Knock,
knock, who’s there?
Daratan tanah di daerah
sekitar La Ville, New Orleans begitu rendah dan becek sehingga mayat orang mati
harus dikubur di bawah tanah dengan dimasukan ke peti dari besi. Jika tidak
begitu, apabila sungai meluapkan bendungan, atau hujan badai membanjiri lahan,
kerabat tercintamu yang sudah mati mungkin saja akan menyembul ke atas tanah
dan petinya terseret arus mengunjungi rumahmu!
Dahulu kala di pinggir
sebuah jalan kecil tepi sungai dari arah La Ville, hidup seorang duda tua
dengan anak semata wayangnya yang ceria bernama Therese. Ibunya sudah meninggal
sehingga Therese hanya di asuh oleh sang ayah yang bersifat tamak, kikir dan
suka memperkerjakan putrinya seperti budak dengan baju kain perca.
Meskipun gadis ini
sudah mencapai usia untuk berumah tangga, ayahnya tak pernah memperbolehkan
siapapun meminangnya. Gadis ini sangat jarang bertemu orang lain kecuali si
ayah tuanya yang jahat.
Segala yang di
perdulikan pria tua itu hanyalah koin-koin emas yang dia simpan dalam regangan
papan di bawah kasurnya. Setiap malam dia mengunci pintu kamar, dan sibuk
menghitung setiap keping koin emasnya dalam keremangan cahaya lilin. Ia senang
akan bunyi gemerincing dan kilauan dan berat koin-koin itu di gengaman
tangannya.
Namun Therese yang
malang, begitu kesepian. Setiap malam gadis ini datang dan mengetuk pintu kamar
sang ayah, tok, tok. Kemudian sang ayahnya akan berteriak,
"Siapa itu?!"
"Papa, buka
pintunya," pinta gadis itu. "Ini saya, Therese. Papa, biarkan saya
masuk, saya ingin ngobrol. Saya kesepian."
Tetapi ayahnya hanya
akan berseru,
"Pergilah dan
kembali bekerja sana. Kau hanya ingin menyentuh emasku kan, jangan berharap
sebelum aku mati!"
Dan malam selanjutnya,
tok, tok, "Siapa itu?!"
"Papa, ini saya,
Therese. Saya sakit," rintihnya. "Papa, biarkan saya masuk..."
Lagi-lagi ayahnya hanya
berseru,
"Dasar anak
pemalas tak berguna! Pergilah. Kau tidak sakit. Jika kau cuma menginginkan uangku,
langkahi dulu mayatku!"
Lagi dan lagi Therese
mendatangi kamar sang ayah,
tok, tok. "Siapa
itu?!"
"Papa, tolong.
Papa, biarkan saya masuk. Saya sakit parah. Saya butuh obat. Saya mohon, Papa,
belikan obat untuk saya..."
Tok, tok. "Siapa
itu?!"
"Papa, tolonglah
saya. Sakitnya tambah buruk. Oh, papa, buka pintunya..."
Namun hati sang ayah
sedingin koin2 emas di tangannya. Hingga akhirnya tangisan si gadis memudar
dalam keheningan, dan ia... tak lagi mengetuk pintu. Si pria tua jadi
penasaran, maka diapun membuka pintunya. Diatas lantai beranda, terbaring tubuh
tak bernyawa Therese si gadis ceria.
Pria tua itu terlalu
kikir untuk membelikan peti besi bagi jenazah putrinya. Dia malah menempatkan
mayatnya di dalam sebuah peti kayu lapuk dan menguburnya di tanah becek dan
dangkal di bawah pohon cemara.
Para tetangga hanya
bisa menggeleng prihatin. Mereka sudah memperingatkan bahwa hal ini dapat
menimbulkan masalah. Bagaimana Therese yang malang bisa beristirahat dengan
tenang di makam semacam itu?
Tiga minggu pun berlalu
dan sebuah hujan badai datang menggulung daerah teluk itu. Angin menderu
dahsyat dan tetesan hujan deras sebesar jarum berjatuhan sembari badai melanda
daratan. Malam itu si pria tua sedang duduk di dalam kamarnya menghitungi koin
emas dalam temaram cahaya lilin. Di luar, angin mendesau dan menghunjami
genteng rumahnya dengan deras air hujan. Pria tua itu tak tahu kalau sungai
telah meluap sampai ke tepian dan menggenangi daratan dengan airnya yang
kehitaman. Dia masih terduduk di kursi goyangnya, dengan segengam koin emas di
telapak tangan, bergoyang dan menghitung,
"Ahh.. Satu, dua,
tiga..."
Terdengar suara kayu
lapuk membentur dan menggores beranda rumahnya.
Tok, tok, tok, pintunya
berbunyi.
"Siapa itu?!"
seru si pria tua.
Hanya suara hembusan
angin yang menjawab.
'mungkin itu benturan
dari daun pintu yang renggang.' pikirnya, lalu kembali menghitung koin.
"Satu, dua, tiga..."
Tok, tok, tok, ketukan
terdengar lagi, dan lebih keras.
"Siapa itu?!"
Hanya suara deru angin
yang menyahut. 'mungkin hanya anjing liar mencoba masuk,' pikirnya. Dan kembali
menghitung,
"Satu, dua,
tiga..."
Tok, tok, tok! Tiga
kali gedoran keras menghantam daun pintu.
"Siapa itu!"
Sayup-sayup terdengar
rintihan sedih dan pelan. Hawa dingin menjalari tulang punggung si pria tua.
"Badai memang
menakutkan," katanya pada diri sendiri. "Itu hanyalah tiupan angin
yang menerbangkan ranting dari pohon oak tua lalu membentur rumahku."
Namun rintihan itu
semakin kencang dan kencang dalam deru angin hingga berubah menjadi jeritan
yang memekakan.
"Papa, ini saya,
Therese! Biarkan saya masuk! Saya Therese papa!"
Tok, tok, tok!
"Papa, biarkan
saya masuk!"
Tok, tok, tok!
"Papa, biarkan
saya masuuuk...!!"
Bersamaan dengan
berlalunya mata badai, suara pekikan horor terdengar menyeruak dalam keheningan
mematikan di malam itu.
Tiga hari kemudian
banjir mulai surut. Para tetangga datang untuk memeriksa tempat kediaman si pria
tua. Saat mereka berkendara ke sana, mereka melewati pohon cemara dan melihat
bahwa banjir telah menghanyutkan segala hal di sana tak terkecuali peti Therese
karena makamnya telah kosong.
Mereka mengetuk pintu
belakang, namun tak ada jawaban. Cemas jika sesuatu yang buruk telah menimpa si
pria tua, maka mereka mendobrak pintunya.
Mereka mendapapati
jasad si tua telah kaku di atas kursi goyangnya, tubuhnya sedingin batu
kelereng, rambutnya berubah putih seperti salju. Raut horor menghiasi wajah
kakunya dengan mulut ternganga, dan matanya terbelalak menyiratkan gumpalan
teror tak terperi.
Di seberang ruangan,
daun pintu menggantung timpang seolah olah di gedor oleh sesuatu dengan begitu
kencangnya. Beberapa kaki dari pintu tergeletak peti kayu rusak yang tutupnya
agak membuka dan didalamnya terbaring mayat kisut Therese. Di dalam genggaman
tangannya yang hampir tak berdaging terdapat koin2 emas sang ayah, segurat
senyum tipis tersungging di bibirnya yang membusuk.
Dengan emas itu, para
tetangga membeli peti besi mengkilap untuk Therese, lalu memakamkannya di tanah
yang lebih layak. Namun uangnya tidak tersisa cukup banyak guna membeli jatah
peti untuk mayat si pria tua, jadi mereka memasukan jasadnya ke dalam peti dari
kayu pinus dan menguburnya di bawah pohon cemara.
Sejak saat itu, setiap
kali air sungai meluap ke daratan, arwah penasaran si pria tua akan
bergentayangan dan memperingatkan orang orang sekitar bahwa ketamakan itu
amatlah sangat berbahaya. Para penduduk sudah tahu jika arwah si pria tua
mengunjungi rumah mereka maka akan terdengar suara ketukan di pintu namun
setelah dibuka, tak ada siapapun di sana!
The Hobyahs
Alkisah hiduplah
sepasang kakek nenek dengan cucu perempuannya, mereka tinggal di sebuah rumah
yang terbuat dari batang pohon rami. si kakek memiliki seekor anjing kecil
bernama Turpie.
Suatu malam, para
Hobyah datang dan bilang,
"Hobyah, Hobyah,
Hobyah! kami datang untuk merobohkan gubukmu, memakan si kakek serta nenek, dan
menculik si anak gadis"
Namun Turpie terus
menyalak dan membuat para Hobyah lari terbirit-birit.
si kakek mengumpat,
"Turpie begitu berisik dan mengganggu tidurku, besok pagi aku akan
memotong ekornya"
Dan jadilah keesokan
harinya si kakek memotong ekor Turpie si anjing.
Malam berikutnya para
Hobyah datang kembali dan bilang
"Hobyah, Hobyah,
Hobyah! kami datang untuk merobohkan gubukmu, memakan si kakek serta nenek, dan
menculik si anak gadis"
Namun Turpie terus
menyalak dan membuat para Hobyah lari terbirit-birit.
Si kakek mengumpat
"Turpie begitu berisik dan mengganggu tidurku, besok pagi aku akan
memotong telinganya"
Dan jadilah keesokan
harinya si kakek memotong telinga Turpie si anjing.
