai membusuk keluar dari peti dan memotongnya menjadi beberapa bagian, hal yang tak disangka pun terjadi, mereka mulai merobek dan menggigit dengan rakus layaknya hewan buas. Sidi menyaksikan dengan gemetar dan jijik saat istri tercintanya menggerogoti daging-daging busuk dengan lahap.
Ketika mereka telah menyelesaikan "santapannya”, Amina dan si orang asing melemparkan tulang-belulang yang tersisa kambali kedalam lubang, kemudian menimbunnya dengan tanah. Sidi masih sulit percaya akan apa yang ia lihat, ia berlari kembali ke rumahnya dan naik keatas ranjang. berpura-pura tertidur nyenyak saat istrinya masuk ke kamar. Amina melepaskan pakaiannya dan pelan-pelan berbaring di sebelah Sidi, sama sekali tidak menyadari bahwa rahasianya telah terungkap.
Sidi Nouman tidak bisa tidur sepanjang malam sampai ketika pagi menjelang, ia meninggalkan rumah juga Amina yang masih terlelap. ia pergi ke kota dan mengunjungi si peramal untuk bertanya apa yang harus ia lakukan. ia menceritakan pernikahannya, perilaku Amina yang ganjil, dan pemandangan mengerikan yang ia lihat tadi malam kepada si peramal.
"Istrimu adalah iblis" kata si peramal "Salah satu dari arwah-arwah jahat yang berkeliaran di dunia, mereka tinggal di tempat tempat yang telah ditinggalkan, berburu para pengembara yang lengah untuk memakan dagingnya, dan jika mereka tak dapat menemukan yang bernyawa, mereka akan bertahan hidup dari tubuh-tubuh yang telah mati"
"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Sidi berlinang airmata "Tolong beritahu aku"
Sang peramal memberikannya sebuah botol kecil penuh cairan.
"Bawa ini dan pulanglah" dia bilang. "Ketika tiba waktunya, siramkan ramuan ini di matanya dan kau akan melihat apa yang harusnya kau lihat..."
Sidi pulang kerumah diwaktu makan malam dan sang istri disana untuk menyapanya, mereka duduk di meja makan dan menunggu para pelayan untuk menyajikan hidangan.
Seperti biasa, Amina meraih sendok kecil dan mengambil beberapa butir nasi dan memakannya.
"Ada apa Amina?" tanya Sidi pelan "Apa ada sesuatu yang salah dari makanan ini ?"
"Tidak, aku hanya sedang tidak lapar" jawab Amina
"Mungkin ada sesuatu yang lain yang ingin kau makan"
Sidi bilang dengan senyum kecil di wajah.
"Aku tahu memang tak ada yang lebih nikmat dari daging mayat yang telah membusuk"
Tak butuh waktu lama setelah Sidi mengucapkan kata-kata tersebut, Amina bangkit dari kursinya, wajahnya berubah mengerikan dan matanya memerah seperti hendak melompat keluar, giginya bergemeretak penuh amarah. ia melompat keatas meja dan mencoba mencekik Sidi. namun Sidi terlalu cepat menghindar.
Sidi membuka tutup botolnya dan menyiramnya tepat di mata Amina, Amina yang terkasih menjerit keras saat wajahnya berubah menghitam dan kulitnya mengeluarkan asap. Sidi menyaksikan dengan ngeri saat wajah Amina yang cantik perlahan meleleh. ia jatuh berlutut dilantai dan tubuhnya kini sudah tak berbentuk.
Saat semua telah berakhir, yang tersisa hanyalah gumpalan lumpur hitam pekat dimana Amina selama ini menyembunyikan sosok aslinya.

