Hanya coretan iseng seorang gadis saat mengisi waktu luangnya
“7
Days” {Chapter 1
: Amano Satoru}
Malam
itu, seorang gadis dengan napas terengah-engah terlihat sedang mengayuh
sepedanya dengan tergesa-gesa. Rambutnya yang dikuncir dua itu berayun-ayun
tertiup angin. Perkenalkan, gadis ini bernama Fujiwara Nami.
“Aduh…. Kenapa jadi begini? Pulang telat begini..
apa yang harus aku jelaskan pada ibu? Ini semua.. gara-gara mereka bertigaaaaaaaaaaaaa……!!!” teriak Nami dengan
napas terengah-engah.
3 jam sebelumnya…..
Dari
kejauhan terlihat Chika sedang berlari menghampiri Nami dengan terburu-buru.
“Namiiiiii….!!!
” Terdengar suara teriakan Chika yang begitu khas di telinga Nami. Dengan napas
tersengal-sengal ia langsung merangkul
Nami . Rambutnya yang terurai panjang dan ikal itu kini terlihat berantakan.
“Hah.. hah.. hah… untung masih keburu….”
“Ada
apa? kenapa kau belum pulang? Ini kan udah sore….” tanya Nami heran menatap
Chika yang masih kelelahan.
“Pagi
ini Aya-chan datang terlambat lalu dia dihukum bersih-bersih gudang sendirian,
tapi gara-gara Natsuna, kami malah ikut dibawa-bawa….” terang Chika sambil
melepas rangkulannya.
“Hei
Chika!! Kenapa malah aku yang disalahkan!? Memangnya kau tega ya ngeliat
Aya-chan sendirian di hukum sampai malam, huh, teman macam apa kau ini….??”
Glek.
Chika
menelan ludah saking tak percayanya kalau mereka yang baru saja dibicarakan
secara ajaib kini muncul di hadapannya. Natsuna bersiap menjewer telinga Chika.
Chika tak gentar malah membalas dengan mencubit pipi Natsuna.
Natsuna
bertampang judes dan wajahnya tak pernah bersih dari tempelan bekas luka. Rambut
panjangnya terurai nyaris menutupi sebagian wajahnya. Hampir setiap saat ia adu
mulut dengan Chika.
“Na-chan…!
Udahlah, gak apa kok…Aduh, maaf ya, Chika.. gara-gara aku, kalian jadi
ikut-ikutan…. Sebenarnya kalau tidak mau bantu juga gak masalah….” ujar Aya
dengan gaya lembutnya yang langsung menenangkan situasi namun sesaat kemudian terlihat
matanya menatap sadis ke arah Chika. “Emmmm, tolong bantu kami ya, Nami…..”
ujar Aya pelan sambil menatap Nami.
Wajah
lugu Aya membuat banyak orang tak tega menolak permintaannya. Yah mau bagaimana
lagi. Aku tak bisa mengelak kalau begini, pikir Nami.
Bagi
yang belum mengenal Aya, pasti akan berpikir bahwa dia ini gadis ‘LEMAH’ yang lemah lembut dan lemah
gemulai dengan segala kelemahannya yang
selalu jadi korban kenakalan teman-temannya seperti yang sering ada di
komik-komik.
Memang
benar kata pepatah, jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja . Kesan seperti itulah yang timbul
setelah mengenal Aya yang sesungguhnya. Kalau boleh diistilahkan, dia ini tipe
gadis singa, tenang dan berwibawa namun mengerikan, batin Nami.
“Haha..
iya baiklah, makin ramai maka makin cepat selesainya, iya kan..?” dengan
polosnya Nami berujar, karena takut diterkam singa itu, namun ternyata……
“Temani
kami mengawasi gudang, kau ini kan pawang hantu……” ujar
ketiganya serentak.
“APA….??”
Seru Nami kaget. PAWANG HANTU……??? Batin Nami.
Kembali ke waktu yang sekarang…
Ya,
Nami memang memiliki kemampuan tak biasa, yaitu mampu melihat roh. Kemampuannya
ini malah dimanfaatkan seenaknya oleh teman-temannya. Sebenarnya banyak
kesenangan dan beberapa kerugian yang Nami dapat dari kemampuan ini. Hmmm..
kalau diingat-ingat sejak kapan ya, keanehan ini muncul….
Lalu
Nami teringat pada peristiwa aneh yang dialaminya sesaat setelah kecelakaan lalu
lintas yang menimpanya ketika ia masih SMP. Sebuah truk menabrak mobil yang ia
tumpangi bersama ayahnya. Dalam kecelakaan itu, ayahnya tewas seketika.
Sementara ia sendiri koma selama satu bulan yang membuat para dokter menanti
keajaiban untuk menunggu kesadarannya.
Selama
masa-masa itu walau raganya terbujur tak bergerak di tempat tidur, namun
sesungguhnya arwahnya berkeliaran kemana-mana menyaksikan segala kesehariannya
layaknya dulu sebelum kejadian naas itu menimpanya. Setelah ia sadar dari koma,
arwahnya pun kembali menyatu dengan raganya seperti sedia kala. Seakan tak
percaya dengan apa yang selama itu telah dialaminya, ia masih menyangka itu
merupakan sebuah mimpi yang paling berkesan.
Namun,
kenyataan ternyata jauh lebih berkesan ketimbang mimpi. Setelah koma satu
bulannya itu berlalu dan ia sudah mulai menjalani aktivitas sehari-harinya
seperti biasa, kini keanehan pun terjadi di sekitarnya.
Nami
mampu melihat beraneka macam bentuk dan wujud roh yang ada di sekitarnya. Semua
itu membuat ia merasa bahwa dirinya masih belum seutuhnya sadar dari
komanya karena kini kehidupannya terasa
bagai mimpi. Namun seiring berjalan waktu, Nami mulai menerima keadaan dirinya
yang sekarang mampu melihat hal-hal ajaib.
Nami
kini menghela napas panjang. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul
delapan. Hiiii… sudah jam delapan malam? Nami lalu memutuskan untuk memotong
jalan melalui gang sempit yang ada di dekat perempatan, berharap masih bisa
memburu waktu. Ketika Nami berbelok, tiba-tiba saja seseorang melintas tepat di
hadapannya. Ia kaget bukan main, mencoba mengerem sepeda yang sudah keburu melaju
kencang itu sehingga ia terjatuh
bersamaan dengan sepedanya.
“Aduh…”
Nami merasakan nyeri pada lututnya. Lalu ia menundukkan kepala dan menyaksikan
darah segar tampak mulai mengintip keluar dari celah luka di lututnya.
“Ah..
anu.. kau tidak apa-apa.. ?” Samar-samar ia mendengar suara seseorang bertanya.
Oh iya, ini dia orang yang menyebabkan
aku jatuh, pikir Nami. Ia pun mengalihkan pandangan ke arah orang yang nyaris
ditabraknya itu.
Hanya
seorang anak laki-laki sebaya Nami. Gelapnya gang itu, membuat Nami tak begitu
jelas melihat wajahnya. Namun, alangkah kagetnya Nami setelah melihat bagian
bawah tubuh anak itu. Ia mengambang !
Nami hanya bisa menatapnya tak berkedip
dengan mulut nyaris menganga.
“Kau….
Roh….??”
Nami bertanya dengan yakin. Roh itu mengangguk dan mulai memutar balik tubuhnya
seakan ingin meninggalkan Nami. Barulah Nami bisa lihat dengan jelas sosoknya
yang mengenakan pakaian seragam sekolah.
Roh
itu menatap Nami dengan heran. “Kau…tak takut padaku…?” tanyanya.
“Kenapa harus takut? Lagipula setelah
membuatku jatuh begini, masa kau tak merasa bersalah atau apa…” omel Nami
dengan harapan kalau begini bisa menahan roh itu sesaat.
“Ehhh…
iya maaf.. aku tak menyangka kalau kau bisa melihatku.. tadi kau muncul pada
saat yang tidak tepat…” ujar roh itu dengan wajah tertunduk.
Nami
paham maksudnya dan tersenyum tipis.
“Oh..
sudah berapa lama disana?” Nami bertanya dengan tenang.
“Ng…seminggu
mungkin… aku tak tahu untuk apa aku berada disini…” jawabnya pelan. “Hei, tunggu
dulu, kenapa kau menanyakan hal semacam itu..?” tanya roh itu memotong.
“Dengan kata lain saat kau muncul tadi itu
adalah waktu kematianmu dan tak jauh dari sana adalah lokasi penyebab
kematianmu…” gumam Nami.
“Lokasi
kematian…?” tanya roh itu heran.
“Hmm,
jadi begitu ya… baiklah, bagaimana kalau aku menolongmu, kau mau…? Sebenarnya
aku sudah sering dibuat kaget oleh bermacam-macam roh dan hantu, jadi sekarang
sih mulai terbiasa..” jawab Nami lalu ia bangkit berdiri sambil menghiraukan
lukanya. Kemudian ia berjalan tertatih menahan luka sambil mendorong sepedanya.
Roh
itu membuntutinya. “Menolong…? Menolong bagaimana…?” Ia masih tak mengerti
maksud ucapan Nami dan terus bertanya sambil mengikuti langkah Nami.
“Kau
itu roh tersesat… harus ada yang menuntunmu…” jawab Nami santai sambil
meneruskan langkahnya. “Roh sepertimu biasanya muncul dalam keadaan lupa
ingatan… kemungkinan kau muncul dalam keadaan begitu pasti karena ada ‘pengganjal’
yang membuatmu tertahan di dunia fana..”
“Pengganjal…?” tanya roh itu.
“Ya,
kau sendiri juga sadar kalau kau ini roh kan? Itu artinya kau sudah
meninggal... seharusnya kalau sudah meninggal, roh manusia tak ada lagi
hubungannya dengan dunia fana ini, pengganjal itulah yang membuat roh merasa
berat dan tersiksa untuk meninggalkan dunia fana, meskipun sebagiannya tak
mempedulikan itu dan tetap ingin dijemput ke alam baka. Namun tak sedikit pula
yang merasa ingin kembali ke dunia fana meski hanya sesaat. Nah, kemungkinan besar
sebelum dijemput ke alam baka kau menyetujui ‘tawaran’ itu…” jawab
Nami dengan meyakinkan. Roh itu semakin penasaran.
“Tawaran ? Apa yang kau maksud itu…?”
tanya roh itu sambil terus mengiringi langkah Nami.
“Tawaran
berupa kesempatan kembali ke dunia fana dalam jangka waktu 7 hari setelah kematianmu
untuk menemukan pengganjalmu itu dan merelakannya untuk kau tinggalkan…
Sebelumnya kau harus mencari tahu penyebab kematianmu, namun nilai tukarnya
adalah ingatanmu semasa hidup… Sayangnya, kebanyakan dari mereka yang menerima
tawaran itu malah melewati batas 7 hari dan gagal menemukan pengganjalnya. Mereka
itulah yang akan berakhir sebagai roh jahat dan mendiami tempat terakhir yang
berhubungan dengan penyebab kematiannya ” terang Nami. “Ah, tentu saja kau
muncul dalam wujud roh…”
Roh
itu terdiam sejenak. “Hmmm… bagaimana kau bisa tahu semua itu..?” tanya si roh.
“Hahaha..
karena itulah aku disebut pawang hantu,
jadi wajar kan kalau aku tahu hal semacam ini… sebenarnya aku sudah
berkali-kali bertemu roh yang bernasib sepertimu..”
“Eeeeeh..??” seru roh itu kaget. “Serius..?? Jadi kau benar-benar bisa membantuku nih..?”
Nami
mengangguk.