Malam berikutnya para
Hobyah datang lagi.
"Hobyah, Hobyah,
Hobyah! kami datang untuk merobohkan gubukmu, memakan si kakek serta nenek, dan
menculik si anak gadis"
Namun Turpie terus
menyalak dan membuat para Hobyah lari terbirit-birit.
Si kakek mengumpat
"Turpie begitu berisik dan mengganggu tidurku, besok pagi aku akan
memotong kakinya"
Dan jadilah keesokan
harinya si kakek memotong kaki Turpie si anjing.
Malam selanjutnya para
Hobyah datang lagi,
"Hobyah, Hobyah,
Hobyah! kami datang untuk merobohkan gubukmu, memakan si kakek serta nenek, dan
menculik si anak gadis"
Kemudian mereka melihat
Turpie si anjing duduk didepan pintu.
"mereka
didalam" Turpie bilang.
"pintu kedua
dikiri, ayo tangkap mereka"
Mysterious
Woman on The Road
Pada suatu malam,
pasangan suami istri sedang dalam perjalanan dengan mengendarai mobil, saat
dari jarak jauh mereka melihat seorang wanita di tengah jalan, melambaikan
tangan dengan penuh ketakutan.
Sang istri memberitahu
suaminya untuk terus mengemudi karena mungkin bisa sangat berbahaya, tetapi
sang suami memutuskan untuk mengemudi secara pelan jadi dia tidak akan merasa
ragu tentang apa yang terjadi dan kemungkinan siapapun yang terluka.
Saat mereka semakin
dekat, mereka melihat seorang wanita dengan luka dan memar di wajahnya dan juga
di lengannya. Mereka kemudian memutuskan untuk berhenti dan melihat jika mereka
bisa membantu. Wanita yang penuh luka dan memar itu memohon bantuan dan
memberitahukan mereka bahwa dia mengalami kecelakaan mobil bersama suami dan
anaknya, bayi yang baru lahir, masih di dalam mobil yang terperosok ke parit
yang dalam.
Wanita itu memberitahu
mereka bahwa suaminya telah meninggal tetapi bayinya nampaknya masih hidup.
Sang suami yang dalam perjalanan itu pun memutuskan untuk turun ke bawah parit
itu dan mencoba untuk menyelamatkan bayi tersebut, dan dia menyuruh wanita yang
terluka itu untuk tetap disana bersama istrinya di dalam mobil.
Saat dia telah sampai
di bawah, dia melihat dua orang di kursi depan mobil itu tetapi dia tidak
mementingkannya dan mengambil bayi tersebut dengan cepat dan naik ke atas
kembali untuk memberikan bayi itu ke ibunya. Saat dia telah sampai ke atas, dia
tidak melihat wanita itu dimana mana dan menanyakan istrinya kemana wanita itu
pergi.
Istrinya berkata bahwa
wanita itu mengikutinya kembali ke mobil yang telah jatuh itu.
Saat sang suami turun
kembali untuk mencarinya, dia melihat dengan jelas bahwa pasangan suami istri
telah tewas, yang salah satunya tidak salah lagi adalah wanita yang telah
melambaikan tangan kepada mereka sebelumnya.
Smile
Sepupuku baru baru ini
pindah ke rumahku di Amerika dari Secunderabad, India. Saat di perjalanan
menjelajahi Amerika, kita berfoto – foto dan bertukar cerita cerita hantu dan
tertawa akan kemiripan dan perbedaan antara cerita hantu Amerika dan cerita
hantu India. Saat aku menanyakannya apakah dia pernah mengalami apapun yang
berhubungan dengan hal hal gaib, matanya terbelalak dan memalingkan matanya ke
jendela. Dan saat keheningan begitu terasa bagiku, dia menjawabnya dengan pelan
“Ya, beberapa. Salah satunya sangat menakutkan.”
“Saat aku sedang
menjalani tahun kedua kuliahku, aku tinggal di asrama perempuan. Aku
mendapatkan banyak teman disana. Kami semua sangat senang untuk bersekolah jauh
dari orang tua kami yang kolot. Berada di asrama itu sangat menyenangkan,
tetapi itu adalah gedung yang sangat sangat tua. Listrik hanya dipasang di
kamar kamar. Terkadang, lilin lilin ditaruh di sepanjang jendela jika penjaga
hadir, tetapi biasanya saat kamu meninggalkan kamar, kamu akan berhadapan
dengan lorong yang gelap gulita. Sudah lazim membangunkan seseorang jika kamu
ingin berjalan ke wc yang berada di ujung lorong. Kami semua mempunyai
ketakutan kekanak-kanakan akan berada sendirian di kegelapan.
Suatu malam, aku harus
menggunakan wc.
Pada saat itu sekitar
jam 4 dini hari.
Aku beranjak ke ranjang
temanku dan menepuk pundaknya. Dia langsung membuka matanya tepat setelah aku
menyentuhnya. Aku meminta maaf karena telah menggangunya, dan memberitahu nya
bahwa aku ingin buang air kecil. Dia tersenyum padaku dan lompat dari
ranjangnya. Di sepanjang jalan menyusuri lorong, dia tertawa dan menari. Aku
tidak bisa melihatnya sama sekali, gelangnya menggerincing bersamaan dengan
kencang dan bel di gelangnya berdenting dengan pelan. Itu sangat menenangkan
rasa takutku. Aku tertawa dan menggoyangkan pinggulku di sepanjang lorong
bersamanya, sangat lelah untuk meniru gerakan lengan yang rumit. Dia tidak
berbicara apapun padaku, dan kadangkala aku mendengar dia mendengungkan satu
dari lagu Bollywood kesukaanku. Kejadian yang sama terjadi lagi saat di sepanjang
jalan kembali ke kamar.
Aku bangun telat di
pagi harinya karena suara beberapa pria yang berada di ruangan kami. Mereka
mengerubungi ranjang temanku. Aku loncat dari tempat tidurku, bersiap untuk
melindungi temanku, saat aku menyadari mereka adalah para pengurus asrama
kampus. Aku mengintip lebih dekat. Mata temanku yang sudah tidak bernyawa
terfokus ke tempat tidurku; senyum yang sama di wajahnya. Bunuh diri.
Waktu kematian dia
adalah pada jam 11.30 pm, hampir 5 jam sebelum ku bangunkan dia.”
A
Close Call
Saat itu aku masih
berumur sekitar 10 tahun, aku punya seorang sahabat karib yang tinggal hanya
beberapa blok dari rumahku. suatu hari sepulang sekolah, aku datang kerumahnya
untuk mengajaknya bermain seperti yang biasa kami lakukan, keadaan rumahnya
begitu sepi saat aku sampai disana, kuketuk pintunya beberapa kali sambil terus
memanggil-manggil namanya, namun aku tidak mendapat jawaban.
Mobil milik ibunya
masih terparkir di garasi, jadi aku tahu dia tidak sedang pergi kemanapun.
"Hei ayo kita
bermain" panggilku sedikit berteriak. "Ayo keluar, aku tahu kau
didalam" dan tetap tidak ada jawaban, hal ini tak biasanya terjadi.
Aku mengintip lewat
jendela di teras, tidak terlihat seorangpun.
Aku memberanikan diri
membuka pintunya saat kudengar suara temanku berteriak
"Pergilah ! Menjauh
dari sini !"
Tiba-tiba, aku
mendengar jeritan keras disertai bunyi berdebum, aku begitu kaget dan langsung
berlari pontang-panting kembali kerumahku.
Esok harinya, aku
mendengar sebuah kabar mengerikan dari kakak kelas. mereka bilang sekelompok
pencuri telah berhasil membobol masuk kedalam rumah temanku hari sebelumnya.
temanku dan ibunya dibunuh ditempat.
Jika saja saat itu aku
masuk kedalam rumah, aku pasti juga ikut terbunuh, temanku dan ibunya sedang
bersembunyi ketika aku datang, ia sudah menyelamatkan nyawaku karena telah
memperingatkanku lebih dulu, namun dengan mengorbankan tempat persembunyiannya.
A
Rainy Day
Suatu hari, aku sedang
dalam perjalanan pulang kerumah dari kantor. aku keluar dari stasiun kereta
bawah tanah dan mendapati hujan turun dengan derasnya diluar. beruntung, aku
sudah membawa payung untuk berjaga-jaga. aku mulai berjalan kaki dan selang
beberapa saat kemudian, aku mulai merasakan sesuatu yang salah sedang terjadi.
Keadaan begitu mencekam
saat aku melangkah dijalanan gelap dibawah guyuran hujan. aku menyadari bahwa
setiap orang di sekitarku hanya diam berdiri, tak ada dari mereka yang memakai
payung. mereka benar-benar diam berdiri memunggungiku. semua menghadap kearah
yang sama. aku harus berjalan berbelok-belok untuk menghindari menabrak salah
satu dari mereka.
Ketika secara
tiba-tiba, sebuah taksi berhenti tepat di sisiku dan sang supir menurunkan kaca
jendelanya, lengannya menjulur keluar dan mengisyaratkan padaku untuk mendekat.
aku bilang padanya aku tidak butuh taksi, tapi dia terus berkata "cepat
naik! tak usah bayar!"
Si supir taksi
bersikeras memaksaku untuk menerima tumpangan gratis darinya. berhubung
orang-orang di jalan tadi sudah mulai membuatku takut, aku segera naik ke kursi
penumpang dibelakang dan kami beranjak pergi.