Kamera Video

Kamera Video adalah sebuah cerita menakutkan tentang seorang mahasiswa yang meyakini dirinya sedang dibuntuti oleh seseorang. dia lantas meninggalkan sebuah kamera perekam di kamarnya untuk mengetahui siapa orang tersebut.
Beberapa tahun yang lalu, seorang pemuda bernama Bryan baru saja masuk ke sebuah perguruan tinggi. dia tidak memiliki cukup uang untuk tinggal dalam asrama kampus, jadi dia menyewa sebuah apartemen untuk dirinya sendiri di kota itu.
Setelah tinggal di sana dalam beberapa hari sendiri, dia menyadari ada beberapa hal yang aneh. sering terjadi, ketika dia baru saja pulang dari kampus, tirai kamarnya selalu tertutup padahal dengan jelas dia mengingatnya meninggalkan tirai itu dalam keadaan terbuka pada pagi harinya. di kesempatan lainnya, beberapa barang-barang miliknya terlihat sudah dipindahkan bahkan hilang – tak pernah ditemukan.
Kejadian-kejadian aneh ini mulai menakuti Bryan, jadi pemuda tersebut mencoba menceritakan hal ini kepada teman-temannya, Trisha dan Alex. Mereka bertemu di kedai terdekat dan setelah menyeruput kopinya, dia mulai menceritakan semua hal-hal aneh yang disadarinya.
“Mungkin saya hanya sedang paranoid,” kata Bryan. “Tapi saya benar-benar curiga bahwa seseorang telah merangsek masuk ke dalam apartemenku di siang hari, ketika saya masih di kampus dan …”
“Dan apa?” potong Alex. “Merubah tirai jendela dan memindahkan barang-barangmu? Siapa yang begitu gila hanya melakukan itu?”
“Ini memang terdengar gila, tapi mungkin saja seseorang sedang mengintaimu.” kata Trisha. “Itu mungkin saja. Dan jika ini benar, saya rasa menghubungi polisi adalah jalan yang terbaik.”
“Apa yang polisi bisa lakukan?” tanya Alex. “Mereka tidak akan menghabiskan waktu hanya untuk menjaga apartemenmu. Di samping itu, tidak ada bukti kerusakan pada barang-barang. Tidak ada tanda-tanda seseorang mendobrak masuk. Singkatnya, kau tidak memiliki bukti.”
“Jadi apa yang bisa kulakukan?” tanya Bryan. “Saya tak tahu harus berbuat apa.”
“Saya tahu apa yang bisa menenangkan pikiranmu.” usul Trisha. “Mudah saja. Taruh sebuah kamera video di kamarmu, dan tetap nyalakan ketika kau keluar ke kampus. Jika benar kau memiliki penguntit, kau bisa menunjukkan rekamannya nanti ke polisi sebagai bukti.”
“Kau tahu, itu adalah sebuah ide bagus.” kata Bryan.
“Dan jika kau benar-benar hanya paranoid atau gila, kau bisa menunjukkannya kepada psikiater.” ledek Alex.
Malam itu, Bryan meminjam kamera video Trisha dan membawanya ke rumah. Pada subuh-subuh sekali esok paginya, dia menyembunyikan kamera itu di bawah beberapa laci mejanya. Sebelum dia pergi ke kampus, dia menekan tombol rekam dan meninggalkannya tetap menyala.
Sepanjang hari itu, ketika dia duduk dalam bangku kuliah, pemuda ini sudah melupakan tentang kamera video itu. Tapi akhirnya dia mengingatnya ketika sudah sampai di rumah dan masuk ke kamarnya.
Mengambil kamera itu dari tempat persembunyiannya, dia menekan tombol berhenti. Lalu mengambil ponselnya dan menghubungi temannya.
“Hey, Trisha.” katanya. “Saya baru saja pulang. Saya akan menonton videonya.”
“Keren.” kata Trisha. “Jangan tutup teleponnya. Beritahu saya jika kau melihat sesuatu.”
Dia menekan tombol play-nya dan menonton rekaman video itu dari layar kecilnya. Dia melihat dirinya berjalan meninggalkan kamarnya untuk ke kampus pada pagi hari dan menutup pintunya. Lalu, tidak ada apa-apa yang terjadi. Dia menekan tombol untuk mempercepat dan menyaksikan seluruh rekaman itu. Ruangan itu benar-benar kosong.
“Masih tidak ada apa-apa.” katanya.
“Saya sudah bosan menunggu,” timpal Trisha. “Tapi, acara televisi sedang buruk jadi tidak ada yang bisa ku tonton.”
“Ya Tuhan!” jerit Bryan memencet tombol play secara bersamaan.
“Apa? Ada apa?” tanya Trisha bersemangat.
“Pintunya terbuka!” kata Bryan. “Itu seorang wanita …”
“Apa yang dilakukannya?” tanya Trisha.
“Hanya berdiri di sana … menutup pintu … dan berjalan kesana-kemari …”
“OMG! Aneh sekali! Bagaimana rupa wanita itu?”
“Saya tidak bisa melihat wajahnya … Rambut panjang, hitam, tipis … dengan pakaian sobek-sobek …”
“Kau mengenalnya?”
“Tidak, saya tidak mengenalnya sama sekali … Dia membawa sebuah pisau … Pisau dapur yang besar … Dia berjalan melewati tempat sampah … Sekarang, dia mengambil pakaianku dan merobek-robeknya.”
“Ugh! Gila! Ada apa dengannya?”
“Dia berjalan ke kamar kecil sekarang … Dia masuk ke sana.”
“Segera percepat dan lihat apa yang dilakukannya lagi.”
Bryan memperhatikan layarnya dengan seksama beberapa saat, tapi ruangan itu tetap kosong.
“Kau tahu apa artinya,” kata Bryan. “Sekarang saya punya bukti ini dan saya bisa ke kantor polisi agar mereka menjagaku.”
“Saya tahu,” kata Trisha. “Mereka pasti melakukan itu.”
“Alex pasti gila kalau melihat ini.”
“Pasti. Dia tidak percaya ceritamu. Cuma saya yang percaya.”
“Saya tahu. Kau memang teman yang baik … Ya Tuhan!”
“Apa? Apa?”
Bryan menekan tombol play kembali.
“Pintu depan terbuka lagi.” kata Bryan.
“Siapa itu?” tanya Trisha.
“Oh, bukan apa-apa.” jawab Bryan. “Itu hanya saya yang pulang dari kampus.”
Dia menyaksikan dirinya sendiri di layar, sedang mematikan kamera.
“Ayo ke kantor polisi sekarang,” kata Trisha. “Saya akan ikut denganmu. Kita bisa menunjukkan video itu.”
“Ok. Saya akan menemuimu di jam makan malam 15 menit lagi.” kata Bryan mengambil kamera video itu.
“Ok … tapi tunggu dulu.” kata Trisha. “Kau bilang dia masuk ke kamar kecil. Apakah dia pernah keluar? Bryan, apakah dia pernah keluar?!”
Bulu kuduk Bryan tiba-tiba berdiri. Di belakangnya, dia mendengar pintu kamar mandinya menyeret terbuka.
“Bryan! Keluar dari sana!” teriak Trisha di telepon, tapi sudah terlambat. Teleponnya mati. Dan ketika dia mencoba menghubunginya kembali, tidak ada jawaban.
Petang itu, polisi menemukan tubuh tak bernyawa mahasiswa 18 tahun itu terbaring di atas genangan darahnya sendiri – tertikam sebanyak 21 kali. Kamera video masih tergenggam erat di tangan kaku dan dinginnya. Ketika polisi memeriksa kamera itu, kartu memorinya sudah hilang.
Tidak ada satupun jejak wanita itu pernah ditemukan.
Sekarang, mungkin saja dia bersembunyi di kamar mandimu.