“Benarkah….?
Berarti setelah ini aku tak perlu berada disana...? Dengan begitu, aku takkan
membuat orang lari ketakutan lagi kan…?” Roh itu tampak senang sekali. Nami yang
menyaksikannya pun ikut tersenyum.
“Hei,
jangan senang dulu… pertama-tama coba kau ingat dulu apa penyebab kematianmu…” terang
Nami sambil melirik si roh yang sejak tadi berada di sampingnya itu.
“Hmmm…
bagaimana caranya…?” tanya si roh.
“Biasanya
ingatan itu akan muncul dengan sendirinya…”
BRUK
Tiba-tiba
Nami menubruk seseorang saat hendak berbelok. Dengan tatapan kaget ia melihat
sosok yang ada di depan matanya saat itu.
“Tsuji-chan..?”
tanya Nami pada sosok laki-laki yang dikenalnya itu. Rambutnya sedikit ikal
dengan tatapan sejuk menatap ke arah Nami.
“Nami…?”
tanya Tsuji yang ikut kaget melihat Nami sambil menyeringai.
“Kemana
saja kau ini, sampai jam segini belum pulang juga, hah?” teriak
Tsuji. Ia yang tadinya tampak slow
dalam sekejap berubah menjadi wow !
“Gara-gara
mereka bertiga tuh, tanya aja sama Chika dkk; mereka yang bertanggung jawab…
terus…” ujar Nami terpotong sambil mengarahkan pandangan ke lututnya yang luka
karena terjatuh tadi. Tsuji mengikuti arah pandangan Nami.
“Lututmu
kenapa…?! Kau habis jatuh..?” tanya Tsuji kaget. Nami mengangguk.
“Makanya
itu aku pulang jalan kaki..” jawab Nami santai.
“Kau
sadar gak sih kalau kau ini perempuan..? Kalau ada apa-apa denganmu bagaimana?
Kau nekad pulang jalan kaki malam-malam begini?” omel Tsuji berapi-api.
“Haaaaaahh, aku tak tahu lagi harus mengomentarimu bagaimana…” gumamnya sambil
menepuk dahinya sendiri. Sementara Nami tampak tak begitu mempedulikannya.
“Habis
mau bagaimana lagi, memangnya kalau aku duduk diam apa bakal ada yang datang
menolong? Mendingan tetap jalan kaki kan…” jawab Nami enteng, ia tak menyadari
bahwa jawaban entengnya sudah benar-benar membuat Tsuji dongkol.
“Kemarikan
sepedamu…” ujar Tsuji sambil menghela napas.
“Eh..?
buat apa?” tanya Nami. Namun, Tsuji tak menghiraukannya dan merampas sepeda
itu. Lalu ia mengisyaratkan Nami agar duduk di bangku belakang. Nami pun duduk
di belakang sambil tersenyum-senyum, sementara Tsuji yang mengayuh sepeda.
“Hehe..
makasih ya Tsuji-chan…” ujar Nami memecahkan keheningan.
“Hemm…”
jawab Tsuji tanpa membuka mulutnya.
Sepanjang
perjalanan, mereka tak mengobrol apa-apa.
Oh
ya, jangan lupakan si roh. Tanpa disadari atau tidak oleh Nami, sebenarnya
sejak tadi roh itu hanya diam menyaksikan kemesraan
antara Nami dan Tsuji. Sekarang pun, ia masih membuntuti Nami. Dalam hatinya ia penasaran siapa
gerangan Tsuji ini.
Di
depan rumah, ibu Nami sudah menunggu Nami dengan cemas. Beberapa saat kemudian,
Tsuji tepat berhenti di depan rumah sambil membonceng Nami, membuat ibu
bernapas lega.
“Ah…Tsuji..
makasih ya… bibi berhutang padamu…” ujar ibu tersipu.
“Haha,
tidak masalah kok bi…” jawab Tsuji.
Eh,
eh..? Tunggu dulu… batin Nami.
“Jangan-jangan…
ibu menyuruh Tsuji-chan untuk menjemputku ya…?” seru Nami. Ibunya tak
menghiraukannya malah langsung masuk ke dalam rumah.
Nami
menggerutu kesal. Ia malu-malu menatap Tsuji. “Ng.. Maaf ya Tsuji-chan.. tadi aku sangka,
kita tak sengaja bertemu disana… Ukh, kenapa aku terus-terusan merepotkanmu
begini sih?”
Tsuji
mengernyitkan dahinya sambil menatap Nami dengan wajah nakal.
“Urusi
saja dulu lututmu itu….” ujar Tsuji sambil menghela napas. Nami pun tertawa dan
melambaikan tangannya pada Tsuji sebelum akhirnya menutup pintu.
Sedetik
kemudian, ibu sudah berdiri di hadapan Nami dengan bertolak pinggang. Wajah
Nami tampak pucat berkeringat.
“I..Ibu..
ini semua gara-gara Chika dkk, percayalah..! Mereka yang menahanku di sekolah
sampai malam.. belum lagi lihat nih lututku… tadi sepedaku jatuh…” Nami mencoba
memberikan seribu alasan agar ibunya tak jadi marah.
“Ya
sudah, obati dulu sana… Oh ya, habis
makan jangan lupa cuci piring ya…” ujar ibunya tenang sambil mengunci pintu.
Eh??? ‘Habis makan jangan lupa cuci piring’ Apa aku tak salah dengar? Batin Nami. Ia
heran kenapa ibunya tak mengomel seperti biasanya.
“Tadi
itu siapa..?” tanya si roh memecahkan lamunan Nami.
“Eh… itu ibuku… memangnya kenapa?” Nami balik
tanya.
“Bukan..
bukan itu.. yang sebelumnya lagi…” ujar si roh penasaran. Nami berpikir
sejenak.
“Ooh…
maksudmu Tsuji…?” tanya Nami disertai anggukan kepala roh itu. “Dia temanku
sejak kecil… kami berteman sejak SD hingga sekarang… aku juga bingung dengan
takdir ini.. haha..” ujar Nami geli. Roh itu menatap dengan tatapan ‘masa-sih?’
nya.
“Kenapa
kau menatapku begitu…?” tanya Nami merasa terganggu dengan tatapan itu. Roh itu
menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Seusai
makan malam Nami teringat pesan ibunya tadi, lalu ia pun berniat mencuci
piring. Namun…
JRENG
JRENG
Ternyata
bukan hanya piringnya saja yang akan dibersihkan melainkan setumpuk piring dan
gelas kotor pun ikut dititipkan. Hiii, sekarang ibu sudah punya cara yang lebih
efektif untuk menghukumku, batin Nami.
Selesai
mencuci semua piring dan gelas kotor itu, Nami mengambil kotak obat dan
memasang perban di lututnya yang terluka akibat jatuh dari sepeda tadi. Setelah
itu, ia beranjak ke kamarnya diiringi oleh roh itu.
Setibanya
di kamar Nami, roh itu celingukan menatap tiap sudut kamar Nami yang penuh
dengan pernak-pernik perempuan. Ia mengitari kamar Nami dengan antusias hingga
ia menghentikan langkahnya ketika matanya tertuju pada tumpukan buku di atas
meja. Ia tertarik setelah membaca judulnya.
“Hooo…
ternyata kau benar-benar mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan dunia gaib…”
ujar roh itu. Nami tak menghiraukan itu dan langsung membaringkan tubuhnya di atas
kasur.
“Pasti
seharian ini kau kelelahan ya?” tanya roh itu. Nami menghela napas lalu menoleh
ke arah roh yang kini duduk di sebelahnya itu. “Kau bisa keluar sebentar tidak?”
tanya Nami. “Aku mau ganti baju dulu.. meskipun kau ini roh, setidaknya kau itu
kan laki-laki… Jadi…”
“E..eh..
I, iya baiklah….” ujar roh itu gugup lalu ia pun melayang terbang keluar menembus
jendela Nami.
Sementara
Nami mengganti baju, roh itu berjalan-jalan sambil terus memikirkan ucapan Nami
bahwa ia bisa mengingat pengganjalnya sesaat setelah ia mengingat penyebab
kematiannya.
“Aaaaah….
Tapi bagaimana caranya….?” Gumamnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Ia
lalu memutuskan kembali ke tempat pertama ia muncul, tepatnya itu juga menjadi tempat
pertama kali ia bertemu Nami. Ia berharap semoga nantinya bisa menemukan
petunjuk tentang penyebab kematiannya setelah menelusurinya.
Ia
mengamati seluk beluk tempat itu. Hanya gang sempit di pinggir jalan raya yang
tampak jarang dilewati. Tepat di sebelah gang itu ada sebuah toko buku
sederhana. Ia telusuri gang itu, padahal biasanya ia tak pernah mempedulikannya.
Selang beberapa menit, ia malah menemui jalan buntu. Ia terdiam, sesaat
kemudian ia menoleh ke sebelah kiri, ada celah sempit yang sepertinya muat
untuk dilewati satu orang. Dengan mudahnya ia menembus celah sempit itu untuk
mencari tahu apa yang ada di baliknya. Ternyata celah sempit itu terhubung dengan
jalan satu arah.
“Kenapa
sebelumnya aku tak pernah menelusurinya, ya?” gumamnya. Ia pun mulai mengitari
kawasan itu dengan antusias. Dari kejauhan ia melihat seorang pria tertidur
pulas beralaskan kardus. Penasaran, ia pun mendekati pria kumal itu. Ia sendiri
tak mengerti kenapa tubuhnya seakan bergerak sendiri menuju pria itu.
Ia
lalu berdiri menatap pria itu, spontan ia merasakan amarah bergejolak dalam
dirinya dan merasa sesak pada bagian perutnya.
Tiba-tiba
saja sekelebat bayangan hitam samar-samar mengerubunginya. Bayangan-bayangan
itu kini berubah menjadi kepingan ingatan yang berputar-putar di kepalanya. Membuatnya
ketakutan sampai-sampai ia menggenggam erat kepalanya. Kepingan ingatan itu membawanya
pada suatu malam yang memperlihatkan sesosok pria yang sedang menggenggam perut
berlumuran darah. Tepat di hadapan pria itu tampak sosok pria kumal yang ia
lihat tadi menyengir sambil menggenggam pisau berlumur darah ke arah laki-laki yang
terluka itu.
Di
belakangnya terlihat sesosok gadis sedang berdiri menyaksikan. Namun ia tak
begitu jelas melihat wajah gadis itu karena tertutup bayangan hitam. Ia juga bisa
mendengar suara gadis itu berteriak ketakutan, lalu berlari meninggalkan pria
yang berlumur darah itu.
Setelah
menyaksikan cuplikan kejadian itu, secara tiba-tiba bayangan hitam kembali
membawanya pada keadaan semula. Setelah sadar, ia hanya berdiri mematung. Napasnya
tak beraturan.
“Ap,
apa… itu…barusan…?” roh itu terlihat gemetar
ketakutan. “A..aku…” ujarnya sambil menggenggam perutnya yang terasa sesak. Ia
kembali teringat pada sosok pria yang berlumur darah tadi.
“UWAAAAAAAAAAAAAAAA…..!!!” teriaknya histeris.
Sedetik
kemudian matanya terbelalak dan melangkah menghampiri pria kumal yang sedang
tertidur itu.
“Aku…ditusuk…olehnya…? Hah..haha..hahahahaha..” Ia
menertawakan dirinya sendiri seakan tak percaya pada kenyataan sesungguhnya,
bahwa sosok pria berlumur darah yang disaksikannya tadi merupakan dirinya
sendiri… Ia baru menyadarinya… Setelah itu, ia pun melangkah gontai menghampiri
pria kumal itu, dengan tatapan kebencian teramat dalam.