Sang supir menoleh ke arahku
dengan wajah pucat pasi.
"Kupikir aku
memang seharusnya menolongmu, kulihat kau berjalan sendirian seperti
menghindari banyak orang di jalanan yang lengang"
Father
In-Law
Alkisah seorang gadis
jepang menikah dengan seorang pria muda yang sangat dicintainya, namun karena
si pria belum memiliki rumah sendiri. mereka pun tinggal di rumah orangtua si
pria.
Ibu mertua si gadis
adalah orang yang ramah, ia selalu memperlakukan si gadis dengan baik layaknya
anak sendiri. berbanding terbalik, ayah mertuanya adalah sosok yang kejam, ia
sering berlaku kasar pada si gadis. ia begitu keras kepala dan egois sehingga
selalu menyusahkan setiap orang yang tinggal di rumah tersebut.
Ia menderita lumpuh dan
kini harus duduk di kursi roda, si ibu mertualah yang selalu melayani kebutuhan
kebutuhannya, si ayah mertua akan duduk di kursinya dan memerintahkan
orang-orang untuk menuruti segala kemauannya. setiap hari, ia selalu minta
dibuatkan semangkuk sup daging.
Beberapa bulan
kemudian, sang ibu mertua meninggal. dan gadis muda tadi terpaksa harus
mengurusi semua keperluan ayah mertuanya. tak perlu waktu lama, si ayah mertua
mulai mengomel akan ketidakbecusan si gadis merawatnya dan dan
membanding-bandingkannya dengan mendiang istrinya.
Setiap hari, saat si
gadis muda menyajikannya sup daging, ia akan mencoba sesendok dan
menyemburkannya kembali tepat di muka si gadis, kemudian melempar mangkuknya
kelantai dan berteriak "bukan seperti itu rasa sup daging! tidak bisakah
kau melakukan sesuatu dengan benar ?"
Si gadis muda harus
bertahan dengan bermacam-macam cacimaki yang dilontarkan ayah mertua padanya
dan perlahan mulai habis kesabaran. suatu hari, saat ia sedang membereskan
gudang, si gadis menemukan toples berisi racun tikus. ketika jam makan siang
tiba, ia merasa sudah tak tahan dengan kelakuan ayah mertuanya dan diam-diam
mencampur racun tikus tadi kedalam mangkuk sup daging yang sedang ia buat.
dengan senyum mengembang, ia menyajikannya pada si ayah mertua.
Ia menyaksikan sendiri
saat ayah mertuanya mulai melahap sup dengan rakus, sambil menjilati bibirnya,
si ayah mertua bilang
"Nah, itu baru
namanya sup daging, seperti yang biasa istriku berikan untukku"
There’s
something on the stairs
Saat aku masih kanak
kanak, aku selalu berlari menaiki anak tangga hingga yang paling atas secepat
yang ku bisa, seperti sejenis permainan yang bodoh. Well, aku masih berumur 5
atau 6 tahun pada saat itu. Aku tidak yakin, tapi aku tau aku masih sangat kecil
pada saat itu. Entah dari mana asalnya, suara dari tangga paling atas mulai
berbisik kepadaku. Suara itu menawarkan taruhan padaku, seperti… “ Aku bertaruh
satu sen, kamu tidak akan berhasil mencapai anak tangga paling atas.” Aku benar
benar tidak memikirkan itu terjadi pada waktu tertentu. Seperti yang ku bilang,
aku masih sangat kecil, jadi aku mungkin belum bisa berhitung. Ha. Aku
mengingat kembali pada saat aku duduk di tangga paling atas, berbicara dengan
suara itu, tentang taruhan, tentunya.
Akhirnya suara itu (itu
terdengar seperti suara bisikan seorang pria, bukan suaraku sendiri dari dalam
kepalaku) mulai bertaruh nyawaku. Bukannya bertaruh satu sen, dia berkata “Aku
bertaruh nyawamu, kamu tidak bisa berhasil menaiki tangga paling atas blah
blah.”
Sejak aku bertambah
usia suara itu pun mulai berhenti terdengar olehku. Aku benar benar sama sekali
tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Aku tidak pernah memberitahu siapapun…
SAMPAI suatu malam aku menginap di tempat kakak laki laki ku (Pada saat itu aku
berumur 18 tahun, dan dia berumur 22 tahun) dan kita bercerita tentang cerita
cerita seram. Entah apa yang kupikirkan, aku menceritakan “Suara dari atas
tangga” itu dan kakakku terdiam. Sebelum aku menceritakan hal hal tentang
taruhan, dia berkata “Apakah dia membuat taruhan denganmu?”
Kami berdua melihat ke
satu sama lain, ketakutan. Hal itu tentunya terasa menakutkan setelah kakakku
mengatakannya.
Banyak kejadian
kejadian aneh yang terjadi di keluarga ku pada jangka waktu itu di hidupku, dan
ibuku, seorang wanita yang sangat religius, berkata bahwa ada banyak “hantu” di
kehidupan kami pada waktu itu. Aku sama sekali tidak berpikir tempat kami
berhantu, ngomong ngomong, rumahku dibangun di akhir tahun 70’an dan semenjak
aku bertambah usia, Aku tidak pernah mengalami kejadian seperti itu lagi.
From
the mouth of babes
Saat kakak perempuan ku
lahir, orangtua ku pindah ke sebuah rumah kecil, dan di dalam rumah itu ruang
mencuci baju berada tepat di depan meja ruang makan. So kakakku sering terlihat
melambaikan tangannya, menatap, dan tertawa saat melihat ke ruangan itu.
Kebiasaan itu berlanjut untuk waktu yang lama dan disaat dia sudah bisa
berbicara, orangtua ku bertanya padanya siapa yang dia ajak bicara. Menanggapi
itu, dia menatap mereka dan berkata ‘seorang anak laki-laki’. Orangtua ku
meneruskan bertanya apakah anak laki-laki itu baik, dan mendengar itu, dia
terdiam sejenak dan menjawab ‘ya’. Setelah itu dia nampaknya bertambah usia dan
melupakan semua hal tentang itu dan yang membuat orangtua ku lega, dia hanya
menganggapnya teman khayalan. Mereka tidak pernah membahas hal itu setelahnya.
Saat aku lahir, aku melakukan kebiasaan yang sama dan saat aku sudah bisa
berbicara, orang tua ku bertanya padaku siapa yang telah aku ajak bicara. Aku
menjawab ‘Seorang anak laki-laki’. Mereka sekali lagi menanyakanku apakah anak
laki-laki itu baik dan aku mengatakan hal yang sama dengan kakakku, meskipun
sedikit berbeda. ‘Ya’, Jawabku. ‘Walaupun ku pikir dia berbohong.’
The
Wrong Parents
Saat aku masih kecil,
Aku biasanya terbangun di tengah malam dan masuk ke dalam kamar orangtua ku dan
tidur disamping ibuku. Suatu malam saat aku masih berumur 5 atau 6 tahun, aku
mengalami mimpi yang benar benar jelas dimana Aku terbangun ketakutan, dan
pergi ke kamar ibuku untuk tidur dengannya. Namun, saat aku masuk, ada sepasang
orangtua ku di atas kasur, dan sepasang orangtua yang serupa berbaring di
lantai. Menurut naluriku, aku tau di dalam mimpiku bahwa aku harus membangunkan
orangtua yang benar, karena orangtua yang salah adalah hantu. So kupilih
orangtua ku yang berbaring di lantai. Saat aku menghampiri orangtua ku yang
berbaring di lantai, mereka berdua membuka mata, dan di tempat dimana
seharusnya bola mata mereka berada, hanya terdapat cahaya merah terang yang berpijar.
Dan saat aku benar benar terbangun. Sangat ketakutan, aku tentunya berlarii ke
kamar orangtua ku untuk tidur disebelah ibuku.
Tadinya disana ada
sepasang orangtua ku yang berada di atas kasur, dan sepasang lagi yang
berbaring di lantai.
Aku benar benar
ketakutan.
“Pasangan kedua” dari
orangtua ku sebenarnya adalah tumpukan cucian yang belum terlipat. Tapi aku
tidak akan pernah melupakan ketakutan itu yang menghantui diriku yang masih
berumur 6 tahun.
Sorry
Mom
Ada seorang ibu yang
hidup di kota kecil di Spanyol bersama suaminya. Pasangan suami istri itu
mempunyai anak laki-laki yang selalu membuat onar,Federico. Kedua orang tuanya
selalu kecewa karena Federico selalu mebuat masalah di sekolahnya.
Suatu pagi, ibunya
membangunkan anaknya dan menyuruhnya untuk siap-siap ke sekolah. Saat dia gosok
gigi, ibunya membuatkannya sarapan. Setelah selesai sarapan, dia mengantarkan anaknya
untuk naik bis sekolah.
Beberapa jam kemudian,
ibunya sedang membersihkan rumah. Saat itu hampir jam makan siang saat ibunya
pergi ke ruang keluarga. Dia terkejut karena melihat anaknya duduk di kursi
dekat jendela, dan menatap keluar jendela.
"Federico!"
katanya marah. "Apa yang kau lakukan di rumah sekarang? Kenapa kau tidak
sekolah?"
Anaknya diam, lalu
menatap ibunya. Ibu itu menyadari kalau ada darah di kepala anaknya.
"Federico, kenapa
kepalamu berdarah?" tanyanya.