Small Notebook

Hari pertama:
Halo! Namaku Sarah! Aku baru saja mendapat buku diary baru dari hadiah ulang tahunku. Aku suka mamaku. Kadang-kadang dia menjadi sangat baik. Dia selalu membelikanku hadiah. Saat aku berbicara pada bonekaku, mama menyuruhku berhenti. Dia bilang tidak baik untuk punya teman imajinasi. Itu membuatku sedih. Itu juga membuat bonekaku sedih. Aku harus bergegas membantu mama menyiapkan makan malam. Sampai jumpa besok!
Hari kedua:
Saat aku bangun pada pagi hari, ada seorang anak laki-laki di sudut kamarku. Awalnya aku ketakutan, tapi dia mendekat ke ranjangku dan mengatakan kalau dia teman baruku. Dia senang melihatku bermain di halaman rumahku. Aku suka teman baruku. Dia bilang namanya Thomas tapi aku boleh memanggilnya Tommy. Dia punya bekas sayatan di wajahnya. Aku bertanya dimana dia mendapatkan bekas sayatan itu dan dia jawab dari mamaku. Itu membuatku sangat marah pada mama.
Hari ketiga:
Tommy datang lagi. Kami bermain boneka dan aku bertanya padanya darimana dia berasal. Dia berkata dia tinggal di dalam lemariku. Itu lucu. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Tommy adalah teman baru terbaikku! Aku bertanya dimana dia sekolah. Dia menjawab dia tidak sekolah. Aku menawarkannya untuk ikut ke sekolah bersamaku besok dan dia mengiyakannya.
Hari keempat:
Tommy tidak ke sekolah bersamaku hari ini karena mamaku tidak mengijinkannya. Aku memaksanya untuk mengijinkan Tommy ikut tapi jawabannya tetap tidak. Aku bertanya pada mamaku kenapa Tommy tidak boleh ikut dan dia bilang Tommy tidak nyata. Itu membuat Tommy marah. Tommy mengatakan padaku kalau dia akan menemuiku saat jam makan siang. Tommy benar-benar baik! Aku tidak sabar untuk menemuinya.
Aku mengatakan pada guruku kalau Tommy akan menemuiku, dia tertawa dan mengatakan padaku bahwa dia tidak nyata. Itu membuatku sedih. Aku bilang padanya tentang bekas sayatan di wajah Tommy dan guruku mulai cemas. Aku tidak mengerti kenapa semua tidak menyukai temanku Tommy. Dia teman terbaikku! Aku pergi ke tempat ayunan dan melihatnya duduk menungguku. Dia mengatakan kalau mamaku sangat lelah dan dia sudah tertidur. Tommy bertanya padaku siapa saja yang sudah berbuat jahat padaku. Aku memberitahunya kalau guruku menganggap Tommy tidak ada. Itu membuat Tommy sangat marah. Tommy berkata akan menjagaku. Aku bermain di ayunan selama beberapa saat. Saat bel sekolah berbunyi, dia berkata akan menemuiku di rumah. Aku tidak sabar saat sekolah berakhir!
Hari keenam:
Aku tidak melihat mamaku sejak pulang sekolah. Beberapa polisi datang dan bertanya pada papaku. Mereka ingin tahu dimana mamaku. Aku ingin memberitahu mereka kalau mama sedang tertidur tapi Tommy menyuruhku untuk diam. Dia juga berkata kalau guruku sedang tertidur dan dia tidak mau siapapun untuk membangunkannya. Aku bertanya padanya apakah guruku sudah percaya padanya sekarang. Dia bilang guruku percaya. Itu membuatku sangat senang! Tommy berkata kalau papaku orang bodoh karena memanggil polisi. Aku bilang kalau aku menyukai papa. Tommy bilang kalau papa tidak menyukaiku. Aku sangat sedih. Tommy berkata hidup penuh dengan kesedihan dan orang akan senang jika mereka ingin tidur.
Hari ketujuh:
Tommy membangunkanku dan mengatakan kalau papa sudah tertidur. Dia ingin menunjukkanku sesuatu. Aku segera berpakaian dan kami berjalan ke belakang rumahku. Dia berkata kalau mama dan papaku sedang tertidur jadi aku harus hati-hati. Aku melihat-lihat sekelilingku tapi tidak menemukan mereka. Tommy mengambil ranting dan menunjuk ke tanah dan mengatakan kalau mama dan papaku ada di bawah sana. Aku bertanya kenapa mereka tidur disana. Tommy menjawab kalau disana tempat terbaik untuk tidur. Lalu dia mengambil ranting lagi dan menunjuk sebuah lubang. Dia menyuruhku untuk tidur disana juga. Aku bilang tidak mau, aku ingin tetap terbangun. Itu membuatnya marah. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Tommy jadi menakutkan bagiku. Aku tidak berpikir kalu Tommy bukan teman yang baik.
Hari kedelapan:
Halo, ini Tommy! Sarah tidak bisa melanjutkan menulis diary ini, jadi aku menyelesaikan tulisan ini untuknya. Ini akan jadi tulisan yang terakhir.
Sarah sangat mengantuk jadi aku menaruhnya di sebelah mama dan papanya. Dia bilang aku menyakitinya dan dia meronta-ronta dan berteriak, tapi setelah teridur, dia tidak membuat suara lagi.
Tanah adalah tempat terbaik untuk tidur! Itu adalah tempat anjingku tidur! Itu adalah tempat keluargaku tidur! Itu adalah tempat Sarah dan orang tuanya tidur! Itu adalah tempat guruku, Ms. Susie tidur! Itu adalah tempat sahabatku, Hailey, Rebecca dan George tidur! Itu adalah tempat aku tidur!