“Kau
yang sudah membuatku tewas……!! Beraninya kau bersantai-santai disini…..!!!” ujar roh itu seraya mencoba memukul pria
kumal yang ada di hadapannya itu. Namun, tiba-tiba saja ia merasa dirinya seakan
tertarik ke dalam tubuh pria kumal itu.
Begitu
sadar kini ia sudah berdiri di hadapan pria kumal tadi yang sedang ketakutan
melihat sosoknya. Pria kumal itu menatapnya sambil menggenggam pisau yang sama
seperti sebelumnya.
Keadaan
ini serupa seperti malam itu hanya saja kali ini, pria kumal itulah yang merasa
terdesak. Pisau yang tadinya mengacung ke arah roh itu, kini malah terlepas
dari genggamannya. Tangannya bergetar hebat sampai tak mampu menggenggam
apa-apa lagi.
Kini
barulah terlihat jelas sosok pria kumal itu. Umurnya mungkin sekitar tiga
puluh-an. Dengan pakaian kumal dan rambut gondrong berantakan. Wajahnya pun tak
kalah berantakan dibandingkan penampilannya. Tampak jelas bahwa ia ini hanyalah
gelandangan.
“Hiiiii..
Ka….kau kan..?” gumam pria kumal itu dengan gemetar. Wajahnya pucat ketakutan
menatap roh itu. Ia bergerak mundur ketika roh itu melangkah maju perlahan menghampirinya.
“Apa
sebelumnya kita pernah bertemu….? Kenapa kau tampak takut sekali melihatku…?” Roh itu terus melangkah mendekati pria
kumal tersebut dengan mimik wajah yang menyeramkan.
“UWAAAAAAAAAAA…..!!
Ampuni aku….. Ampuni aku… Kumohon…..!!
Aku benar-benar menyesal…..!! Aku mohon jangan lagi kau muncul di hadapanku…!!
Aku mohon….. Aku mohon… Huhuhuhuhu….” Rengek pria kumal itu seraya berlutut
di hadapannya.
Roh
itu hanya menatapnya jijik.
“Kau
harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu jika kau ingin aku ampuni…” Roh itu berusaha menakut-nakuti pria kumal
itu.
Pria
kumal itu mengangguk ketakutan.
Sedetik kemudian sekelebat bayangan hitam
mengerubunginya. Lalu ia merasa dirinya sedang ditarik sekuat-kuatnya oleh
sesuatu. Begitu sadar, ia kembali ke tempatnya semula dan ia bisa melihat pria
kumal di hadapannya kini tersentak bangun dari tidurnya.
“Masa
sih.. aku..? Baru saja aku masuk ke dalam mimpinya..?” gumam roh itu tak
percaya.
“UWAAAAA..!!
A, Aku tak mau lagi tidur disini, bisa-bisa aku digentayanginya lagi nanti…. Hiiiiii…..”
Ujar pria kumal itu seraya kabur ketakutan.
Roh
itu lalu memutuskan untuk kembali ke rumah Nami. Ia ingin memberitahukan Nami tentang
kejadian yang baru saja ia alami.
Masih
di tempat yang sama, tiba-tiba saja kini
ia merasakan sakit yang luar biasa pada bagian perut seperti sebelumnya. Lalu ia
pun merasakan sesuatu yang berputar-putar. Terdengar suara seseorang yang sedang
membisikkan sesuatu si kepalanya.
DEG
DEG DEG DEG DEG
“A..A…Amano…?
Amano…?” ujarnya berulang-ulang
dengan nada kebingungan. “Amano…? Apa itu Amano…? Seperti nama seseorang….
Ng…..?Amano..?” tiba-tiba saja ia merasa seperti telah
berhasil mengingat sesuatu.
“Amano Satoru..! Itu kan namaku…!! Haha.. Kalau begini
ceritanya sama dengan pepatah sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau
terlampaui nih… Hahaha…!” serunya kegirangan, lalu ia pun menyusur
dengan cepat. Ia tampak amat senang. Namun ia belum menyadari masalah yang akan
segera muncul di hadapannya.
Chapter
1 - End
Amano Satoru (17th)
Sesosok roh yang berusaha melalui
masa-masa terakhirnya demi memecahkan misteri kematian dan terganjalnya ia
menuju alam baka. Bersama Fujiwara Nami,
ia selalu tampak heboh dan bersemangat namun sesungguhnya banyak kepedihan yang
disembunyikannya.
“7 Days” {Chapter
2 : Oikawa Yuuna}
Nami
terlihat sesekali celingukan menatap jendela. “Lama juga ya, kenapa dia belum
kembali…?” gerutu Nami.
Tiba-tiba
yang ditunggu-tunggu pun datang. Sebut saja kini, Satoru.
“Nami…!
Nami…!” seru Satoru terlihat sangat bersemangat seraya menghampiri Nami.
“Baru
diomongin nongol dia…” gumam Nami.
“Eh?
Kau bilang apa barusan?” tanya Satoru heran.
“Ah…
Nggak kok… Memangnya ada apa? Kenapa kau teriak-teriak seperti orang bodoh
begitu….?” Ejek Nami. Satoru tak menghiraukannya karena kini ia benar-benar tak
sabar ingin mengejutkan Nami dengan apa yang baru saja dialaminya tadi.
“Hehe…
Tadi kau menyuruhku untuk mengingat-ingat penyebab kematianku kan….?” Ujar
Satoru bersemangat.
Nami
mulai paham maksudnya dan tersenyum. “Kau berhasil mengingatnya….?” Tebaknya.
Satoru
melebarkan senyuman di wajahnya. “Eh…? Ahaha…. Bagaimana kau bisa membaca
pikiranku…?” tanya Satoru terperangah.
“Tergambar
jelas di wajahmu itu ada berita bagus yang akan kau sampaikan…. Lalu, kau sudah
tahu kan, apa penyebab kematianmu itu…?” tanya Nami antusias.
Satoru
terdiam sesaat, lalu mengangguk.
“Oh iya, aku lupa memberitahukanmu, waktu
tujuh harimu itu mulai dihitung sesaat setelah kau mengingat jati dirimu… jadi
jangan sampai kau mengingat jati dirimu saja untuk saat ini, oke…?” ujar Nami
disertai wajah kaget Satoru yang terpampang nyata. Tawanya tadi langsung
menghilang.
“Karena
urutannya tuh pertama kau harus mengingat penyebab kematianmu, lalu
pengganjalmu dan yang terakhir dan harus
jadi yang terakhir adalah saat dimana kau mengingat jati dirimu...” Terang Nami
santai.
“Heeeeeeeeeee….??
Ke..kenapa kau tidak memberitahukan itu padaku sebelumnya….???” Satoru tampak
gelisah dan menggaruk-garuk kepalanya. “Bagaimana ini… bagaimana ini……??” tanya
Satoru mondar-mandir ketakutan.
“Memangnya
kenapa sih….? Ah, jangan-jangan kau……?” Nami sekali lagi berhasil membaca
pikiran Satoru. Satoru mengangguk dengan wajah cemas tingkat tinggi.
“Iya…..aku
berhasil mengingat namaku…..” jawabnya pelan.
“Heeeeeeeeee…??
Kenapa..? Kenapa bisa secepat ini…?” tanya Nami histeris.
Kali
ini gantian Nami yang tampak gelisah.
Satoru
menggeleng. ”Aku juga tak mengerti kenapa bisa begitu… tiba-tiba saja terlintas
di pikiranku… padahal, aku sangka itu pertanda baik….” Keluhnya.
Nami
masih bungkam tak tahu harus berkomentar apa. Ia merebahkan tubuhnya di kasur
sambil menepuk dahinya.
“Aku
jadi tak tahu harus bagaimana….. kejadian seperti ini baru pertama kalinya aku
alami….” Gumamnya pelan namun sepertinya terdengar oleh Satoru sehingga kini
mimik wajah Satoru semakin tak karuan. “Ini berarti sisa waktu yang kita miliki
harus benar-benar dipergunakan seefektif mungkin… padahal aku baru saja
berpikir sepertinya nanti kau tidak akan banyak mempersulitku ke
depannya…haaah…”
Mendengar
keluhan Nami, kini Satoru mulai merasa down.
“Maaf
ya… aku benar-benar minta maaf untuk ke depannya karena nantinya aku pasti
banyak merepotkanmu….” Satoru menundukkan kepalanya. “Tapi.. kenapa aku
harus mengingat namaku, ya? Aku bahkan belum sempat melihat wajah gadis itu…”
Nami
terkejut. “Gadis itu….? Gadis yang mana maksudmu…?” tanyanya.
Satoru
lalu menceritakan semua kejadian yang tadi dialaminya, saat ia tiba-tiba saja flashback ke detik-detik sebelum
ajalnya. Ia pun menceritakan betapa ajaibnya saat ia secara tiba-tiba masuk ke
dalam mimpi orang lain.
Nami
mengerutkan alisnya. Satoru ikut mengerutkan alisnya juga. Keduanya kini tampak
saling menatap dengan serius.
“Hoaaaahm…
Besok pagi saja kita lanjutkan… mataku sudah tak kuat lagi…” ujar Nami seraya
merebahkan tubuhnya di atas kasur. Satoru menggerutu sebal karena tadinya ia
mengira Nami akan mengatakan sesuatu.
Esoknya….. ( H-7 )
Pagi
itu, Satoru sudah bergerak kesana-kemari tampak gelisah.
“Nami….!
Bangun..! Heeeei… Tukang tiduuur…” Satoru sejak tadi berkoar-koar di atas kasur
untuk membangunkan Nami. Sebelumnya ia sudah mencoba mengguncangkan tubuh Nami
namun tak bisa. Tangannya berkali-kali menembus tubuh Nami.
“Ng….
bentar lagi, ah Bu…” jawab Nami masih setengah sadar.
“Bu..?” gumam Satoru. Satoru mulai jengkel karena
usahanya tak membuahkan hasil. Tiba-tiba saja ia punya ide. Ia mendekati Nami
dan merapatkan wajahnya di hadapan Nami.
“Namiii…
Ayo, banguuuuun…..” ujarnya dengan sedikit menakut-nakuti.
Sontak Nami terbangun mendengar suara aneh
itu. Begitu membuka mata ia tambah terkejut melihat Satoru yang sedang berbaring
menatap wajahnya.
“Huwaaaaaaaa…. Kau siapa..?!” teriak Nami. Refleks ia melempar bantal,
namun jelas saja bantal itu menembus Satoru.
“Eh…. Kau si roh itu, ya…? Maaf… aku lupa…”
ujar Nami.
“Roh…?
Hiiih mendengarmu menyapaku begitu, lama-lama tak enak didengar juga…. mulai
hari ini aku punya nama, Amano Satoru..
Itu namaku..! Panggil aku Satoru, ok?” ujar Satoru pede. Nami hanya mengangguk.
Sementara itu di dapur, ibu yang tadi sempat mendengar
teriakan Nami kini buru-buru menghambur ke kamar Nami. Sebelum membuka pintu,
ia samar-samar mendengar suara Nami yang sedang bercakap-cakap sendiri.
Penasaran, ia mencoba menguping.
“Lalu, kenapa kau membangunkanku…..?” tanya
Nami. “Aku belum pernah bangun sepagi ini… kecuali kalau ada study tour….”
“Aku ingin kita melanjutkan pembicaraan
kemarin…” terang Satoru.
“Aaah.. pembicaraan tentang gadis itu…?” tanya
Nami. “Gadis yang kau lihat sesaat sebelum kematianmu itu….? Tapi kau tak bisa
mengingat wajahnya, ya kan?”