"Aku minta maaf, Ibu..."
jawab anaknya.
"Apa kau berkelahi
lagi?" tanya ibunya. "Apa gurumu menyuruhmu pulang?"
"Aku minta maaf,
Ibu..." jawab Federico pelan.
"Aku tidak mau
dengar alasanmu." kata ibunya marah. "Pergi ke kamarmu! Saat ayahmu
sudah pulang, dia kan menghukummu."
Anak itu menunduk dan
naik ke tangga menuju kamarnya. Ibunya menghela nafas sedih. Lalu, teleponnya
tiba-tiba berdering. Ibu itu segera mengangkatnya.
"Halo." kata
sebuah suara di seberang telepon."Bisakah aku bicara dengan ibu
Federico?"
"Siapa ini?"
tanya ibu itu.
"Ini kepala
sekolah."
"Oh, tidak."
kata ibu itu menghela nafas. "Apa yang dilakukan setan kecil itu
sekarang?"
"Aku tidak tahu bagaimana
harus mengatakan ini." kata kepala sekolah. "Pagi ini, Federico naik
ke atap sekolah..."
"Aku disini
meminta maaf atas kelakuannya." jawab ibunya. "Aku bisa meyakinkanmu
saat ayahnya sudah pulang, dia akan mendapat hukuman."
"Tidak, kau tidak mengerti."
jawab kepala sekolah. "Federico melompat dari atap sekolah dan kepalanya
terbentur aspal..... aku sangat minta maaf...... dia langsung meninggal..."
Ibu itu menjatuhkan hp
nya. Mataya berkaca-kaca. Dia langsung berlari menuju tangga dan langsung masuk
ke kamar anaknya. Kamarnya kosong.
The
Picky Eater
Picky Eater adalah
sebuah kisah menyeramkan tentang seorang pria yang menikahi seorang wanita muda
yang wajahnya belum pernah ia lihat sebelumnya. setelah hari pernikahan, ia
menyadari bahwa sang istri jarang menyantap makanan dan memutuskan untuk
mencari tahu penyebabnya. diangkat dari cerita rakyat Arab kuno dengan judul
"The Tale of Sidi Nouman" dari dongeng 1001 Malam.
Alkisah hiduplah
seorang pria muda bernama Sidi Nouman yang berasal dari keluarga Muslim kaya
raya. sudah tiba saat baginya untuk menikah, namun ia belum bertemu dengan si
calon pendamping. pada zaman tersebut, segala hal yang berhubungan dengan
pernikahan diatur oleh orangtua. malah, ia belum pernah melihat secara langsung
wajah si pengantin wanita. sudah menjadi tradisi bahwa setiap wanita disana
harus menutupi wajah mereka dengan kerudung sampai hari pernikahan tiba. yang
Sidi tahu hanyalah bahwa si pengantin wanita bernama Amina.
Ketika pernikahan
selesai dilangsungkan, Sidi pulang kerumah bersama sang pengantin baru. ia
begitu penasaran seperti apa rupa istrinya nanti.
Didalam kamar, Amina
melepaskan kerudungnya dan Sidi sungguh terkejut sekaligus lega melihat betapa
cantiknya wajah Amina. dengan rasa bahagia yang begitu menggebu, ia menggenggam
tangannya dan memeluk sang istri erat.
Keesokan harinya, Sidi
dan Amina duduk bersama di meja ruang makan, para pelayan telah menyajikan
bermacam hidangan lezat. namun begitu, saat Sidi mulai menyantap makanannya, ia
menyadari bahwa sang istri tidak memakan apapun.
Ia melihat Amina meraih
sebuah sendok kecil dan mulai mengambil butir demi butir nasi. setelah
memakannya, Amina meminta izin untuk meninggalkan meja makan.
Hari-hari berikutnya,
saat mereka makan bersama, Amina hampir tidak menyentuh apapun, kadang ia akan
mengambil remah-remah roti dan kemudian pergi, bilang bahwa ia sudah kenyang.
perilaku anehnya ini membuat Sidi sungguh khawatir.
Suatu malam, ketika
Amina mengira bahwa Sidi telah tertidur lelap, pelan-pelan ia beranjak dari ranjang,
Sidi hanya sedang berpura-pura tidur saat ia menyadari bahwa istrinya tiba-tiba
terbangun, ia menaruh curiga. ia menutup matanya dan terus mendengarkan saat
Amina diam-diam memakai baju lalu berjingkat keluar dari kamar.
Sidi kemudian bangun
dan segera mengenakan jubahnya. mengintip dari jendela, ia melihat Amina
berjalan keluar dari rumah, Sidi lalu berlari ke pintu depan dan mengikutinya
dari belakang.
Dibawah remang sinar
rembulan, Sidi membuntuti Amina menuju pekuburan terdekat.
Saat itu tengah malam
dan pemakaman begitu sepi.
Sidi menyembunyikan
dirinya diantara pepohonan dan terus mengawasi, ia sangat terkejut ketika Amina
masuk kedalam pemakaman dan menemui seorang lelaki asing yang tengah duduk
diatas salah satu batu nisan. Sidi terlalu jauh untuk mendengar percakapan
mereka.
Amina dan si lelaki
asing kemudian bersama-sama menggali makam yang masih basah dan menaikkan peti
matinya, Sidi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat mereka menarik
mayat yang mulai membusuk keluar dari peti dan memotongnya menjadi beberapa
bagian, hal yang tak disangka pun terjadi, mereka mulai merobek dan menggigit
dengan rakus layaknya hewan buas. Sidi menyaksikan dengan gemetar dan jijik
saat istri tercintanya menggerogoti daging-daging busuk dengan lahap.
Ketika mereka telah
menyelesaikan "santapannya”, Amina dan si orang asing melemparkan
tulang-belulang yang tersisa kambali kedalam lubang, kemudian menimbunnya
dengan tanah. Sidi masih sulit percaya akan apa yang ia lihat, ia berlari
kembali ke rumahnya dan naik keatas ranjang. berpura-pura tertidur nyenyak saat
istrinya masuk ke kamar. Amina melepaskan pakaiannya dan pelan-pelan berbaring
di sebelah Sidi, sama sekali tidak menyadari bahwa rahasianya telah terungkap.
Sidi Nouman tidak bisa
tidur sepanjang malam sampai ketika pagi menjelang, ia meninggalkan rumah juga
Amina yang masih terlelap. ia pergi ke kota dan mengunjungi si peramal untuk
bertanya apa yang harus ia lakukan. ia menceritakan pernikahannya, perilaku
Amina yang ganjil, dan pemandangan mengerikan yang ia lihat tadi malam kepada
si peramal.
"Istrimu adalah
iblis" kata si peramal "Salah satu dari arwah-arwah jahat yang
berkeliaran di dunia, mereka tinggal di tempat tempat yang telah ditinggalkan,
berburu para pengembara yang lengah untuk memakan dagingnya, dan jika mereka
tak dapat menemukan yang bernyawa, mereka akan bertahan hidup dari tubuh-tubuh
yang telah mati"
"Apa yang bisa aku
lakukan?" tanya Sidi berlinang airmata "Tolong beritahu aku"
Sang peramal
memberikannya sebuah botol kecil penuh cairan.
"Bawa ini dan
pulanglah" dia bilang. "Ketika tiba waktunya, siramkan ramuan ini di
matanya dan kau akan melihat apa yang harusnya kau lihat..."
Sidi pulang kerumah
diwaktu makan malam dan sang istri disana untuk menyapanya, mereka duduk di
meja makan dan menunggu para pelayan untuk menyajikan hidangan.
Seperti biasa, Amina
meraih sendok kecil dan mengambil beberapa butir nasi dan memakannya.
"Ada apa
Amina?" tanya Sidi pelan "Apa ada sesuatu yang salah dari makanan ini
?"
"Tidak, aku hanya sedang
tidak lapar" jawab Amina
"Mungkin ada
sesuatu yang lain yang ingin kau makan"
Sidi bilang dengan
senyum kecil di wajah.
"Aku tahu memang
tak ada yang lebih nikmat dari daging mayat yang telah membusuk"
Tak butuh waktu lama
setelah Sidi mengucapkan kata-kata tersebut, Amina bangkit dari kursinya,
wajahnya berubah mengerikan dan matanya memerah seperti hendak melompat keluar,
giginya bergemeretak penuh amarah. ia melompat keatas meja dan mencoba mencekik
Sidi. namun Sidi terlalu cepat menghindar.
Sidi membuka tutup
botolnya dan menyiramnya tepat di mata Amina, Amina yang terkasih menjerit
keras saat wajahnya berubah menghitam dan kulitnya mengeluarkan asap. Sidi
menyaksikan dengan ngeri saat wajah Amina yang cantik perlahan meleleh. ia
jatuh berlutut dilantai dan tubuhnya kini sudah tak berbentuk.
Saat semua telah
berakhir, yang tersisa hanyalah gumpalan lumpur hitam pekat dimana Amina selama
ini menyembunyikan sosok aslinya.
Kamera
Video
Kamera Video adalah
sebuah cerita menakutkan tentang seorang mahasiswa yang meyakini dirinya sedang
dibuntuti oleh seseorang. dia lantas meninggalkan sebuah kamera perekam di
kamarnya untuk mengetahui siapa orang tersebut.
Beberapa tahun yang
lalu, seorang pemuda bernama Bryan baru saja masuk ke sebuah perguruan tinggi.
dia tidak memiliki cukup uang untuk tinggal dalam asrama kampus, jadi dia
menyewa sebuah apartemen untuk dirinya sendiri di kota itu.