Anak-Anak di Lantai Atas

Seorang pria (kita panggil saja dia dengan "K") terluka karena sebuah kecelakaan mobil dan memutuskan untuk beristirahat dirumah untuk beberapa minggu. K sudah menikah namun isterinya juga masih bekerja, jadi dia sendirian dirumah sepanjang hari. Untuk hari-hari pertama dia menikmati kebebasannya, namun ketika sampai dihari ketiga dia mulai bosan. Dia harus tetap dirumah karena cedera yang dialaminya membuatnya tidak bisa kemana-mana.
Lalu suatu hari lewat jam makan siang dia menonton TV sembari melamun dia mendengar suara derap langkah yang keras dan suara anak kecil dari lantai atas. Dia tidak terlalu peduli pada hal itu, terlebih karena dia pikir anak-anak itu sedang liburan sekolah. hari berikutnya dia mendengar suara anak-anak lagi, pada waktu yang sama dihari yang lalu. Terdengar kalau ada dua orang anak kecil diatas sana. Tempat tinggak K adalah sebuah apartemen besar namun selalu sepi setiap hari; suara anak-anak itu, biar bagaimanapun, bergema sangat keras berlawanan dengan ketenangan yang menyelimuti. K Tidak merasa terganggu, tapi sebaliknya dia senang ada yang menganggu kesepian yang sering dialaminya.
Hari berikutnya K, merasa sangat bosan dan malas untuk memasak makan siang, dia memesan pizza. Pizza, yang datang dalam waktu 30 menit, rasanya terlalu banyak untuk K karena itu dia tidak memakan bagian lain dari pizza yang dipesannya. Biasanya dia menyisakan beberapa potong pizza itu untuk istrinya tapi kali ini dia teringat kepada anak-anak dilantai atas dan, ingin melakukan suatu kebaikan, akhirnya dia putuskan untuk mengatar pizza itu kepada mereka.
K tidak tahu siapa pemilik dari ruangan di atas, biar begitu dia menekan bel pintunya. Dia mendengar sesuatu dari dalam, tapi masih tidak ada jawaban. Dia menekan bel lagi. Dia merasa ada seseorang yang melihatnya lewat lubang pintu.
"Siapa itu?"
Suara orang yang terdengar sedang lemas terdengar dari balik pintu.
K menjelaskan dia dari ruangan dibawah mempunyai pizza sisa makan siang dan berniat untuk memberikan pizza itu kepada anak-anak diruangan itu. Pintu terbuka sedikit. Terlihat gelap yang tidak biasa didalam ruangan. Dari celah pintu sekitar 5 cm seorang wanita muncul, memperlihatkan setengah wajahnya. "Terima kasih banyak. Tapi kami tidak mau," Wanita itu menjawab dengan dingin. Terlalu gelap untuk melihat ekspresi wajahnya dengan jelas. Tiba-tiba K merasa sedang tidak berada didalam apartemen itu, biar bagaimanapun dia mencoba menjelaskan kepada wanita itu kalau dia ingin memberikan pizza itu untuk anak-anak.
Udara pelan berhembus keluar pintu. Dia mencium bau yang tidak biasa. Sesaat kemudian wajah dua orang anak kecil muncul dibawah wajah wanita itu. Pintu masih terbuka sedikit. Mata anak-anak yang redup menatap K. Tiga wajah itu berjajar dari atas kebawah.
"Baiklah.... kalau begitu.... aku terima kebaikanmu." Kata wanita itu. Ketika K mendekatkan kotak pizza itu dicelah pintu sebuah tangan keluar dan mengambil kotak pizza itu.
Tiga wajah itu masih menatap K.
"Terima kasih....."
Dia mendengar suara lemas itu lagi. K segera pergi dari tempat itu. Dia ketakutan. Disudut pikirannya dia merasakan ada sesuatu yang sangat tidak biasa. Gambaran dari wajah anak-anak itu meninggalkan tekanan dipikirannya. "Wajah....." dia merasa merinding. "Wajah itu.... berjejer satu baris..." Dia melangkah dengan cepat. K ingin segera kabur dari tempat itu secepat mungkin. Dia menunggu lift namun lift itu tidak kunjung datang. "Membentuk garis.... dengan vertikal..... diatasnya masing-masing..." Dia menekan tombol lagi dan lagi, tapi liftnya masih tidak datang. Dia berbalik dan pergi ke arah tangga darurat. Kepalanya berdenyut-denyut kesakitan. Dia mulai merasa mual.
Tepat ketika dia membuka pintu yang berat menuju tangga darurat, dia merasakan seseorang memperhatikannya dibelakang. Dia berbalik, dan sekilas, sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri, wajah yang sama menatapnya dari sudur koridor. Sama seperti sebelumnya, mereka hanya memperlihatkan setengah wajahnya dengan tatapan yang redup. Cahaya siang hari yang dingin berhembus dari jendela menerangi wajah mereka.
K segera berlari menuruni tangga, walaupun sedang sakit. Rasanya secepat apa dia berlari dia tidak akan pernah mencapai lantai dasar. "Wajah yang sejajar, diatasnya masing-masing...... mustahil..... itu berarti..... tidak ada tubuh.... dan seseuatu yang aneh kulihat dibalik wajah itu..... tangan.... memegang kepala - kepala itu...."
Dia berlari menuju toko terdekat dan meminta orang-orang disana untuk menelpon polisi. Polisi datang dan menggeledah ruangan itu. Polisi menemukan tubuh dari ibu dan anak-anak di bak mandi. Tubuh-tubuh itu sudah tidak berkepala lagi. Dan suaminya, yang menjadi tersangka pembunuhan itu, ditemukan bersembunyi di lemari pakaian - gila. Dia bersikeras menganggap kalau keluarganya masih hidup. Terlihat ketakutan tersirat dari matanya; polisi tidak tahu apa yang menyebabkan dia sangat ketakutan.
Tapi K tahu.