“Iya…. Agak aneh kan? Aku tak bisa mengingat
jelas semua kejadian itu, tapi yang kuingat hanya disaat aku sudah tertusuk…”
ujar Satoru.
“Lalu… apa yang kau rasakan saat melihatnya?
Apa kau merasa bahagia, marah, sedih atau…”
“Aku merasa sedih….” Jawab Satoru sebelum Nami
sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Artinya…. Ada sesuatu yang belum sempat kau
ucapkan padanya… mungkin kata-kata seperti selamat
tinggal… Ah..!” ujar Nami terpotong.
“Ah..?” Satoru mengulangnya.
“Kemungkinan besar, gadis inilah yang menjadi
pengganjalmu, Satoru…!” ujar Nami lega karena kini ia mengerti semua teka-teki
itu.
“Pengganjal….?
Gadis itu…..?” tanya Satoru seakan tak percaya.
“Ya… aku yakin sekali… karena itulah kau sulit
mengingatnya…. Dalam jangka waktu tujuh hari ini kita harus temukan gadis
itu…!” Nami seakan mendapatkan suntikan semangat baru. “Karena itu…. Cobalah
kau ingat-ingat nama gadis itu…”
Satoru mengernyit. “Mungkinkah…. Dia itu orang
yang berharga…..?”
“Hmm… bisa saja gadis itu keluargamu,
sahabatmu atau mungkin… gadis yang kau
cintai….” Ujar Nami dibarengi dengan respon terkejut oleh Satoru. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang
berputar-putar di kepalanya seperti saat sebelum ia mengingat namanya. Ia pun
kembali mendengar suara seseorang yang berbisik menyebutkan sesuatu di dalam
kepalanya.
DEG DEG DEG DEG DEG
“Yuu…na…” ujar Satoru pelan.
“Eh..?” tanya Nami heran.
“Yuuna..! Oikawa Yuuna…! Ah, aku
ingat nama gadis itu….! Kau menyaksikannya sendiri kan, Nami…?”
Satoru sendiri tampak bingung karena tanpa
sadar ia bisa mengingat nama gadis yang tak dikenalnya itu. Sementara itu, Nami
hanya tersenyum tipis.
Kemungkinan kali ini aku akan berat untuk
menyaksikan roh satu ini menemui pengganjalnya. Karena sepertinya, ini adalah
kisah sepasang kekasih yang dipisahkan maut, batin Nami.
BRAK
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Nami kaget
melihat ibunya memasang tampang ketakutan saat menatapnya. Nami baru sadar
bahwa sejak tadi ibunya sudah berada disana. Gawat, pikirrnya.
Tanpa basa-basi, ibunya datang menghampirinya
lalu berbisik.
“Jangan bilang kalau kau bawa hantu lagi ke
dalam rumah ini….”
Nami hanya tersenyum mesem.
“Aaaaah…. Ibu sudah bilang berapa kali sih…
jangan bawa hantu ke dalam rumah..! Ibu jadi tidak tenang…!” omel ibunya histeris.
“Habis mau bagaimana lagi…? Kasihan kalau dia
dibiarkan nanti malah benar-benar berubah jadi hantu jahat, loh… ibu mau..?”
tantang Nami. Ibunya bergidik ketakutan.
“Aaaah… pokoknya jangan biarkan roh itu
berlama-lama disini…!” ujar ibu sambil berlalu. Nami hanya menghela napas.
“Entah kenapa Tsuji-chan dan ibu tak pernah
tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan roh dan semacamnya. Sejak
pertama kali kuceritakan, mereka tak pernah percaya sampai aku berhasil
membuktikannya dengan hal-hal yang diluar akal sehat…” gumam Nami seraya
beranjak ke kamar mandi.
Satoru yang menyaksikan itu hanya bisa
tertunduk, merasa dirinya sudah benar-benar mengganggu dan merepotkan saja.
Tanpa sepengetahuan Nami yang sedang berada di kamar mandi, Satoru memutuskan pergi
tanpa pamit. Ia ingin berusaha sendiri mencari tahu pengganjalnya itu.
Tak berapa lama kemudian, Nami membuka pintu
kamar mandi. “Aaah… segarnya…. Ng..? Roh itu sudah pergi….?” Nami celingukan
menatap tiap sudut kamarnya namun ia tak menemukan Satoru. Wah, dia bersemangat
sekali, pikir Nami.
Sementara itu di tempat lain. Tepatnya di
sebuah sekolah yang tak jauh dari sekolah Nami. Terlihat segerombolan anak
perempuan sedang berbincang-bincang.
“Hei, hei kalian tahu tidak...? Ternyata Amano
meninggal karena bela-belain menolong seseorang loh….”
“Hah? Masa sih..?”
“Iya, pamanku yang bekerja di kantor polisi
memberitahuku kalau orang yang sudah menusuk Amano-kun sampai tewas itu sengaja
menyerahkan diri kemarin…”
“Hah..? Kok bisa..?”
“Katanya sih, pembunuh itu ketakutan karena ia
terus-terusan digentayangi arwah Amano-kun…”
“Hah..? Yang benar…? Hei, bagaimana menurutmu,
Yuuna-chan..?”
Nama yang tak asing lagi kedengarannya. Ya,
dialah si Yuuna itu. Oikawa Yuuna, gadis yang sedang dicari-cari. Gadis berambut
pendek ini memiliki tatapan yang sejuk seperti Tsuji.
Yuuna pun merasa terkejut karena tiba-tiba
saja ia dilibatkan dalam percakapan, dengan perasaan gugup kini ia menoleh ke
arah teman-temannya itu.
“Ah… aku rasa mungkin saja itu benar… pastilah
Amano-kun marah pada orang itu! Karena Amano hanya berniat menolong gadis itu kan… tapi kenapa malah
menusuknya begitu…” ujar Yuuna.
“Gadis..? darimana kau tahu kalau Amano tewas
karena menolong seorang gadis…?” tanya salah seorang temannya. “Aneh.. padahal
aku kan belum memberitahukan hal itu…”
Yuuna terhenyak. Ia kelepasan bicara.
Buru-buru ia pergi meninggalkan teman-temannya.
“Tunggu sebentar, Yuuna-chan.. bisakah kau
menjelaskan pada kami terlebih dahulu..? Bagaimana kau bisa tahu hal itu…?
Belum ada satupun berita yang menyiarkan hal ini… Aku sendiri bisa tahu karena
pamanku yang bekerja di kantor kepolisian yang memberitahukannya padaku.. ”
salah seorang temannya yang bernama Nohara Mizue itu buru-buru mencengkeram
pergelangan tangan Yuuna dengan kasar.
Yuuna tak bisa menutupi perasaan gugupnya saat
ditatap dengan tatapan heran oleh teman-temannya. Yuuna yang terdesak, dengan
sekuat tenaga melepaskan cengkeraman itu. Ia langsung berlari, sementara
teman-temannya kini saling menatap dengan penafsiran yang berbeda-beda. Mereka
mulai membuat dugaan-dugaan yang berkaitan dengan tingkah aneh Yuuna saat itu.
“Apakah kalian berpikiran sama sepertiku…?”
tanya Mizue kepada teman-temannya.
“Ah…. Salah satu keluarga Yuuna juga bekerja
di kantor kepolisian dan memberitahukan itu padanya…?” salah seorang di antara
mereka menebak dengan pede. Mizue dan yang lainnya tampak seperti
mengacuhkannya.
“Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan tingkahnya belakangan
ini, tiap kali kita mengungkit masalah tentang kematian Amano, dia tak pernah
peduli malah terlihat ingin menghindari kita… masa sih ia tak peduli pada
Amano, padahal Amano itu kan teman sekelas kita bahkan dulu ia juga sempat
dekat dengan Amano, kalian tahu itu kan…? Sepertinya ia sedang terlihat mencoba
menutupi sesuatu..” ujar Mizue. “Atau jangan-jangan… gadis yang ditolong Amano
itu…?.”
Yuuna kini bersembunyi di balik kamar mandi.
Ia tak mengerti kenapa ia tak bisa berbohong saja tadi dengan mengatakan bahwa
salah satu keluarganya ada yang bekerja di kepolisian lalu memberitahukan itu
padanya. Memang benar, demi menyelamatkan dirinyalah Amano sampai tewas
terbunuh. Karena itu, ia merasa takut dibenci oleh teman-temannya seandainya
hal ini diketahui oleh mereka semua.
“Amano… dasar bodoh…! Sudah berapa kali aku
katakan padamu untuk tidak mempedulikanku..! Kalau saja waktu itu kau tidak
datang menolongku.. sekarang ini kau pasti masih…. Hiks hiks hiks..” Yuuna tak
kuasa membendung air matanya kala ia mengingat Satoru. Ia pun tak menyadari
bahwa Mizue sejak tadi sudah mengupingnya dari luar.
“Yuuna-chan…? Kau disini..?” Yuuna kaget
mendengar suara Mizue yang datang mencarinya. Buru-buru Yuuna menghapus air matanya. “Kenapa
kau tiba-tiba berlari begitu..? Apa perutmu sakit sekali sampai-sampai kau
tidak kuat menahannya ya, hahaha..”
Yuuna kaget mendengar ucapan Mizue. Ah, benar
juga. Ini bisa dijadikan alasan bagus, pikirnya. Lalu ia pun menyahut dari
balik pintu.
“I..iya… perutku tiba-tiba sakit…. Maaf, ya..
kalian tidak berpikir yang macam-macam kan…?” Yuuna lalu membuka pintu kamar
mandi itu sambil tertawa kecil. Ia melangkah ke wastafel dan mencuci tangan
dengan santainya. “Ayo, kembali ke kelas..” Tanpa ada rasa curiga Yuuna
mengatakan itu sambil tersenyum menatap Mizue. Ia masih belum menyadari Mizue
yang sejak tadi sudah menatapnya tajam.
Mizue tersenyum sinis menatap Yuuna sambil
mengangkat alisnya.
“Heh…! Kau menelan mentah-mentah perangkapku,
dasar bodoh…” ujar Mizue. “Kau kira aku akan mempercayai bualanmu itu…?”
Yuuna tersentak kaget mendengar ucapan Mizue
barusan.
“Kusangka kau sudah banyak berubah,
Yuuna-chan… tapi nyatanya kau masih saja seperti yang dulu… Apa kau belum sadar
juga kalau kali ini kau sudah membuat berapa banyak korban…? Tak kusangka Amano
itu bodoh juga, ya.. bisa-bisanya ia jatuh cinta pada gadis pengundang maut sepertimu…!”
Dengan tatapan tajam, Mizue meninggalkan Yuuna
yang masih syok setelah mendengar kata-kata kejam yang baru saja dilontarkan
padanya.
Gadis
pengundang maut…? batin Yuuna. Ia merasa benar-benar terpukul setelah mendengar
julukan yang sudah lama tak didengarnya itu. Kini matanya mulai tampak berkaca-kaca.
Tak jauh dari sana , Satoru sedang asyik
berputar-putar kesana kemari. Ia berganti-ganti posisi sambil mencoba mengingat
gadis yang ada di ingatannya itu. Tiba-tiba saja tatapannya tertuju pada bangunan
sekolah yang dirasanya tak asing di ingatannya. Penasaran, ia lalu menyusuri
sekolah itu dengan santai.
Sementara itu di sekolah Nami…
“Nami.. aku diberitahu Akiyoshi-kun, katanya
kemarin kau jatuh dari sepeda, ya… Kenapa bisa jatuh segala, sih..?” tanya
Chika.
“Ah… itu…” Masa sih kujawab karena aku kaget
melihat hantu? Batin Nami.