Setelah tinggal di sana
dalam beberapa hari sendiri, dia menyadari ada beberapa hal yang aneh. sering
terjadi, ketika dia baru saja pulang dari kampus, tirai kamarnya selalu
tertutup padahal dengan jelas dia mengingatnya meninggalkan tirai itu dalam
keadaan terbuka pada pagi harinya. di kesempatan lainnya, beberapa
barang-barang miliknya terlihat sudah dipindahkan bahkan hilang – tak pernah
ditemukan.
Kejadian-kejadian aneh
ini mulai menakuti Bryan, jadi pemuda tersebut mencoba menceritakan hal ini
kepada teman-temannya, Trisha dan Alex. Mereka bertemu di kedai terdekat dan
setelah menyeruput kopinya, dia mulai menceritakan semua hal-hal aneh yang
disadarinya.
“Mungkin saya hanya
sedang paranoid,” kata Bryan. “Tapi saya benar-benar curiga bahwa seseorang
telah merangsek masuk ke dalam apartemenku di siang hari, ketika saya masih di
kampus dan …”
“Dan apa?” potong Alex.
“Merubah tirai jendela dan memindahkan barang-barangmu? Siapa yang begitu gila
hanya melakukan itu?”
“Ini memang terdengar
gila, tapi mungkin saja seseorang sedang mengintaimu.” kata Trisha. “Itu
mungkin saja. Dan jika ini benar, saya rasa menghubungi polisi adalah jalan
yang terbaik.”
“Apa yang polisi bisa
lakukan?” tanya Alex. “Mereka tidak akan menghabiskan waktu hanya untuk menjaga
apartemenmu. Di samping itu, tidak ada bukti kerusakan pada barang-barang.
Tidak ada tanda-tanda seseorang mendobrak masuk. Singkatnya, kau tidak memiliki
bukti.”
“Jadi apa yang bisa
kulakukan?” tanya Bryan. “Saya tak tahu harus berbuat apa.”
“Saya tahu apa yang
bisa menenangkan pikiranmu.” usul Trisha. “Mudah saja. Taruh sebuah kamera
video di kamarmu, dan tetap nyalakan ketika kau keluar ke kampus. Jika benar
kau memiliki penguntit, kau bisa menunjukkan rekamannya nanti ke polisi sebagai
bukti.”
“Kau tahu, itu adalah
sebuah ide bagus.” kata Bryan.
“Dan jika kau
benar-benar hanya paranoid atau gila, kau bisa menunjukkannya kepada psikiater.”
ledek Alex.
Malam itu, Bryan
meminjam kamera video Trisha dan membawanya ke rumah. Pada subuh-subuh sekali
esok paginya, dia menyembunyikan kamera itu di bawah beberapa laci mejanya.
Sebelum dia pergi ke kampus, dia menekan tombol rekam dan meninggalkannya tetap
menyala.
Sepanjang hari itu,
ketika dia duduk dalam bangku kuliah, pemuda ini sudah melupakan tentang kamera
video itu. Tapi akhirnya dia mengingatnya ketika sudah sampai di rumah dan
masuk ke kamarnya.
Mengambil kamera itu
dari tempat persembunyiannya, dia menekan tombol berhenti. Lalu mengambil
ponselnya dan menghubungi temannya.
“Hey, Trisha.” katanya.
“Saya baru saja pulang. Saya akan menonton videonya.”
“Keren.” kata Trisha.
“Jangan tutup teleponnya. Beritahu saya jika kau melihat sesuatu.”
Dia menekan tombol
play-nya dan menonton rekaman video itu dari layar kecilnya. Dia melihat
dirinya berjalan meninggalkan kamarnya untuk ke kampus pada pagi hari dan
menutup pintunya. Lalu, tidak ada apa-apa yang terjadi. Dia menekan tombol
untuk mempercepat dan menyaksikan seluruh rekaman itu. Ruangan itu benar-benar
kosong.
“Masih tidak ada
apa-apa.” katanya.
“Saya sudah bosan
menunggu,” timpal Trisha. “Tapi, acara televisi sedang buruk jadi tidak ada
yang bisa ku tonton.”
“Ya Tuhan!” jerit Bryan
memencet tombol play secara bersamaan.
“Apa? Ada apa?” tanya
Trisha bersemangat.
“Pintunya terbuka!” kata
Bryan. “Itu seorang wanita …”
“Apa yang
dilakukannya?” tanya Trisha.
“Hanya berdiri di sana
… menutup pintu … dan berjalan kesana-kemari …”
“OMG! Aneh sekali!
Bagaimana rupa wanita itu?”
“Saya tidak bisa
melihat wajahnya … Rambut panjang, hitam, tipis … dengan pakaian sobek-sobek …”
“Kau mengenalnya?”
“Tidak, saya tidak
mengenalnya sama sekali … Dia membawa sebuah pisau … Pisau dapur yang besar …
Dia berjalan melewati tempat sampah … Sekarang, dia mengambil pakaianku dan
merobek-robeknya.”
“Ugh! Gila! Ada apa
dengannya?”
“Dia berjalan ke kamar
kecil sekarang … Dia masuk ke sana.”
“Segera percepat dan
lihat apa yang dilakukannya lagi.”
Bryan memperhatikan
layarnya dengan seksama beberapa saat, tapi ruangan itu tetap kosong.
“Kau tahu apa artinya,”
kata Bryan. “Sekarang saya punya bukti ini dan saya bisa ke kantor polisi agar
mereka menjagaku.”
“Saya tahu,” kata
Trisha. “Mereka pasti melakukan itu.”
“Alex pasti gila kalau
melihat ini.”
“Pasti. Dia tidak
percaya ceritamu. Cuma saya yang percaya.”
“Saya tahu. Kau memang
teman yang baik … Ya Tuhan!”
“Apa? Apa?”
Bryan menekan tombol
play kembali.
“Pintu depan terbuka
lagi.” kata Bryan.
“Siapa itu?” tanya
Trisha.
“Oh, bukan apa-apa.”
jawab Bryan. “Itu hanya saya yang pulang dari kampus.”
Dia menyaksikan dirinya
sendiri di layar, sedang mematikan kamera.
“Ayo ke kantor polisi
sekarang,” kata Trisha. “Saya akan ikut denganmu. Kita bisa menunjukkan video
itu.”
“Ok. Saya akan
menemuimu di jam makan malam 15 menit lagi.” kata Bryan mengambil kamera video
itu.
“Ok … tapi tunggu
dulu.” kata Trisha. “Kau bilang dia masuk ke kamar kecil. Apakah dia pernah
keluar? Bryan, apakah dia pernah keluar?!”
Bulu kuduk Bryan
tiba-tiba berdiri. Di belakangnya, dia mendengar pintu kamar mandinya menyeret
terbuka.
“Bryan! Keluar dari
sana!” teriak Trisha di telepon, tapi sudah terlambat. Teleponnya mati. Dan
ketika dia mencoba menghubunginya kembali, tidak ada jawaban.
Petang itu, polisi
menemukan tubuh tak bernyawa mahasiswa 18 tahun itu terbaring di atas genangan
darahnya sendiri – tertikam sebanyak 21 kali. Kamera video masih tergenggam
erat di tangan kaku dan dinginnya. Ketika polisi memeriksa kamera itu, kartu
memorinya sudah hilang.
Tidak ada satupun jejak
wanita itu pernah ditemukan.
Sekarang, mungkin saja
dia bersembunyi di kamar mandimu.
Small
Notebook
Hari pertama:
Halo! Namaku Sarah! Aku
baru saja mendapat buku diary baru dari hadiah ulang tahunku. Aku suka mamaku. Kadang-kadang
dia menjadi sangat baik. Dia selalu membelikanku hadiah. Saat aku berbicara
pada bonekaku, mama menyuruhku berhenti. Dia bilang tidak baik untuk punya
teman imajinasi. Itu membuatku sedih. Itu juga membuat bonekaku sedih. Aku
harus bergegas membantu mama menyiapkan makan malam. Sampai jumpa besok!
Hari kedua:
Saat aku bangun pada
pagi hari, ada seorang anak laki-laki di sudut kamarku. Awalnya aku ketakutan,
tapi dia mendekat ke ranjangku dan mengatakan kalau dia teman baruku. Dia
senang melihatku bermain di halaman rumahku. Aku suka teman baruku. Dia bilang
namanya Thomas tapi aku boleh memanggilnya Tommy. Dia punya bekas sayatan di
wajahnya. Aku bertanya dimana dia mendapatkan bekas sayatan itu dan dia jawab
dari mamaku. Itu membuatku sangat marah pada mama.
Hari ketiga:
Tommy datang lagi. Kami
bermain boneka dan aku bertanya padanya darimana dia berasal. Dia berkata dia
tinggal di dalam lemariku. Itu lucu. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Tommy adalah teman baru terbaikku! Aku bertanya dimana dia sekolah. Dia
menjawab dia tidak sekolah. Aku menawarkannya untuk ikut ke sekolah bersamaku
besok dan dia mengiyakannya.
Hari keempat:
Tommy tidak ke sekolah
bersamaku hari ini karena mamaku tidak mengijinkannya. Aku memaksanya untuk
mengijinkan Tommy ikut tapi jawabannya tetap tidak. Aku bertanya pada mamaku
kenapa Tommy tidak boleh ikut dan dia bilang Tommy tidak nyata. Itu membuat
Tommy marah. Tommy mengatakan padaku kalau dia akan menemuiku saat jam makan
siang. Tommy benar-benar baik! Aku tidak sabar untuk menemuinya.