Maukah Kau Bermain Denganku?

Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan pengalamanku ini, tapi aku sudah terlalu lama menyimpannya sendiri. Tidak ada seorang pun yang tahu. Tapi, sekarang aku mempercayakannya padamu, untuk membaca ceritaku ini. Dan cobalah berusaha untuk memahami kengerian yang ku alami. Jari-jemariku berkerut dan gemetar, air mataku terus mengalir di pipiku ketika aku berusaha untuk mengetik tulisan ini.
Ketika itu adalah malam yang sangat biasa. Aku kelelahan, pekerjaan di kantor agak membuatku sedikit stres, dan aku sangat ingin tidur.
Tapi malam ini terasa agak berbeda.
Hembusan angin sepertinya terasa mengerikan. Langit terlihat lebih gelap. Ketika aku bersantai di sofa dan menonton acara favoritku, aku melihat bayangan seperti siluet berdiri di luar jendelaku, bayangannya terlihat dari tempat ku duduk. Aku mencoba fokus! Benar-benar memperhatikan sosok apakah itu.
Tapi tidak ada apapun selain kegelapan. Aku berfikir kalau aku hanya kelelahan saja. Pekerjaanku cukup banyak hari ini, itu saja.
Ketika acara favoritku sudah selesai, aku segara pergi tidur. Ketika aku berusaha untuk tidur, tiba-tiba terdengar deritan pintu kamarku. Aku mengabaikannya karena terlalu lelah untuk mengurus hal-hal konyol seperti itu. Tapi aku merasa seperti sesuatu memperhatikanku. Aku mencoba berpikiran positif karena aku sangat ingin tidur. Tapi kemudian, aku mendengar nafas yang berat dan pelan. Pertamanya, aku mengira itu adalah bunyi nafasku sendiri walaupun aku sedikit ragu akan hal itu. Jadi, aku mencoba menahan nafasku sebentar untuk membuktikannya.
Ternyata itu bukan nafasku.
Aku melompat bangun dan membuka mata. Mendadak tubuhku menjadi beku ketika aku melihat seseorang di sudut tempat tidurku. Seorang gadis kecil yang kira-kira berumur 6 tahun, berambut panjang yang hitam, dalam balutan gaun tidur berwarna putih. Dia menatapku tanpa berkedip dan tersenyum lebar. Dia mempunyai luka sayatan yang cukup dalam di wajahnya, tangannya yang diletakkannya disamping, terlihat penuh oleh sesuatu yang berwarna merah. Kami berdua duduk dan saling pandang beberapa waktu, sampai dia mengeluarkan jeritan yang menyeramkan. Saat itu, aku mencoba berlari menggapai pintu, tapi dia melompat ke arahku, menancapkan kukunya ke wajahku, matanya yang hitam hanya berjarak beberapa inci dari mataku dan terus menjerit dengan suara melengking. Suaranya kencang sekali, aku terus berontak dan sekuat tenaga menjauhkan dia dariku. Tapi akhirnya, kepalaku terbentur meja disamping tempat tidurku. Aku kehilangan kesadaran.
Aku terbangun dan mendapati diriku berada di basement yang kosong. Pakaianku masih lengkap, kecuali kaos ku. Aku berjuang untuk mendapatkan kembali keseimbanganku. Kulihat kepalaku sudah penuh dengan darah kering. Terdapat sayatan di lenganku yang bertuliskan “Maukah kau bermain denganku?”. Itu terasa sakit dan perih sekali.
Lalu aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku dengan persaan takut dan horor, dan aku melihat pintu besi dengan rembesan darah dibawahnya. Perlahan aku berjalan ke arah pintu itu. Sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis yang kutemui dikamarku tadi. Walaupun diselimuti ketakutan, aku akhirnya mendorong pintu itu dan masuk kedalam.
Dibalik pintu itu, aku melihat pemandangan yang menyeramkan. Aku melihat banyak mayat tergeletak di ruangan yang luas itu sampai jalan menuju tangga di sudut seberang ruangan. Mayat laki-laki, perempuan, anak kecil, dan beberapa mayat lainnya terbaring disana. Ada sayatan parah dilengan mereka yang bertuliskan sama dengan yang tertulis dilenganku “Maukah kau bermain denganku?”. Lalu aku memperhatikan mayat perempuan, yang tergeletak tidak jauh dari tempatku.