“Kau itu bodoh, ya? Sudah mau lulus SMA masih
belum becus naik sepeda…” omel Natsuna memotong.
“Na-chan.. jangan kasar gitu, ah..” omel Aya.
Natsuna hanya mencibir.
Nami hanya tersenyum mesem. “Eh teman-teman…
ngomong-ngomong di antara kalian ada yang tahu tidak, seputar insiden penusukan
yang terjadi di dekat perempatan XXX kira-kira seminggu yang lalu…?” tanya
Nami.
“Ng..? Itu kan perempatan yang ada di dekat
toko buku XXX…” ujar Natsuna.
“Oh… penusukan itu…! Memangnya kenapa?” tanya
Chika.
“Chika tahu..?” tanya Nami bersemangat.
“Iya… aku tahu dong, karena korban
penusukannya sendiri adalah teman satu sekolahnya Sanae….” Jawab Chika.
“Sanae kembaranmu itu…?” tanya Aya. Chika
mengangguk. “Aku heran, kalian ini kembar tapi kenapa justru sekolah di tempat
yang berbeda…?”
Chika hanya tersenyum nakal.
“Lalu, bisakah kau ceritakan kejadiannya itu,
Chika?” tanya Nami.
“Tentu saja, jadi begini ceritanya… korban yang
ditusuk itu bernama Amano Satoru, dia satu sekolah dengan Sanae… Menurut
beberapa saksi, sebelum kejadian penusukan itu sempat terdengar jeritan
perempuan, setelah korban ditusuk ternyata ia masih sempat mencoba menyelamatkan
diri dengan motornya.. Namun sayangnya, baru beberapa meter dari lokasi
kejadian itu, ia sudah mengalami pendarahan karena sepertinya tusukan itu
mengenai organ vitalnya lalu ia pun terjatuh dari motornya. Polisi yang datang
mencoba menelusuri ceceran darahnya yang ternyata bermula dari perempatan XXX…”
cerita Chika panjang lebar.
Nami, Aya dan Natsuna menyimak sambil bergidik
ngeri.
“He..hebat..! Jadi sebelum meninggal dia
berusaha menyelamatkan diri dengan menyetir motor yaaa, waaah….” Natsuna malah
merasa kagum, bukannya bersimpati. Aya yang berada di sampingnya, dengan segera
menjewer telinganya.
“Kalau begitu, sore ini aku ingin menemui
Sanae, boleh tidak Chika..?” tanya Nami antusias.
“E..Eh… boleh saja… ta, tapi untuk apa?” tanya
Chika gugup.
“Aku mau bertanya pada Sanae, apa dia tahu tentang
gadis yang bernama Oikawa Yuuna…” ujar Nami pelan. Seketika Chika melotot kaget
mendengar nama itu.
“Da, darimana kau tahu nama itu…?” tanya Chika
heran setengah mati.
“Memangnya kenapa?” Nami balik bertanya. Chika
menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis lalu ia berseru seakan
baru saja teringat akan sesuatu.
“Ah…! apa jangan-jangan… roh Amano meminta
bantuanmu, ya..?” tanya Chika dibarengi dengan tatapan teman-temannya yang
serentak tertuju padanya.
“Apa maksudmu, Chika…?” tanya Aya heran.
“Ya, pasti begitu kan… Tadi malam Chika bilang
kau itu bisa melihat roh, jadi kebetulan aku juga ingin membuktikannya… Ah…! ”
Chika spontan menutup mulutnya rapat-rapat.
Nami, Natsuna dan Aya serentak menatap Chika
dengan heran.
“Chika
bilang…? Maksudmu apa? Kau ini kan Chika….” Ujar Natsuna. “Sejak pagi tadi
aku merasa ada yang aneh denganmu… biasanya kau selalu bawel mengomentariku
macam-macam… tapi kau terlihat lebih pendiam… apa mungkin… kau ini…
SANAE…?”
JGEEER....
!!
Setelah mendengar pernyataan Natsuna, seakan
ada petir yang tiba-tiba menyambar Nami, Aya dan terutama Chika (?).
“Sa…nae…? Apa maksudmu, Natsu…?” tanya Nami
heran. Namun, Natsuna tak mempedulikan Nami, ia terus saja menatap Chika (?)
Kini Chika (?) hanya tersenyum-senyum kecil
memandang mereka bertiga dengan perasaan geli. Ia pun tak tahan menahan rasa
menggelitik dari dalam perutnya.
“Bu..BWAHAHAHHAHAHHAHA…Ah, payah nih…
seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan
terjatuh juga… oke… baiklah, baiklah.. aku mengaku, aku memang Sanae…”
jawab Sanae yang ternyata menyamar menjadi Chika.
“Heeeeeeeeeeee….?”
“Ssstt…!
Cukup kalian aja yang tahu, ya? Jangan beritahu siapapun kalau kami bertukar
tempat… termasuk juga Chika..! Jangan kalian beritahu dia ya… kalau aku sampai
ketahuan, dia pasti menolak untuk bertukar tempat lagi… Sebenarnya, ada orang
yang kutaksir di kelas ini.. karena itulah aku memohon pada Chika untuk
bertukar tempat dengannya seminggu sekali.. kami nekad melakukan ini karena
kami yakin bahwa takkan ada orang yang bisa membedakan kami..” ujar Sanae
disertai jitakan dari Natsuna yang mendarat mulus dikepalanya.
“Uuukh.. tapi ternyata… hebat juga kau,
Natsuna..! Ibu kami saja tak bisa membedakan antara aku dan Chika hingga detik
ini..!” ujar Sanae sambil mengusap-usap kepalanya.
Nami hanya tercengang mendengar pengakuan
Sanae yang benar-benar di luar dugaannya.
“Hahaha, inilah asyiknya kalau punya saudara
kembar identik yang berbeda sekolah… kalau merasa jenuh dengan rutinitas
sendiri, bisa minta bertukar dengan kembaranmu… benar kan..? Hahaha…” ujar
Sanae terbahak-bahak. Sementara itu, Natsuna terlihat geram mendengar tiap kata
yang terlontar dari mulut Sanae dan selalu siap mendaratkan jitakan
selanjutnya.
“Ah… kalau kau memang benar-benar Sanae, lalu
apa kau tahu informasi seputar gadis bernama Oikawa Yuuna itu..?” tanya Nami. “Aku
rasa sepertinya ia ada hubungannya dengan kematian Amano Satoru…”
Mendengar itu, Sanae lalu tersenyum tipis.
“Aku akan menjawab setelah kau juga menjawab
pertanyaanku terlebih dahulu… Apakah roh Amano mendatangimu…?” tanya Sanae
sambil mengangkat alisnya.
Nami mengangguk.
“Waaaah… keren….” Puji Sanae. “Baiklah baiklah…
aku akan memberitahumu info seputar Oikawa Yuuna… pertama-tama, kalian jangan
kaget ya… dia itu dikenal dengan julukan gadis pengundang maut…”
Suasana seketika mencekam.
“Kedengarannya tidak mengenakkan…” gumam
Natsuna.
Sanae kini menjelaskan semua yang diketahuinya
seputar Oikawa Yuuna kepada Nami, Aya dan Natsuna yang terlihat menyimak tiap
penjelasannya dengan seksama.
Sementara itu di tempat lain… Yuuna yang kini sudah
berada di dalam kelas, merasa terpuruk karena kini Mizue sedang menyindir
dirinya di hadapan teman-temannya tanpa menghiraukan keberadaan Yuuna yang juga
ada disana. Sementara itu, tanpa disadari oleh mereka kini roh Amano Satoru tak
sengaja sedang melintasi kelas itu.
Satoru lalu mondar-mandir di dalamnya. Anehnya,
ia merasa tak asing dengan suasana di dalam kelas itu. Ia merasa mengenal tiap
sudutnya. Terasa benar-benar nyata. Lalu ia pun menatap wajah-wajah mereka yang
sedang membuat kekacauan. “He..hei… sepertinya aku pernah melihatmu…. Ah, kau
juga…. Ah kau yang disana juga….! Kenapa ini… ? Sepertinya aku pernah melihat
kalian semua entah dimana….” Gumam Satoru. Lalu tiba-tiba saja tatapannya
tertuju pada Oikawa Yuuna yang saat itu sedang duduk sambil menundukkan
kepalanya. Ia menghampiri Yuuna dengan perasaan tidak karuan. Ah, gadis itu..!
Batin Satoru.
DEG DEG DEG DEG DEG
Kembali sekelebat bayangan hitam mengepungnya,
membuat kepalanya terasa pusing. Bayangan-bayangan itu mulai berubah menjadi
kepingan ingatan yang terus berputar-putar di dalam kepalanya. Kepingan ingatan
itu menampilkan ia yang sedang duduk dan berlari-lari di dalam kelas bersama
teman-temannya.
Beberapa saat kemudian, bayangan hitam itu
lenyap. Satoru membuka matanya perlahan lalu menatap seisi ruangan. “Ja..jadi…
dulunya aku pernah duduk disana..?” gumam Satoru sambil menatap sebuah bangku
kosong yang kini di atas mejanya terdapat sebuah vas bunga, sebagai tanda mereka
masih mengenang dirinya. “Inikah kelasku…? Benarkah dulunya aku pernah berteman
dengan mereka semua yang sekarang ada disini…? Lalu gadis itu…. Benarkah gadis
itu Oikawa Yuuna…?”
Sementara itu, di depan kelas tampak Mizue
yang masih cuap-cuap dengan semangat berapi-api. Tanpa merasa bersalah ia
terus-menerus menjelek-jelekkan Yuuna di hadapan teman-teman sekelasnya.
“Kiritani-kun dan Nakagawa-kun nekad berduel
habis-habisan demi dirinya. Akibatnya sekarang, Kiritani-kun menjadi buta dan
Nakagawa-kun kehilangan telinganya sebelah… lalu, kalian pasti masih ingat
Tsunobu-kun kan? Dia juga bernasib tragis karena tewas bunuh diri setelah
cintanya ditolak olehnya, kalau memang tidak suka, dari awal jangan ngasih
harapan dong… Dan parahnya lagi, baru-baru ini pun Amano-kun tewas demi
berusaha menolongnya… benar-benar gadis pengundang maut… apa diantara kalian
masih ada yang nekad mati demi dirinya..??”
Tiba-tiba langkah Satoru terhenti setelah
mendengar provokasi dari Mizue. “Eh…?
Amano..? Mereka sedang membicarakanku…?” gumam Satoru bingung.
BRAK
Tiba-tiba saja semua dikagetkan dengan suara
meja yang dipukul keras oleh seseorang. Semua mata tertuju pada seorang
laki-laki yang duduk di bangku paling belakang itu. Ia adalah Kotobuki Jun,
sahabat Amano semasa hidup, seseorang yang mencoba memecahkan kegaduhan dengan caranya
sendiri. Seisi kelas menjadi hening. Lalu ia menatap Mizue kesal dan mulai
bangkit dari posisi duduknya.
“Hei, Mizue… Asal kau tahu saja, jangan kau
hubungkan kematian Amano dengan rentetan kebodohan ini..! Kiritani dan Nakagawa
bertindak seperti itu karena kebodohan mereka sendiri, itu keputusan mereka..
tak ada kaitannya dengan Oikawa… Terlebih lagi tindakan Tsunobu yang sia-sia
itu… atas dasar apa ia nekad bunuh diri hanya karena masalah sepele begitu..?!