Aku mengatakan pada
guruku kalau Tommy akan menemuiku, dia tertawa dan mengatakan padaku bahwa dia
tidak nyata. Itu membuatku sedih. Aku bilang padanya tentang bekas sayatan di
wajah Tommy dan guruku mulai cemas. Aku tidak mengerti kenapa semua tidak
menyukai temanku Tommy. Dia teman terbaikku! Aku pergi ke tempat ayunan dan
melihatnya duduk menungguku. Dia mengatakan kalau mamaku sangat lelah dan dia
sudah tertidur. Tommy bertanya padaku siapa saja yang sudah berbuat jahat padaku.
Aku memberitahunya kalau guruku menganggap Tommy tidak ada. Itu membuat Tommy
sangat marah. Tommy berkata akan menjagaku. Aku bermain di ayunan selama
beberapa saat. Saat bel sekolah berbunyi, dia berkata akan menemuiku di rumah.
Aku tidak sabar saat sekolah berakhir!
Hari keenam:
Aku tidak melihat
mamaku sejak pulang sekolah. Beberapa polisi datang dan bertanya pada papaku.
Mereka ingin tahu dimana mamaku. Aku ingin memberitahu mereka kalau mama sedang
tertidur tapi Tommy menyuruhku untuk diam. Dia juga berkata kalau guruku sedang
tertidur dan dia tidak mau siapapun untuk membangunkannya. Aku bertanya padanya
apakah guruku sudah percaya padanya sekarang. Dia bilang guruku percaya. Itu
membuatku sangat senang! Tommy berkata kalau papaku orang bodoh karena memanggil
polisi. Aku bilang kalau aku menyukai papa. Tommy bilang kalau papa tidak
menyukaiku. Aku sangat sedih. Tommy berkata hidup penuh dengan kesedihan dan
orang akan senang jika mereka ingin tidur.
Hari ketujuh:
Tommy membangunkanku
dan mengatakan kalau papa sudah tertidur. Dia ingin menunjukkanku sesuatu. Aku
segera berpakaian dan kami berjalan ke belakang rumahku. Dia berkata kalau mama
dan papaku sedang tertidur jadi aku harus hati-hati. Aku melihat-lihat
sekelilingku tapi tidak menemukan mereka. Tommy mengambil ranting dan menunjuk
ke tanah dan mengatakan kalau mama dan papaku ada di bawah sana. Aku bertanya
kenapa mereka tidur disana. Tommy menjawab kalau disana tempat terbaik untuk
tidur. Lalu dia mengambil ranting lagi dan menunjuk sebuah lubang. Dia
menyuruhku untuk tidur disana juga. Aku bilang tidak mau, aku ingin tetap
terbangun. Itu membuatnya marah. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Tommy
jadi menakutkan bagiku. Aku tidak berpikir kalu Tommy bukan teman yang baik.
Hari kedelapan:
Halo, ini Tommy! Sarah
tidak bisa melanjutkan menulis diary ini, jadi aku menyelesaikan tulisan ini
untuknya. Ini akan jadi tulisan yang terakhir.
Sarah sangat mengantuk
jadi aku menaruhnya di sebelah mama dan papanya. Dia bilang aku menyakitinya
dan dia meronta-ronta dan berteriak, tapi setelah teridur, dia tidak membuat
suara lagi.
Tanah adalah tempat
terbaik untuk tidur! Itu adalah tempat anjingku tidur! Itu adalah tempat
keluargaku tidur! Itu adalah tempat Sarah dan orang tuanya tidur! Itu adalah
tempat guruku, Ms. Susie tidur! Itu adalah tempat sahabatku, Hailey, Rebecca
dan George tidur! Itu adalah tempat aku tidur!
Anak-Anak
di Lantai Atas
Seorang pria (kita
panggil saja dia dengan "K") terluka karena sebuah kecelakaan mobil
dan memutuskan untuk beristirahat dirumah untuk beberapa minggu. K sudah
menikah namun isterinya juga masih bekerja, jadi dia sendirian dirumah
sepanjang hari. Untuk hari-hari pertama dia menikmati kebebasannya, namun
ketika sampai dihari ketiga dia mulai bosan. Dia harus tetap dirumah karena
cedera yang dialaminya membuatnya tidak bisa kemana-mana.
Lalu suatu hari lewat
jam makan siang dia menonton TV sembari melamun dia mendengar suara derap
langkah yang keras dan suara anak kecil dari lantai atas. Dia tidak terlalu
peduli pada hal itu, terlebih karena dia pikir anak-anak itu sedang liburan
sekolah. hari berikutnya dia mendengar suara anak-anak lagi, pada waktu yang
sama dihari yang lalu. Terdengar kalau ada dua orang anak kecil diatas sana.
Tempat tinggak K adalah sebuah apartemen besar namun selalu sepi setiap hari;
suara anak-anak itu, biar bagaimanapun, bergema sangat keras berlawanan dengan
ketenangan yang menyelimuti. K Tidak merasa terganggu, tapi sebaliknya dia
senang ada yang menganggu kesepian yang sering dialaminya.
Hari berikutnya K,
merasa sangat bosan dan malas untuk memasak makan siang, dia memesan pizza.
Pizza, yang datang dalam waktu 30 menit, rasanya terlalu banyak untuk K karena
itu dia tidak memakan bagian lain dari pizza yang dipesannya. Biasanya dia
menyisakan beberapa potong pizza itu untuk istrinya tapi kali ini dia teringat
kepada anak-anak dilantai atas dan, ingin melakukan suatu kebaikan, akhirnya
dia putuskan untuk mengatar pizza itu kepada mereka.
K tidak tahu siapa
pemilik dari ruangan di atas, biar begitu dia menekan bel pintunya. Dia
mendengar sesuatu dari dalam, tapi masih tidak ada jawaban. Dia menekan bel
lagi. Dia merasa ada seseorang yang melihatnya lewat lubang pintu.
"Siapa itu?"
Suara orang yang
terdengar sedang lemas terdengar dari balik pintu.
K menjelaskan dia dari
ruangan dibawah mempunyai pizza sisa makan siang dan berniat untuk memberikan
pizza itu kepada anak-anak diruangan itu. Pintu terbuka sedikit. Terlihat gelap
yang tidak biasa didalam ruangan. Dari celah pintu sekitar 5 cm seorang wanita
muncul, memperlihatkan setengah wajahnya. "Terima kasih banyak. Tapi kami
tidak mau," Wanita itu menjawab dengan dingin. Terlalu gelap untuk melihat
ekspresi wajahnya dengan jelas. Tiba-tiba K merasa sedang tidak berada didalam
apartemen itu, biar bagaimanapun dia mencoba menjelaskan kepada wanita itu
kalau dia ingin memberikan pizza itu untuk anak-anak.
Udara pelan berhembus
keluar pintu. Dia mencium bau yang tidak biasa. Sesaat kemudian wajah dua orang
anak kecil muncul dibawah wajah wanita itu. Pintu masih terbuka sedikit. Mata
anak-anak yang redup menatap K. Tiga wajah itu berjajar dari atas kebawah.
"Baiklah.... kalau
begitu.... aku terima kebaikanmu." Kata wanita itu. Ketika K mendekatkan
kotak pizza itu dicelah pintu sebuah tangan keluar dan mengambil kotak pizza
itu.
Tiga wajah itu masih
menatap K.
"Terima
kasih....."
Dia mendengar suara
lemas itu lagi. K segera pergi dari tempat itu. Dia ketakutan. Disudut
pikirannya dia merasakan ada sesuatu yang sangat tidak biasa. Gambaran dari
wajah anak-anak itu meninggalkan tekanan dipikirannya. "Wajah....."
dia merasa merinding. "Wajah itu.... berjejer satu baris..." Dia
melangkah dengan cepat. K ingin segera kabur dari tempat itu secepat mungkin.
Dia menunggu lift namun lift itu tidak kunjung datang. "Membentuk
garis.... dengan vertikal..... diatasnya masing-masing..." Dia menekan
tombol lagi dan lagi, tapi liftnya masih tidak datang. Dia berbalik dan pergi
ke arah tangga darurat. Kepalanya berdenyut-denyut kesakitan. Dia mulai merasa
mual.
Tepat ketika dia
membuka pintu yang berat menuju tangga darurat, dia merasakan seseorang
memperhatikannya dibelakang. Dia berbalik, dan sekilas, sekitar 10 meter dari
tempatnya berdiri, wajah yang sama menatapnya dari sudur koridor. Sama seperti
sebelumnya, mereka hanya memperlihatkan setengah wajahnya dengan tatapan yang
redup. Cahaya siang hari yang dingin berhembus dari jendela menerangi wajah mereka.
K segera berlari
menuruni tangga, walaupun sedang sakit. Rasanya secepat apa dia berlari dia
tidak akan pernah mencapai lantai dasar. "Wajah yang sejajar, diatasnya
masing-masing...... mustahil..... itu berarti..... tidak ada tubuh.... dan
seseuatu yang aneh kulihat dibalik wajah itu..... tangan.... memegang kepala -
kepala itu...."