Leher wanita itu terkulai lemas, luka besar di perutnya menganga lebar. Ketika aku beranjak untuk lebih melihatnya lebih dekat, aku melihat truk pemadam kebakaran mainan di antara jeroannya yang hampir terburai. Aku tercekik karena ketakutan. Lalu, didekat mayat perempuan tadi, mayat seorang pria terbaring disana dengan matanya yang sudah mencuat keluar, disebelahnya terdapat pemukul baseball yang sudah patah tergeletak diatas genangan darah. Lalu ada anak kecil yang berbaring tak berdaya ditengah-tengah ruangan. Mulutnya terbuka lebar, dan terdapat truk mainan yang sepertinya dipaksa masuk ketenggorokannya, dadanya terbelah dan jantungnya tergeletak disebelah badannya dan ditempat dimana jantungnya seharusnya berada, terdapat sebuah boneka kecil. Serta banyak mayat-mayat lain yang tak tak sanggup aku lihat satu persatu.
Aku kehilangan kontrol dan muntah. Aku menangis ketakutan, tetapi tiba-tiba satu pikiran agak menggangguku, “dimana gadis itu?”
Aku sebenarnya tak ingin tahu dimana ia berada, tentu saja. Tapi aneh saja, setelah aku sampai ditempat ini, dia malah tidak terlihat lagi. Yang kutakutkan juga, dia ada disekitar sini menunggu untuk menyakitiku. Aku mulai berpikir untuk keluar dari basement ini, maka aku berjalan menuju anak tangga. Tapi kemudian, langkahku terhenti...
Ada nafas yang berat berhembus di belakangku.
Aku menoleh dengan takut-takut. Dan di belakangku, aku melihat gadis kecil itu. Kemudian dengan suara yang dalam, dia berkata, “Maukah kau bermain denganku?”
Dia mulai berteriak histeris lagi. Aku berbalik dan bersiap untuk berlari, tapi dengan sigap dia menangkapku. Kukunya yang setajam pisau mencakar punggung dan leherku. Aku berusaha melawan sekuat tenaga dan akhirnya aku berhasil menghempaskannya ke lantai.
Aku menaiki tangga dengan berlari ke arah pintu keluar diujung anak tangga tapi secepat kilat dia mendahuluiku dan menghalangi pintu. Kurasakan darah mulai mengalir di punggungku akibat cakarannya tadi. Dia menerkamku lagi, membuat kami terguling ditangga. Lalu aku menyiku mukanya, berusaha mendorongnya menjauh. Ketika dia hendak menendangku, aku menangkapnya. Matanya yang lebar dan hitam memandangku dengan tatapan liar dan ganas, kukunya mencakari mukaku yang terasa sudah hancur akibat cakarannya. Teriakannya memekakkan telingaku. Dia mengangkat tangannya dan tersenyum lebar sekali, lalu tangannya menusuk mataku.
Semuanya mendadak gelap.
Ketika bangun, aku sudah berada dirumah sakit, perban memenuhi tubuhku, juga mataku sebelah, tapi aku bersyukur aku masih bisa melihat. Seorang polisi berdiri diruanganku, sedang berbicara dengan dokter. Mereka menyadari aku telah bangun dan tersenyum padaku. Mereka menginformasikan padaku bahwa aku adalah satu-satunya korban yang selamat dari pembunuhan massal yang dilakukan oleh seorang pria yang berumur setengah baya, dan polisi telah mengamankan pelaku. Aku menceritakan pada mereka tentang gadis kecil yang kulihat, tetapi mereka berkata tak ada gadis kecil ditempat kejadian. Aku bersikeras, tapi mereka tidak mempercayaiku. Mereka hanya mengatakan kalau aku membutuhkan istirahat.
Dua minggu berlalu, dan aku sudah diperbolehkan pulang kerumah. Ketika aku keluar dari ruangan dan melewati ruang tunggu, aku melihat beberapa mainan berserak disana. Mobil pemadam kebakaran mainan, truk mainan, dan boneka. Tragisnya, didekat mainan itu, duduklah seorang gadis kecil berambut panjang dan memakai gaun putih, tersenyum manis padaku. Dan dengan suara yang dalam dia berkata, “Maukah kau bermain denganku?”