Itu juga karena pemikirannya saja yang tak normal dan tak ada hubungannya
dengan Oikawa…. Begitu juga dengan kematian Amano, itu murni karena kasus
pembunuhan..! Kalian semua juga tahu hal itu, kan..! ” Ujar Jun berbalik
memprovokasi teman-temannya yang semula mulai terbawa pada hasutan Mizue. Ia
sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi setelah mendengar celotehan tak masuk
akal yang dilontarkan Mizue sebelumnya.
“Jun….” gumam Satoru yang tak percaya pada apa
yang baru saja didengarnya. Jun nekad menentang Mizue yang terkenal mahir
menghasut teman-temannya itu.
“Kotobuki-kun…. Kenapa kau justru
membelanya..?! Bagaimana kalau nantinya dia membuat korban berjatuhan lagi…?”
Mizue dengan segala cara masih mencoba menghasut teman-temannya agar membenci
Yuuna.
“Mizue-san… aku tahu alasanmu bertindak sampai
sejauh ini… Bukankah sejak dulu kau selalu merasa cemburu pada Oikawa-san…?
Karena Amano menolakmu demi Oikawa..?” ledek Jun.
Mizue
terbelalak kaget mendengar ucapan Jun yang baginya bagai petir di siang bolong.
Ia terlihat sangat shock dan sampai tak mampu berkata apa-apa. Jun telah
berhasil membuatnya bungkam dan tak berkutik lagi.
Satoru lalu teringat hari dimana ia tak bisa
membalas perasaan Mizue. Ia tak pernah menyangka bahwa akibat dari tindakannya
semasa hidup, malah menumbuhkan kedengkian di hati Mizue sampai seperti itu.
Waktu pun berlalu. Tanpa terasa senja sudah
terbentang di ufuk barat. Tak jauh dari sana, Nami dkk; pun sudah bersiap
pulang.
“Syukurlah dengan keadaan begini aku yakin
bisa membantunya mengingat Oikawa Yuuna itu.. Semakin cepat maka semakin baik,
benar kan..?” ujar Nami lega.
“Hehehe, oh ya… apa sekarang dia ada di sekitar kita…?” tanya Sanae.
Nami menggeleng.
“Tidak ada… tadi pagi dia tiba-tiba menghilang
entah kemana… Biarlah, mungkin dia berniat mencari tahu sendiri dulu… Aku
berharap semoga berita ini dapat membuatnya kaget setibanya di rumah nanti…”
ujar Nami sambil menjulurkan lidahnya sedikit. “Habisnya dia sudah membuatku
cemas karena lebih dulu mengingat namanya dibandingkan nama pengganjalnya itu… Kenapa
bisa begitu ya…?” tanya Nami heran.
“Entahlah… firasatku mengatakan… ini pasti ada
kaitannya dengan hubungan mereka yang memburuk sesaat sebelum Amano tewas….” Ujar
Sanae.
“Apa maksudmu…? Bukankah mereka itu sepasang
kekasih…?” tanya Nami.
“Ya, memang sih kalau sekilas pasti disangkanya
seperti itu…” Sanae menatap Nami tajam. “Tapi, kenyataannya… Amano itu telah ditolak
oleh Oikawa Yuuna.. Menurut kabar yang tersiar, tampaknya ia menolak Amano
karena merasa kapok untuk jatuh cinta… ia takut hal-hal buruk terjadi pada
Satoru, makanya ia menghindari Satoru, namun… Amano tak kunjung menyerah sampai
akhirnya ia berakhir seperti itu…”
Nami terkejut bukan main setelah mendengar
pernyataan Sanae, lalu ia teringat Satoru. Dalam hatinya ia berharap semoga
Satoru mampu bertahan melalui hari-hari terakhirnya ini.
Chapter
2- End
Fujiwara Nami (17th)
Seorang gadis yang memiliki kemampuan
untuk melihat hal-hal diluar panca indera manusia. Mampu melihat dan
berkomunikasi dengan arwah. Meskipun terlihat agak cuek dan sedikit keras
kepala, namun dia ini tipe orang yang tidak banyak omong namun siap membantu
jika diperlukan.
“7
Days” {Chapter
3 : Sad Love Story }
“Oikawa
Yuuna…” gumam Satoru sambil terus menerus membuntuti Yuuna. “Kenapa kau terus
mengusikku…? Benarkah dulu aku pernah menyukaimu…?”
Yuuna
yang saat itu sedang berjalan pulang, tanpa sengaja melihat Kotobuki Jun yang
sedang ramai-ramai pulang bersama teman-temannya. Ia teringat pada ucapan Jun
yang terdengar seperti telah membela dirinya di hadapan Mizue. Buru-buru ia
menghampiri Jun.
“Ah…
Kotobuki-kun…! Tunggu sebentar…” Yuuna berlari mengejar Jun. Jun dan
teman-temannya menoleh ke arah Yuuna, namun Jun langsung membuang muka.
“Uukh…
dasar si Jun, dari dulu sikapnya memang tak pernah berubah pada tiap perempuan…”
gerutu Satoru kesal.
“Sok
cool…” ejek Satoru sambil menjulurkan
lidahnya kea rah Jun.
Yuuna
tetap tersenyum menatap Jun yang telah mengacuhkan dirinya. “Tadi itu… terima
kasih ya…aku…”
“Jangan
salah paham dulu, deh..! Bukannya aku ini sengaja membantumu ataupun membelamu…
Aku hanya tak senang melihat tingkah bodoh Mizue-san yang terus menerus membawa
nama Amano, sementara ia tak tahu bagaimana penderitaan yang dirasakan Amano
semasa hidupnya…” ujar Jun santai memotong ucapan Yuuna. “Aku tak tahu apa yang
terjadi di antara kalian berdua sebelumnya, tapi aku yakin bahwa kaulah yang
menjadi penyebab mengapa Amano terlihat murung akhir-akhir itu…”
“Maaf…
itu semua memang kesalahanku…” jawab Yuuna pelan.
“Ternyata
benar kau telah menolaknya ya..?” tanya Jun sinis.
Yuuna
hanya terdiam, tak tahu harus berkomentar apa.
“Aku
tak pernah mengatakan kalau aku tidak membencimu, kan? Asal kau tahu saja, aku
juga membencimu, tapi bukan karena aku terhasut oleh Mizue-san… tapi
aku membencimu karena telah menyakiti hati Amano yang tulus menyayangimu hanya
karena kau takut menghadapi kenyataan…!”
Jun
dengan cuek membiarkan Yuuna berdiri mematung setelah melontarkan kata-kata
kejam pada gadis itu. Dengan santai ia mengajak teman-temannya untuk
meninggalkan Yuuna sendirian. Tetesan air mata kini jatuh membasahi pipi Yuuna
yang tertunduk menangis.
DEG
DEG DEG DEG DEG
Setelah
mendengar itu semua kini Satoru merasa dirinya terhuyung-huyung. Lagi-lagi,
bayangan-bayangan hitam itu mengerubunginya dan berubah menjadi kepingan
ingatan yang terus berputar-putar.
“UWAAAAAAAAAAAAAAAAA………..!!”
Satoru
berteriak kencang karena kini kepalanya terasa seperti mau pecah. Kenangan-kenangan
semasa hidupnya kini mulai tersusun satu demi satu. Ia meremas kepalanya
sendiri karena saking tak kuatnya menerima transfer memori dalam sekejap dan sebanyak
itu di dalam ingatannya.
Sedetik
kemudian, bayangan hitam itu lenyap dan membuat dirinya lemas. Lalu ia membuka
matanya perlahan dan menatap Yuuna yang ketika itu masih menangis di sebelahnya.
Perlahan ia melangkah mundur dengan gontai. Matanya masih menatap Yuuna dengan
tatapan kesedihan, ketakutan dan amarah sesaat sebelum ia menyusur terbang
menuju kediaman Nami.
Sementara
itu, Nami yang memang sejak awal sudah tiba di rumah, kini tampak tak sabar
ingin menyampaikan info yang ia dapat dari Sanae kepada Satoru.
Tiba-tiba
saja, dari kejauhan ia melihat sosok Satoru yang sedang menyusur terbang ke
arahnya. Namun, entah mengapa ia merasa ada yang aneh pada Satoru.
“Ah…
kau sudah pulang, Nami…?” tanya Satoru pelan.
Nami
menatapnya heran karena tampaknya Satoru kurang bersemangat.
“Kau
terlihat murung… apa yang terjadi…?” tanya Nami tanpa firasat apapun. “Ah…!
Hei, Satoru, aku ingin menyampaikan berita bagus nih…”
“Berita…
bagus…?” gumam Satoru heran.
“Ya….
Ini berhubungan dengan Oikawa Yuuna…! Sekarang aku sudah tau siapa gadis itu,
dan coba tebak… ternyata gadis itu satu sekolah denganmu…. tapi….” Ujar Nami
bimbang.
“Tapi
kenapa…?” tanya Satoru yang berpura-pura tak tahu apa-apa.
“Tapi…
dia mendapat kesan yang buruk di mata teman-temannya karena sebuah takhayul
yang mereka buat sendiri…. Ia dijuluki gadis pengundang maut…” ujar Nami pelan
seraya menatap Satoru dengan cemas.
“Oh….
Ah… begitukah….?” Satoru masih berpura-pura tak mengetahui apapun.
“Dan…
ternyata… dulu kau sempat menyukainya… Namun….” Ujar Nami terputus, ia tak
sanggup melanjutkan ucapannya. Satoru menyeringai.
“Namun
dia menolakmu… itu kata-kata yang ingin kau sambung, benar kan?” tanya
Satoru sambil membaringkan tubuhnya di kasur.
Nami
terkejut setelah mendengar ucapan Satoru. Sementara itu, Satoru hanya menghela
napas panjang.
“Haaaah..
sudah..? Itu saja yang ingin kau sampaikan…?”
“Eh…?”
tanya Nami heran.
“Kalau
hanya itu yang ingin aku sampaikan, maka…” ujar Satoru sambil bangkit berdiri.
“…aku mengucapkan terima kasih karena selama beberapa hari ini aku sudah
merepotkanmu… tapi, sepertinya masalah ini hanya aku yang bisa membereskannya,
tak perlu bantuan orang lain…” ujar Satoru santai.
Nami
hanya bisa tercengang mendengar apa yang baru saja dikatakan Satoru.
“Jadi….
Kau berniat menyelesaikan ini semua sendirian…?”
tanya Nami memastikan.
Satoru
mengangguk. Nami mengerutkan alisnya, ia merasa tersinggung karena Satoru
menganggapnya tak berguna.
“Oh….
Baik..! Kalau memang itu maumu, ya sudah lakukan saja sesukamu… Asal jangan
salahkan aku kalau nantinya kau gagal lalu berakhir sebagai roh gentayangan…!”
Nami kesal.
“Okeeee….
Memang itu mauku…! lagipula dari awal kau memang keberatan untuk membantuku
kan…? Kalau begitu selamat tinggal, Nami…!!”
Satoru
langsung terbang menyusur menembus jendela kamar Nami.
Esoknya…. (H-6)
Satoru yang ingatannya sudah pulih sepertinya
tak kuasa menerima kenyataan pahit bahwa ia tewas demi menyelamatkan gadis yang
sudah menyakiti hatinya. Untuk meyakinkan dirinya, lalu ia memutuskan untuk
membuntuti Yuuna sepanjang hari.
Sementara
itu di sekolah Nami…
“Dasar
bodoh hantu satu itu… paling-paling juga… dalam waktu beberapa hari lagi dia
bakal minta maaf dan menyesal sudah ngomong begitu…” gerutu Nami melampiaskan
kekesalannya pada teman-temannya.
“Ya
sudahlah, hargai saja keputusannya itu.. Tapi Nami masa tega tak memberi
bantuan apapun padanya?” ujar Aya.