Dia berlari menuju toko
terdekat dan meminta orang-orang disana untuk menelpon polisi. Polisi datang
dan menggeledah ruangan itu. Polisi menemukan tubuh dari ibu dan anak-anak di
bak mandi. Tubuh-tubuh itu sudah tidak berkepala lagi. Dan suaminya, yang
menjadi tersangka pembunuhan itu, ditemukan bersembunyi di lemari pakaian -
gila. Dia bersikeras menganggap kalau keluarganya masih hidup. Terlihat
ketakutan tersirat dari matanya; polisi tidak tahu apa yang menyebabkan dia
sangat ketakutan.
Tapi K tahu.
Maukah Kau Bermain
Denganku?
Aku sebenarnya tidak
ingin menceritakan pengalamanku ini, tapi aku sudah terlalu lama menyimpannya
sendiri. Tidak ada seorang pun yang tahu. Tapi, sekarang aku mempercayakannya
padamu, untuk membaca ceritaku ini. Dan cobalah berusaha untuk memahami
kengerian yang ku alami. Jari-jemariku berkerut dan gemetar, air mataku terus
mengalir di pipiku ketika aku berusaha untuk mengetik tulisan ini.
Ketika itu adalah malam
yang sangat biasa. Aku kelelahan, pekerjaan di kantor agak membuatku sedikit
stres, dan aku sangat ingin tidur.
Tapi malam ini terasa
agak berbeda.
Hembusan angin
sepertinya terasa mengerikan. Langit terlihat lebih gelap. Ketika aku bersantai
di sofa dan menonton acara favoritku, aku melihat bayangan seperti siluet
berdiri di luar jendelaku, bayangannya terlihat dari tempat ku duduk. Aku
mencoba fokus! Benar-benar memperhatikan sosok apakah itu.
Tapi tidak ada apapun
selain kegelapan. Aku berfikir kalau aku hanya kelelahan saja. Pekerjaanku cukup
banyak hari ini, itu saja.
Ketika acara favoritku
sudah selesai, aku segara pergi tidur. Ketika aku berusaha untuk tidur,
tiba-tiba terdengar deritan pintu kamarku. Aku mengabaikannya karena terlalu
lelah untuk mengurus hal-hal konyol seperti itu. Tapi aku merasa seperti
sesuatu memperhatikanku. Aku mencoba berpikiran positif karena aku sangat ingin
tidur. Tapi kemudian, aku mendengar nafas yang berat dan pelan. Pertamanya, aku
mengira itu adalah bunyi nafasku sendiri walaupun aku sedikit ragu akan hal
itu. Jadi, aku mencoba menahan nafasku sebentar untuk membuktikannya.
Ternyata itu bukan
nafasku.
Aku melompat bangun dan
membuka mata. Mendadak tubuhku menjadi beku ketika aku melihat seseorang di
sudut tempat tidurku. Seorang gadis kecil yang kira-kira berumur 6 tahun,
berambut panjang yang hitam, dalam balutan gaun tidur berwarna putih. Dia
menatapku tanpa berkedip dan tersenyum lebar. Dia mempunyai luka sayatan yang
cukup dalam di wajahnya, tangannya yang diletakkannya disamping, terlihat penuh
oleh sesuatu yang berwarna merah. Kami berdua duduk dan saling pandang beberapa
waktu, sampai dia mengeluarkan jeritan yang menyeramkan. Saat itu, aku mencoba
berlari menggapai pintu, tapi dia melompat ke arahku, menancapkan kukunya ke
wajahku, matanya yang hitam hanya berjarak beberapa inci dari mataku dan terus
menjerit dengan suara melengking. Suaranya kencang sekali, aku terus berontak
dan sekuat tenaga menjauhkan dia dariku. Tapi akhirnya, kepalaku terbentur meja
disamping tempat tidurku. Aku kehilangan kesadaran.
Aku terbangun dan
mendapati diriku berada di basement yang kosong. Pakaianku masih lengkap,
kecuali kaos ku. Aku berjuang untuk mendapatkan kembali keseimbanganku. Kulihat
kepalaku sudah penuh dengan darah kering. Terdapat sayatan di lenganku yang
bertuliskan “Maukah kau bermain denganku?”. Itu terasa sakit dan perih sekali.
Lalu aku mengedarkan
pandangan ke sekelilingku dengan persaan takut dan horor, dan aku melihat pintu
besi dengan rembesan darah dibawahnya. Perlahan aku berjalan ke arah pintu itu.
Sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis yang kutemui dikamarku tadi.
Walaupun diselimuti ketakutan, aku akhirnya mendorong pintu itu dan masuk
kedalam.
Dibalik pintu itu, aku
melihat pemandangan yang menyeramkan. Aku melihat banyak mayat tergeletak di
ruangan yang luas itu sampai jalan menuju tangga di sudut seberang ruangan.
Mayat laki-laki, perempuan, anak kecil, dan beberapa mayat lainnya terbaring
disana. Ada sayatan parah dilengan mereka yang bertuliskan sama dengan yang
tertulis dilenganku “Maukah kau bermain denganku?”. Lalu aku memperhatikan
mayat perempuan, yang tergeletak tidak jauh dari tempatku.
Leher wanita itu
terkulai lemas, luka besar di perutnya menganga lebar. Ketika aku beranjak
untuk lebih melihatnya lebih dekat, aku melihat truk pemadam kebakaran mainan
di antara jeroannya yang hampir terburai. Aku tercekik karena ketakutan. Lalu,
didekat mayat perempuan tadi, mayat seorang pria terbaring disana dengan
matanya yang sudah mencuat keluar, disebelahnya terdapat pemukul baseball yang
sudah patah tergeletak diatas genangan darah. Lalu ada anak kecil yang
berbaring tak berdaya ditengah-tengah ruangan. Mulutnya terbuka lebar, dan
terdapat truk mainan yang sepertinya dipaksa masuk ketenggorokannya, dadanya
terbelah dan jantungnya tergeletak disebelah badannya dan ditempat dimana
jantungnya seharusnya berada, terdapat sebuah boneka kecil. Serta banyak
mayat-mayat lain yang tak tak sanggup aku lihat satu persatu.
Aku kehilangan kontrol
dan muntah. Aku menangis ketakutan, tetapi tiba-tiba satu pikiran agak
menggangguku, “dimana gadis itu?”
Aku sebenarnya tak
ingin tahu dimana ia berada, tentu saja. Tapi aneh saja, setelah aku sampai
ditempat ini, dia malah tidak terlihat lagi. Yang kutakutkan juga, dia ada
disekitar sini menunggu untuk menyakitiku. Aku mulai berpikir untuk keluar dari
basement ini, maka aku berjalan menuju anak tangga. Tapi kemudian, langkahku
terhenti...
Ada nafas yang berat
berhembus di belakangku.
Aku menoleh dengan
takut-takut. Dan di belakangku, aku melihat gadis kecil itu. Kemudian dengan
suara yang dalam, dia berkata, “Maukah kau bermain denganku?”
Dia mulai berteriak
histeris lagi. Aku berbalik dan bersiap untuk berlari, tapi dengan sigap dia
menangkapku. Kukunya yang setajam pisau mencakar punggung dan leherku. Aku
berusaha melawan sekuat tenaga dan akhirnya aku berhasil menghempaskannya ke
lantai.
Aku menaiki tangga
dengan berlari ke arah pintu keluar diujung anak tangga tapi secepat kilat dia
mendahuluiku dan menghalangi pintu. Kurasakan darah mulai mengalir di
punggungku akibat cakarannya tadi. Dia menerkamku lagi, membuat kami terguling
ditangga. Lalu aku menyiku mukanya, berusaha mendorongnya menjauh. Ketika dia
hendak menendangku, aku menangkapnya. Matanya yang lebar dan hitam memandangku
dengan tatapan liar dan ganas, kukunya mencakari mukaku yang terasa sudah
hancur akibat cakarannya. Teriakannya memekakkan telingaku. Dia mengangkat
tangannya dan tersenyum lebar sekali, lalu tangannya menusuk mataku.
Semuanya mendadak
gelap.
Ketika bangun, aku
sudah berada dirumah sakit, perban memenuhi tubuhku, juga mataku sebelah, tapi
aku bersyukur aku masih bisa melihat. Seorang polisi berdiri diruanganku,
sedang berbicara dengan dokter. Mereka menyadari aku telah bangun dan tersenyum
padaku. Mereka menginformasikan padaku bahwa aku adalah satu-satunya korban
yang selamat dari pembunuhan massal yang dilakukan oleh seorang pria yang
berumur setengah baya, dan polisi telah mengamankan pelaku. Aku menceritakan
pada mereka tentang gadis kecil yang kulihat, tetapi mereka berkata tak ada
gadis kecil ditempat kejadian. Aku bersikeras, tapi mereka tidak mempercayaiku.
Mereka hanya mengatakan kalau aku membutuhkan istirahat.
Dua minggu berlalu, dan
aku sudah diperbolehkan pulang kerumah. Ketika aku keluar dari ruangan dan
melewati ruang tunggu, aku melihat beberapa mainan berserak disana. Mobil
pemadam kebakaran mainan, truk mainan, dan boneka. Tragisnya, didekat mainan
itu, duduklah seorang gadis kecil berambut panjang dan memakai gaun putih,
tersenyum manis padaku. Dan dengan suara yang dalam dia berkata, “Maukah kau
bermain denganku?”