The Doll

Aku memberikannya sebuah boneka sebagai hadiah ulang tahun beberapa hari yang lalu. Dia sangat menyukainya, "boneka yang cantik" dia bilang. Dengan rambut yang lembut dan pakaian indah yang melekat ditubuhnya. dia hampir tak pernah berada terlalu jauh dari bonekanya. Disepanjang siang, dia akan mendudukannya dimeja jadi dia bisa selalu memandangnya selagi membersihkan rumah. juga ketika malam menjelang, dia akan meletakkannya tepat disamping ranjang, agar mata birunya yang besar dapat selalu mengawasi kami saat terlelap.
Tetapi rasa cinta istriku pada bonekanya perlahan berubah, aku menyadari sesuatu yang salah terjadi. Tentu aku sudah bertanya, tapi dia menolak menjelaskan pada awalnya, bilang padaku bahwa dia mungkin hanya berhalusinasi. Tapi istriku makin bertingkah aneh hari demi hari, aku sudah tak mampu menahannya. Aku terus memaksanya menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi atau aku akan membawanya ke dokter.
Akhirnya dia menyerah dan memberitahuku sambil terisak, dia bilang bonekanya membuat dirinya ketakutan. Dia juga bilang padaku bahwa dia seakan selalu merasa diperhatikan, dan suatu waktu dia mendapati bonekanya pernah bergerak sendiri.
Hal ini sungguh membuatku khawatir dan aku segera beranjak ke kamar untuk memeriksa bonekanya.
Aku melihatnya tergeletak di atas ranjang, dengan mata birunya yang menatap lurus. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat, bonekanya tidak bergerak. Tentu saja, itu hal yang sangat mustahil.
Aku hendak berbalik saat kulihat geliat kecil di sudut mataku, aku menoleh dan segera mengambil bonekanya, menatapnya lebih dekat.
Ada yang salah dimatanya.
Aku menajamkan pandanganku dan melihat lebih dekat.
Ya, ternyata memang ada gerakan, tapi bukan dari matanya, melainkan sesuatu yang menggeliat dibaliknya.
Sebelum aku sempat menyimpulkan sesuatu, sekitar sepuluh ekor belatung berjatuhan dari celah bola matanya. Aku sungguh terkejut dan menjatuhkan bonekanya kelantai, kemudian secara reflek mundur beberapa langkah.
Istriku bertanya apa yang sedang terjadi dari arah ruangan lain. Aku segera menyahut padanya untuk tidak perlu khawatir. Aku mengambil bonekanya lagi, kini dengan kain lap ditanganku untuk membersihkan belatung-belatungnya. Didalamnya aku melihat lebih banyak, bergerombol dan mencoba mencari jalan keluar.
Sudah kuduga yang ini memang tidak akan bertahan lama. Well, kurasa aku memang harus menjaganya tetap hidup untuk beberapa saat, dengan begitu mungkin akan lebih awet.
Saat aku membuang bonekanya, aku terus memikirkan tentang seringnya istriku bilang padaku bahwa dia sangat menyukai gadis kecil berambut pirang yang tinggal beberapa blok dari rumah kami. Bukankah ia juga memiliki mata biru yang indah ?
Kurasa kini aku tahu kejutan apa selanjutnya yang akan kuberikan pada istriku.