“Iya
benar.. kan kau sendiri yang mengajaknya pulang bersamamu, kau sendiri yang
bilang kalau kau akan menolongnya kembali ke alam baka dan bla bla bla…”
Natsuna menambahkan.
“Payah
nih, tak bertanggung jawab…” Chika ikut-ikutan menambahkan.
Nami
geram, alisnya mulai berkedut-kedut.
“Iya,
iya baiklah !! Lalu kalian ini ingin aku melakukan apa, hah ??” omel Nami
kesal.
Selembar
kertas disodorkan ke hadapan Nami oleh Chika.
“Apa
ini?” tanya Nami heran.
“Alamat
rumah Oikawa Yuuna… Aku yakin ‘dia’ pasti sedang berada disana…” ujar Chika
sambil menunjukkan senyum lebarnya.
Nami
menatap Chika penasaran.
“Kali
ini kau….benar-benar Chika kan?” tanya Nami. Natsuna dan Aya ikut menatap
Chika.
“Kalian
ini bicara apa, sih?” tanya Chika heran. “Sudah ini ambil saja, Sanae yang
menitipkannya untukmu, katanya ini penting…”
“Oh…
jadi kau yang menceritakan semuanya pada Sanae, begitu ya?” tanya Aya.
“Hah?
Bukan begitu.. Sanae yang menceritakannya padaku… Bukannya kalian juga
bersamanya kemarin?” ujar Chika polos tanpa menyadari bahwa perkataannya itu
sudah menguak perbuatan konyolnya dengan kembarannya itu. Ketiga temannya hanya
menatapnya heran sekaligus geli.
“Nami,
kali ini kau HARUS membantunya.. Jangan meninggalkannya sendirian untuk kedua
kalinya… !!” ujar Chika menambahkan.
“Baiklah,
terima kasih teman-teman..” Nami tersenyum senang.
Sepulang
sekolah…
Benar.
Apa kata Chika benar. Aku tak boleh membuat Satoru berlama-lama tersiksa di
dunia fana ini. Dia harus segera kembali ke alamnya. Karena dunia ini sudah
bukan menjadi tempatnya lagi.
Nami
menyusuri jalan menuju kediaman Oikawa Yuuna. Arah menuju rumah Oikawa tampak
asing baginya, karena ini pertama kalinya ia mendatangi kawasan itu. Langkah
Nami terhenti di depan sebuah rumah yang yaaah… sangat mewah menurutnya.
Sehingga untuk sesaat membuat Nami memandangi tiap sudutnya penuh kekaguman.
Lamunannya
sirna sesaat setelah ia sadar kembali akan maksud dan tujuannya datang ke rumah
itu. Buru-buru ia memencet bell yang ada di samping pagar tinggi itu.
“Ya,
siapa?” tanya suara dari bell.
“A,
anu… Apa benar ini kediaman Oikawa Yuuna-san..?” tanya Nami gugup.
“Ya,
benar.. Anda siapa? Ada keperluan apa?”
“Saya
ini teman dari temannya Yuuna-san..” jawab Nami.
“Hah?”
“Ah,
maksud saya… Saya mau bawakan titipan dari Amano Satoru..” ujar Nami.
Ap,
apa yang baru saja aku katakan? batin Nami.
“…….Si,
silakan masuk…”
Nami
heran, ternyata ucapannya yang spontan tadi membuahkan hasil.
“Ah,
terima kasih….” jawabnya.
Lalu
pintu pagar terbuka otomatis. Nami langsung berjalan ke arah pintu masuk ruang
tamu. Sedetik kemudian, pintu itu terbuka dan Nami disambut oleh seorang gadis
yang tampaknya adalah pelayan di rumah itu.
“Ah..
Selamat datang.. Mohon maaf, Nona Yuuna saat ini belum pulang… Anda mau
menunggu sebentar atau mau langsung menitipkan barangnya?” tanya pelayan itu
ramah.
“Oh,
ah… kalau orangnya tak ada, ehm.. besok saja, deh… Soalnya titipan Amano itu
bukan benda melainkan kata-kata… kalau begitu, saya permisi…” ujar Nami.
“Tu,
tunggu dulu… Nama Anda siapa?”
“Fujiwara..
Fujiwara Nami.. saya permisi..”
Walau
sedikit kecewa, namun Nami lega karena sepertinya Amano Satoru cukup dikenal di
kediaman Oikawa Yuuna. Itu artinya, paling tidak dulu hubungan antara mereka
pernah terjalin cukup dekat.
Beberapa
saat kemudian, Yuuna tiba di rumahnya. Pelayan itu langsung menghampirinya dan
memberitahukan bahwa tadi ada seorang gadis yang datang mencarinya.
“Gadis
itu mengatakan kalau dirinya adalah teman Tuan Amano…”
“Temannya
Amano?” tanya Yuuna heran.
“Ya,
dia datang untuk membawa titipan dari Tuan Amano… Dia juga mengatakan kalau
titipan itu bukan benda melainkan kata-kata... karena itulah dia akan datang
kembali besok untuk bertemu dengan Nona, seperti itulah yang dikatakannya…”
“La,
lalu apa kau menanyakan nama gadis itu?” tanya Yuuna penasaran.
Begitu
pula dengan Satoru yang sejak tadi mengekori Yuuna. Ia memiliki firasat bahwa
gadis yang dimaksud adalah Nami.
“Namanya…
Fujiwara Nami…” ujar pelayan itu disertai tatapan tak percaya oleh Satoru.
“Gadis
ini !! Aku sudah bilang untuk tidak mencampuri urusanku, kenapa dia masih
saja…” gerutu Satoru kesal sambil beranjak menuju kediaman Nami.
“Lalu,
apa Nona mengenal gadis ini?” tanya pelayan itu.
Yuuna
menggeleng sambil mulai berpikir tentang sesuatu.
Sementara
itu, Satoru sudah lebih dulu sampai di kamar ketimbang Nami. Ia menunggu
kedatangan Nami dengan perasaan geram yang memuncak.
Begitu
Nami membuka pintu kamar, Satoru langsung datang menghadangnya. Nami terkejut
dan spontan ia mengelak.
“Apa-apaan
kau ini !!” omel Nami kesal sejadi-jadinya.
“Kau
itu yang apa-apaan !! Untuk apa kau datang mencari Oikawa Yuuna, bahkan sampai
mendatangi rumahnya segala !!” Satoru balas mengomelnya.
“Ah,
anu itu…” ujar Nami terbata-bata.
“Aku
sudah pernah bilang kalau aku tak butuh bantuanmu lagi kan? Kenapa kau masih ikut
campur urusan pribadiku?” Satoru masih merasa sebal pada Nami.
“Apa
kau bilang? A, aku mencampuri urusan pribadimu? Yang benar saja….” Nami
menggerutu tak percaya dengan apa yang baru saja didengarkannya.
“Memang
jelas begitu kan?” Satoru makin memanas.
Nami
sudah melotot tak tahan dengan ucapan-ucapan pedas yang dilontarkan Satoru
terhadapnya. Namun tiba-tiba saja ia teringat akan pesan Chika. Lalu ia pun berusaha
meredam kekesalannya, berusaha setenang mungkin memberikan penjelasan pada
Satoru.
“Ehm,
dengar ya… Aku tak pernah berniat untuk mencampuri urusan pribadimu atau apapun
itu… Disini aku cuma berniat membantu… Cuma membantu… Kau paham?” Nami
menggertaknya.
“Aku
tak butuh bantuan darimu ! Aku sudah pernah bilang kan?”
Satoru
masih keras kepala dan tak mau mengalah. Ia sangat yakin walau tanpa Nami ia
tetap mampu menyelesaikan masalahnya.
“Aku
berikan kau TIGA penjelasan… yang pertama : Orang yang tak takut padamu cuma
aku… yang kedua : Orang yang bisa melihat dan mendengarmu tiap saat tanpa
merasa takut padamu itu cuma aku… lalu yang ketiga : Orang yang bisa bicara
denganmu dan bisa melihat dan mendengarmu tiap saat tanpa merasa takut padamu
itu cuma aku…”
Satoru
baru menyadari hal itu, namun ia berusaha tetap stay cool dan menantang Nami. Meskipun jelas-jelas wajahnya sudah
diliputi rasa gugup.
“La,
lalu memangnya kenapa? Apa itu bisa dijadikan alasan kuat bahwa kau bisa
seenaknya mencampuri urusanku?”
“Tentu
saja ! Memangnya kau pikir ada orang lain yang bisa membantumu selain aku?
Memangnya kau pikir ada orang lain yang bisa menjadi penghubung antara kau dan
gadis itu selain aku?” Nami menggertaknya. “Bahkan jika memang ada, waktumu
yang tersisa akan habis hanya untuk mencari orang selain aku itu…”
Satoru
benar-benar terpojok. Akhirnya ia pun mengalah dan meminta maaf atas sikapnya.
“Aku…
aku hanya merasa orang lain tak perlu mengetahui ini semua…”
Nami
menatapnya dengan penuh simpati.
“Tapi
menurutku lebih baik jika kau tidak memendamnya sendirian…” ujar Nami.
Satoru
menghela napas panjang.
“Kau
sudah tau kan, kalau dia dijuluki sebagai pengundang maut?”
Nami
mengangguk.
“Ya,
aku juga sempat memberikan julukan yang sama padanya… Kau bayangkan saja mengapa
kesialan yang beruntun seperti itu bisa datang pada tiap orang yang berusaha
mendekatinya… Haha…” Satoru tersenyum kecut.
“Itu
tidak ada hubungannya dengan Oikawa Yuuna, kan? Itu cuma kebetulan dan takhayul
yang dibuat-buat…” Nami membela Yuuna.
“Ya,
kau benar….”
Lalu
Satoru pun mulai menceritakan saat pertama ia mulai simpati pada Yuuna.
Flahback>>>>
Hari
itu, Satoru sedang ziarah ke makam ayahnya. Selesai berdoa, ia terpesona
melihat seorang gadis cantik diseberangnya yang juga sedang ziarah. Gadis itu
tampak sangat khusyu’ berdoa. Lalu perlahan gadis itu mulai menangis.
“Maafkan
aku…” ujar gadis itu sambil berusaha menghapus air matanya. Gadis itu pun
beranjak pergi meninggalkan pusara itu.
Satoru
perlahan menghampiri pusara yang baru saja diziarahi gadis itu. Ia penasaran
siapa gerangan pemilik pusara yang sudah membuat gadis cantik itu menangis.
Pusara
itu masih tampak baru. Mungkin ini kekasihnya, gumam Satoru. Namun alangkah
terkejutnya Satoru setelah mengetahui siapa pemilik pusara itu sebenarnya.
“Tsunobu
Akira? Namanya sama dengan anak kelas sebelah yang meninggal bunuh diri itu…”
gumam Satoru. Dan benar saja, saat ia melihat tanggal wafatnya baru berjarak
seminggu.
“Jangan-jangan,
dugaanku benar… Lalu gadis yang baru saja datang itu… Mungkinkah dia…?” gumam
Satoru. Lalu ia buru-buru mengejar gadis itu. Satoru tampak lega, ternyata
gadis itu masih menunggu di halte.
“Oikawa
Yuuna-san?” Satoru menyapanya. Gadis itu spontan menoleh ke arah Satoru.
“Wah,
pantas saja Tsunobu tergila-gila padamu…” ujar Satoru menggoda.
Bersamaan
dengan itu, sebuah bis berhenti di halte itu. Buru-buru Yuuna kabur dan
menyuruh supir bis segera berangkat.