The Doll
Aku memberikannya
sebuah boneka sebagai hadiah ulang tahun beberapa hari yang lalu. Dia sangat
menyukainya, "boneka yang cantik" dia bilang. Dengan rambut yang
lembut dan pakaian indah yang melekat ditubuhnya. dia hampir tak pernah berada
terlalu jauh dari bonekanya. Disepanjang siang, dia akan mendudukannya dimeja
jadi dia bisa selalu memandangnya selagi membersihkan rumah. juga ketika malam
menjelang, dia akan meletakkannya tepat disamping ranjang, agar mata birunya
yang besar dapat selalu mengawasi kami saat terlelap.
Tetapi rasa cinta
istriku pada bonekanya perlahan berubah, aku menyadari sesuatu yang salah
terjadi. Tentu aku sudah bertanya, tapi dia menolak menjelaskan pada awalnya,
bilang padaku bahwa dia mungkin hanya berhalusinasi. Tapi istriku makin bertingkah
aneh hari demi hari, aku sudah tak mampu menahannya. Aku terus memaksanya
menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi atau aku akan membawanya ke
dokter.
Akhirnya dia menyerah
dan memberitahuku sambil terisak, dia bilang bonekanya membuat dirinya ketakutan.
Dia juga bilang padaku bahwa dia seakan selalu merasa diperhatikan, dan suatu
waktu dia mendapati bonekanya pernah bergerak sendiri.
Hal ini sungguh
membuatku khawatir dan aku segera beranjak ke kamar untuk memeriksa bonekanya.
Aku melihatnya
tergeletak di atas ranjang, dengan mata birunya yang menatap lurus. Aku tak
tahu apa yang harus kuperbuat, bonekanya tidak bergerak. Tentu saja, itu hal
yang sangat mustahil.
Aku hendak berbalik
saat kulihat geliat kecil di sudut mataku, aku menoleh dan segera mengambil
bonekanya, menatapnya lebih dekat.
Ada yang salah
dimatanya.
Aku menajamkan
pandanganku dan melihat lebih dekat.
Ya, ternyata memang ada
gerakan, tapi bukan dari matanya, melainkan sesuatu yang menggeliat dibaliknya.
Sebelum aku sempat menyimpulkan
sesuatu, sekitar sepuluh ekor belatung berjatuhan dari celah bola matanya. Aku
sungguh terkejut dan menjatuhkan bonekanya kelantai, kemudian secara reflek
mundur beberapa langkah.
Istriku bertanya apa
yang sedang terjadi dari arah ruangan lain. Aku segera menyahut padanya untuk
tidak perlu khawatir. Aku mengambil bonekanya lagi, kini dengan kain lap
ditanganku untuk membersihkan belatung-belatungnya. Didalamnya aku melihat
lebih banyak, bergerombol dan mencoba mencari jalan keluar.
Sudah kuduga yang ini
memang tidak akan bertahan lama. Well, kurasa aku memang harus menjaganya tetap
hidup untuk beberapa saat, dengan begitu mungkin akan lebih awet.
Saat aku membuang
bonekanya, aku terus memikirkan tentang seringnya istriku bilang padaku bahwa
dia sangat menyukai gadis kecil berambut pirang yang tinggal beberapa blok dari
rumah kami. Bukankah ia juga memiliki mata biru yang indah ?
Kurasa kini aku tahu
kejutan apa selanjutnya yang akan kuberikan pada istriku.
The Smiling Man
Hal ini terjadi sekitar
lima tahun yang lalu saat aku masih tinggal di sebuah apartemen di kota besar,
aku adalah seorang pengidap insomnia akut, jadi saat teman sekamarku sudah
tidur, aku sering pergi keluar untuk menghabiskan waktu. berjalan sendirian di
kegelapan malam, aku tidak punya alasan untuk merasa takut, sampai malam itu,
malam yang mengubah hidupku untuk selamanya.
Saat itu hari Rabu,
sekitar jam satu atau dua tengah malam, aku sedang berjalan menyusuri taman
yang jaraknya lumayan jauh dari apartemen, malam begitu sunyi, tidak ada
satupun kendaraan yang berlalu-lalang. jalanan benar-benar kosong.
Aku berbalik dan
berjalan diatas trotoar, hendak kembali ke apartemenku, saat itulah pertama
kali aku melihatnya diujung jalan.
Aku melihat siluet
seorang pria, dan dia sedang menari. itu adalah tarian yang aneh, mungkin mirip
waltz, dan dia mengakhiri setiap gerakan dengan sebuah hentakan kedepan, kurasa
kau boleh membayangkan bahwa dia menari sambil berjalan, dan dia menuju tepat
kearahku.
Awalnya kukira dia
sedang mabuk, jadi aku melangkah kepinggir trotoar, memberinya cukup ruang
untuk melewatiku, dia makin mendekat dan aku makin menyadari sosoknya yang
sungguh aneh, tubuhnya begitu kurus dan tinggi semampai, serta mengenakan
setelan yang ketinggalan zaman.
Dia terus menari dan
mendekat sampai akhirnya aku mampu melihat wajahnya.
Kepalanya miring dengan
garis yang tidak wajar dan matanya melotot menghadap langit, senyum lebar dan
mengerikan tersungging di wajahnya, senyum yang hanya akan kau lihat di serial
kartun. tatapan liar dan senyumnya yang tidak masuk akal sudah cukup membuatku
bergidik dan segera menyebrang jalan menjauh darinya. aku tidak berhenti
memperhatikannya saat sampai di sebrang jalan dan menghentikan langkahku. Dia
tak lagi menari dan kini berdiri dengan salah satu kaki, menghadapku namun
tetap melihat keatas. Tentu dengan senyum aneh yang masih merekah lebar.
Saat itu aku sudah
sangat gugup, aku mulai berjalan namun tetap enggan untuk melepaskan
pandanganku darinya. Saat aku telah mencapai jarak setengah blok, aku menoleh
kedepan untuk beberapa saat, hanya untuk memastikan bahwa jalanan dan trotoar
di hadapanku benar-benar lengang. Masih dalam keadaan gugup, aku berbalik
kembali kearah pria tadi berdiri dan mendapati dirinya telah lenyap.
Aku sempat lega untuk beberapa
saat... sampai aku melihatnya lagi, kali ini dia sudah ikut menyebrang, aku tak
dapat melihatnya dengan jelas karena jarak kami sudah cukup jauh dan pekatnya
gelap malam. Tapi aku sangat yakin dia sedang menatapku. tak lebih dari 10
detik aku mengalihkan pandanganku darinya, jadi sudah pasti dia bergerak dengan
cepat.
Aku begitu terkejut
saat itu hingga tak dapat bergerak, ketika dia mulai berjalan menuju kearahku
lagi, dia mengambil langkah-langkah besar, seperti seseorang sedang berjinjit,
namun dengan kecepatan tinggi.
Aku harus bilang bahwa
semestinya aku kabur waktu itu, atau mengambil ponselku dan mulai menghubungi
seseorang, tapi tidak. Aku hanya diam membeku menyaksikannya berjingkat
kearahku.
Kemudian dia berhenti,
sekitar sepuluh meter dariku, masih dengan senyumnya, masih melotot kelangit.
Ketika aku mendapatkan
kendali atas tubuhku lagi, hal pertama yang kupikirkan ialah segera mengumpat
padanya "Apa yang kau inginkan dariku heh?" Namun yang keluar dari
mulutku lebih terdengar seperti rengekan.
Terlepas dari bisa atau
tidaknya manusia mencium rasa takut, mereka bisa mendengarnya. dan aku
mendengar rasa takut dari suaraku sendiri. dan itu hanya membuatku merasa lebih
buruk.
Tapi dia tetap tidak
bereaksi sama sekali. hanya diam berdiri, dengan senyum anehnya.
Lalu, setelah sekian
lama, pria tersebut perlahan berbalik, kemudian mulai menari-menjauh dariku,
entah mengapa. kali ini aku tak akan melepaskan pandanganku lagi darinya,
sampai dia telah benar-benar jauh, menghilang diantara lampu-lampu jalan yang
remang.
Kemudian aku menyadari
sesuatu, dia tak lagi menjauh atau menari, aku menyaksikan dalam horor
bayangnya yang semakin membesar dari kejauhan, dia kembali, dan kini berlari
dengan kencang mengejarku.
Aku segera berlari
secepat yang kubisa menuju ke penerangan yang lebih baik, menuju jalanan yang
lebih ramai, saat aku menoleh kebelakang, aku tak melihatnya dimanapun.
sepanjang jalan menuju apartemenku, aku terus menoleh kebelakang beberapa kali,
masih merasakan sosoknya membuntutiku dari belakang dengan senyumnya yang
mengerikan, tapi dia tidak pernah muncul.
Semenjak malam itu, aku
tidak pernah lagi berjalan sendirian. ada sesuatu diwajahnya yang selalu
menghantuiku hingga saat ini, dia tidak tampak mabuk, sorot matanya terlihat benar-benar
gila. dan itu adalah hal yang sungguh menyeramkan.
source: https://m.facebook.com/CreepypastaIndonesia?refid=46
izin copas creepypastanya
BalasHapusCerita nya seru banget XD izin copas ya. Makasih
BalasHapusSampe cape baca nya tapi seru
BalasHapusvisit ya
Dawnatic
the smiling man, ngeri banget-___-
BalasHapusCeritanya seru pake banget!!! Blognya juga keren! Visit juga blog ku http://cecilianovawijaya.blogspot.com
BalasHapusBagus bgt gan
BalasHapus