The Smiling Man

Hal ini terjadi sekitar lima tahun yang lalu saat aku masih tinggal di sebuah apartemen di kota besar, aku adalah seorang pengidap insomnia akut, jadi saat teman sekamarku sudah tidur, aku sering pergi keluar untuk menghabiskan waktu. berjalan sendirian di kegelapan malam, aku tidak punya alasan untuk merasa takut, sampai malam itu, malam yang mengubah hidupku untuk selamanya.
Saat itu hari Rabu, sekitar jam satu atau dua tengah malam, aku sedang berjalan menyusuri taman yang jaraknya lumayan jauh dari apartemen, malam begitu sunyi, tidak ada satupun kendaraan yang berlalu-lalang. jalanan benar-benar kosong.
Aku berbalik dan berjalan diatas trotoar, hendak kembali ke apartemenku, saat itulah pertama kali aku melihatnya diujung jalan.
Aku melihat siluet seorang pria, dan dia sedang menari. itu adalah tarian yang aneh, mungkin mirip waltz, dan dia mengakhiri setiap gerakan dengan sebuah hentakan kedepan, kurasa kau boleh membayangkan bahwa dia menari sambil berjalan, dan dia menuju tepat kearahku.
Awalnya kukira dia sedang mabuk, jadi aku melangkah kepinggir trotoar, memberinya cukup ruang untuk melewatiku, dia makin mendekat dan aku makin menyadari sosoknya yang sungguh aneh, tubuhnya begitu kurus dan tinggi semampai, serta mengenakan setelan yang ketinggalan zaman.
Dia terus menari dan mendekat sampai akhirnya aku mampu melihat wajahnya.
Kepalanya miring dengan garis yang tidak wajar dan matanya melotot menghadap langit, senyum lebar dan mengerikan tersungging di wajahnya, senyum yang hanya akan kau lihat di serial kartun. tatapan liar dan senyumnya yang tidak masuk akal sudah cukup membuatku bergidik dan segera menyebrang jalan menjauh darinya. aku tidak berhenti memperhatikannya saat sampai di sebrang jalan dan menghentikan langkahku. Dia tak lagi menari dan kini berdiri dengan salah satu kaki, menghadapku namun tetap melihat keatas. Tentu dengan senyum aneh yang masih merekah lebar.
Saat itu aku sudah sangat gugup, aku mulai berjalan namun tetap enggan untuk melepaskan pandanganku darinya. Saat aku telah mencapai jarak setengah blok, aku menoleh kedepan untuk beberapa saat, hanya untuk memastikan bahwa jalanan dan trotoar di hadapanku benar-benar lengang. Masih dalam keadaan gugup, aku berbalik kembali kearah pria tadi berdiri dan mendapati dirinya telah lenyap.
Aku sempat lega untuk beberapa saat... sampai aku melihatnya lagi, kali ini dia sudah ikut menyebrang, aku tak dapat melihatnya dengan jelas karena jarak kami sudah cukup jauh dan pekatnya gelap malam. Tapi aku sangat yakin dia sedang menatapku. tak lebih dari 10 detik aku mengalihkan pandanganku darinya, jadi sudah pasti dia bergerak dengan cepat.
Aku begitu terkejut saat itu hingga tak dapat bergerak, ketika dia mulai berjalan menuju kearahku lagi, dia mengambil langkah-langkah besar, seperti seseorang sedang berjinjit, namun dengan kecepatan tinggi.
Aku harus bilang bahwa semestinya aku kabur waktu itu, atau mengambil ponselku dan mulai menghubungi seseorang, tapi tidak. Aku hanya diam membeku menyaksikannya berjingkat kearahku.
Kemudian dia berhenti, sekitar sepuluh meter dariku, masih dengan senyumnya, masih melotot kelangit.
Ketika aku mendapatkan kendali atas tubuhku lagi, hal pertama yang kupikirkan ialah segera mengumpat padanya "Apa yang kau inginkan dariku heh?" Namun yang keluar dari mulutku lebih terdengar seperti rengekan.
Terlepas dari bisa atau tidaknya manusia mencium rasa takut, mereka bisa mendengarnya. dan aku mendengar rasa takut dari suaraku sendiri. dan itu hanya membuatku merasa lebih buruk.
Tapi dia tetap tidak bereaksi sama sekali. hanya diam berdiri, dengan senyum anehnya.
Lalu, setelah sekian lama, pria tersebut perlahan berbalik, kemudian mulai menari-menjauh dariku, entah mengapa. kali ini aku tak akan melepaskan pandanganku lagi darinya, sampai dia telah benar-benar jauh, menghilang diantara lampu-lampu jalan yang remang.
Kemudian aku menyadari sesuatu, dia tak lagi menjauh atau menari, aku menyaksikan dalam horor bayangnya yang semakin membesar dari kejauhan, dia kembali, dan kini berlari dengan kencang mengejarku.
Aku segera berlari secepat yang kubisa menuju ke penerangan yang lebih baik, menuju jalanan yang lebih ramai, saat aku menoleh kebelakang, aku tak melihatnya dimanapun. sepanjang jalan menuju apartemenku, aku terus menoleh kebelakang beberapa kali, masih merasakan sosoknya membuntutiku dari belakang dengan senyumnya yang mengerikan, tapi dia tidak pernah muncul.

Semenjak malam itu, aku tidak pernah lagi berjalan sendirian. ada sesuatu diwajahnya yang selalu menghantuiku hingga saat ini, dia tidak tampak mabuk, sorot matanya terlihat benar-benar gila. dan itu adalah hal yang sungguh menyeramkan.


source: https://m.facebook.com/CreepypastaIndonesia?refid=46

6 komentar:

  1. izin copas creepypastanya

    BalasHapus
  2. Cerita nya seru banget XD izin copas ya. Makasih

    BalasHapus
  3. Sampe cape baca nya tapi seru
    visit ya
    Dawnatic

    BalasHapus
  4. the smiling man, ngeri banget-___-

    BalasHapus
  5. Ceritanya seru pake banget!!! Blognya juga keren! Visit juga blog ku http://cecilianovawijaya.blogspot.com

    BalasHapus