“He,
hei ! Tidak sopan ! Aku belum selesai bicara !! Hoi !” Satoru buru-buru
mengejar bis itu sampai ke halte berikutnya. Dengan napas tersengal-sengal ia
segera naik ke dalam bis dan mencari sosok Oikawa Yuuna. Gadis itu tampak
berusaha menutupi wajahnya dengan majalah agar tak dikenali Satoru.
Satoru
tertawa kecil saat ia menyadari bahwa Yuuna berusaha menghindarinya. Perlahan
Satoru menghampiri tempat duduk Yuuna, dan ia pun duduk di sebelah Yuuna dengan
rasa puas teramat dalam.
Yuuna
yang mulanya merasa risih kini mulai merasa kesal.
“Apa-apaan
kau ini !! Kenapa kau mengikutiku !!” Bisik Yuuna dengan tatapan tajam.
“Ah,
ya… aku lupa memperkenalkan diri… Aku Amano Satoru, kita ini teman satu
sekolah… Aku tak menyangka bahwa aku akhirnya bisa melihat langsung gadis
terkenal sepertimu, hehe…” ujar Satoru riang. Sementara Yuuna tampaknya masih
tak senang dengan ucapan maupun tingkah Satoru terhadapnya.
“Lalu
apa maumu?” tanya Yuuna sinis.
“Hiii…
jangan judes begitu dong… aku hanya ingin menawarkan diri menjadi temanmu… itu
saja… aku tahu kalau kau itu kesepian, semua temanmu menjauhimu karena konon
kau membawa kutukan…”
“Hahaha,
lalu untuk apa kau berteman denganku? Kau sendiri juga akan terkena kutukan itu
nantinya..” ujar Yuuna santai.
“Ya,
semoga saja kali ini kutukan yang baik…”
Satoru
tersenyum lebar. Yuuna menatapnya datar.
“Ya,
terserahmu sajalah… tapi jangan salahkan aku kalau nantinya kau kena sial ya..”
“Haha,
tidak akan !!”
Satoru
mulai mencairkan suasana dengan merampas majalah yang ada di tangan Yuuna.
Yuuna pun tak mau kalah, ia tetap menggenggam erat majalahnya.
Hari itu, menjadi awal kedekatan mereka. Setelah
cukup lama bersahabat, keduanya kini sudah seperti pasangan yang tak bisa
dipisahkan. Dimana ada Yuuna disitu ada Satoru. Kedekatan mereka sempat menepis
gelar negatif yang disandang Yuuna. Namun itu tak berlangsung lama. Karena,
gadis-gadis yang cemburu pada kedekatan mereka kini mulai menyebarkan
gosip-gosip itu pada adik-adik kelas yang baru masuk di tahun ajaran baru.
Yuuna
adalah tipe gadis yang lemah dan mudah merasa khawatir. Gosip-gosip itu
ditelannya bulat-bulat sehingga ia memutuskan untuk menjauhkan dirinya dari
Satoru.
Sementara
itu di tempat lain, Satoru tengah bersiap-siap untuk menyatakan perasaannya
pada Yuuna. Ia mendapat dukungan dari sahabat-sahabatnya.
“Ingat
ya, traktir kami setelah ini !!” ujar Kotobuki Jun.
“Haha,
oke oke…” ujar Satoru tampak bersemangat.
“Jangan
khawatir, kami yakin 1000% kau pasti diterima oleh “Miss Charming” itu… Haha”
ujar Jun menambahkan.
“Haha,
ya semoga saja…” Satoru tampak gugup, ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Lalu ia pun menghampiri Yuuna yang saat itu sedang
piket.
“Hei…”
Satoru menyapanya.
“Oh,
hei..” Yuuna balas menyapa.
Keduanya
tampak canggung.
“Ah,
anu…” ujar keduanya bersamaan.
“Ah,
kau duluan saja..” ujar Yuuna. Satoru tampak kebingungan harus memulai dari
mana.
“Ah..
Ng… Begini… Ada yang ingin aku tanyakan padamu…” ujar Satoru.
“Tanya
apa?”
“Ah…
anu… kita kan sudah lama bersahabat… menurutku mau sampai kapan kita hanya
bersahabat? Ah, maksudku… sepertinya kita boleh meneruskan persahabatan kita ke
arah yang lebih serius.. Ah.. Ng… maksudku….” Satoru berulang kali
menggaruk-garuk kepalanya, tampak benar-benar gugup. Ia kehabisan kata-kata.
Sementara itu, Yuuna ternyata menangkap maksud perkataan Satoru.
“Maksudmu
kita…. Berpacaran…?” tanya Yuuna memancing reaksi Satoru.
Satoru
ternganga tak menyangka bahwa Yuuna berhasil menebak apa yang akan
diucapkannya.
“Ah?
Ya… Ya semacam itulah… hehe.. Bagaimana menurutmu?” tanya Satoru bersemangat.
“Bagaimana
menurutku? Hmm… menurutku itu bagus…” ujar Yuuna datar.
“Be,
benarkah?” tanya Satoru penuh kebahagiaan. Saat itu entah kenapa ia diliputi perasaan lega dan nyaman, perasaan
yang sama seperti dulu ia mendapatkan pelukan hangat dari mendiang ayahnya.
“Ya…
menurutku itu alasan yang bagus untuk menyudahi persahabatan ini…”
“Eh?”
Satoru kaget sekaligus tak paham maksud ucapan Yuuna barusan, namun kini
firasatnya mengatakan kalau Yuuna tak senang dengan pertanyaan Satoru.
“Awalnya
berdalih ingin menjadi teman biasa, lalu mulai berubah menjadi sahabat, lalu
kini apa? Pacar? Hahaha, semua laki-laki sama saja… Ternyata memang benar, tak
ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan… pada akhirnya
semua sama saja…” ujar Yuuna sinis.
Satoru
hanya tersenyum kecut.
“Apa
kau lupa dengan ucapanmu sendiri waktu dulu pertama kita bertemu di bis? Kau
bilang kalau kau hanya ingin menjadi temanku, itu saja… bukankah itu yang kau
katakan? Lalu kenapa sekarang kau jadi seperti ini?”
“Seiring
berjalan waktu… A,aku semakin ingin mengenalmu lebih dari sekedar teman ataupun
sahabat… Aku ingin menjadi orang yang pertama.. yang pertama membelamu, yang
pertama melindungimu, yang pertama tahu tentang apa yang kau pikirkan, yang
pertama kau rindukan… yang pertama membuatmu sedih dan bahagia…” ujar Satoru.
“Apa aku tak bisa menjadi orang tersebut, Yuuna…? Kau sama berartinya bagiku
seperti aku menyayangi ayahku… Apa kau tahu? Kau selalu membuatku mengingat
ayahku…”
“Kenapa
kau menyamakan aku dengan orang yang bahkan sudah tak ada di dunia ini? Aku ya
aku, ayahmu ya ayahmu… Kalau kau sebegitu sayangnya dengan ayahmu, kenapa kau
tidak sekalian menyusulnya saja?” Yuuna menanggapi dengan ketus sambil berlalu,
membuat Satoru syok teramat sangat.
“…….Aku
tak menyangka dari mulutmu bisa keluar kata-kata menyakitkan seperti itu…” ujar
Satoru sambil berusaha menahan tangisnya.
Yuuna
menoleh ke arah Satoru yang masih menatapnya dengan penuh kekecewaan, lalu ia
beranjak pergi dengan rasa penyesalan dalam hatinya. Sebenarnya Yuuna sengaja
melakukan itu agar Satoru membencinya, dengan begitu gelar buruk yang
disandangnya itu akan menyusul hilang setelah ini.
Sementara
itu di lain pihak, sepotong ucapan itu masih terngiang di telinga Satoru sampai-sampai
ia mematung tak berdaya.
“Baiklah,
baiklah… Anggap saja aku tak pernah mengatakan itu semua dan aku juga akan
menganggapmu tak pernah mengatakan yang baru saja kudengar tadi… Dengan begitu
kita impas kan? Ayo kita berbaikan, teman?” ujar Satoru sambil menjulurkan
tangannya meskipun ia sadar bahwa Yuuna sudah tak ada disana. Tangisnya pun
pecah seketika.
Beberapa
saat kemudian, Satoru menghampiri teman-temannya yang sedang menunggu di
tongkrongan. Mereka bersiul-siul menyambut kedatangan Satoru. Satoru berusaha
tampak ceria di hadapan teman-temannya, meskipun kini batinnya sangat terpukul
dengan apa yang baru saja dialaminya. Namun ia tak ingin teman-temannya
mengetahui itu semua.
“Inilah
dia…. Pahlawan yang ditunggu-tunggu !! Hahaha…” teman-temannya bersorak
kegirangan karena menyangka bahwa kini Satoru dan Yuuna sudah jadian.
“Hahaha…
Ayo ayo mana traktirannya?” ujar Jun yang ikut gembira.
Satoru
melebarkan senyumnya berusaha untuk tetap tegar di hadapan sahabatnya.
“Oke…
Let’s gooooo…!!” serunya.
Paling
tidak, aku masih punya sahabat yang mampu menguatkanku, batinnya. Satoru
bertekad untuk melupakan Yuuna yang cukup handal menancapkan luka mendalam di
batinnya. Rasa sakit hati yang akan memakan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkannya.
Berbulan-bulan
kemudian….
Satoru
lihai menutupi konflik pribadinya dengan Yuuna. Jika di keramaian, ia bersikap seperti
biasa dengan Yuuna. Namun jika hanya mereka berdua, untuk menatap Yuuna sedetik
pun Satoru merasa enggan. Apalagi untuk bertegur sapa. Sepertinya perubahan
sikap Satoru itu telah menyadarkan Yuuna akan perasaannya terhadap Satoru. Ya,
saat kau telah kehilangan seseorang maka kau baru menyadari betapa berartinya
orang itu bagimu.
Senja
itu, seperti biasa Satoru dan gerombolannya mampir sejenak ke toko buku untuk
membeli majalah dan komik terbaru.
“Hei,
Amano… kami mau pulang nih, buruan..” ujar Jun seraya menepuk bahu sahabatnya
itu.
“Kalian
duluan aja… Aku masih lama nih kayaknya..”
“Bisanya
baca gratis melulu, payah kau ini…!!” canda Jun.
“Kalau
isinya bagus nanti kubeli kok…”
“Heeee…
mana mungkin begitu… kau pasti nantinya berpikir begini: Ah aku sudah pernah
baca untuk apa aku beli ini, sama saja pemborosan…” ejek Jun. Satoru hanya
tersenyum mesem.
“Ya
sudah kalau begitu kami pulang duluan ya, sampai besok..” ujar Jun seraya
beranjak pergi meninggalkan Satoru. Satoru spontan melambaikan tangannya pada
Jun tanpa membalas salam dari Jun.
“Aneh,
tumben anak itu melambaikan tangan padaku..” gumam Jun. Ia tak menyadari bahwa
itulah firasat. Di kemudian hari ia baru menyadari bahwa Satoru melambaikan
tangan padanya itu mengisyaratkan salam perpisahan.
Dalam
perjalanan pulang, Satoru mendengar sayup-sayup suara gadis meminta tolong. Ia
langsung memburu asal suara tersebut. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis
disekap dan hampir dilecehkan oleh seorang berandalan di sudut gang sempit.
Spontan Satoru menghajar berandalan itu sampai babak belur. Setelah puas
melampiaskan amarahnya, Satoru menoleh ke arah gadis yang ditolongnya itu.
Alangkah terkejutnya ia saat menyadari bahwa gadis yang ditolongnya itu tak
lain adalah Oikawa Yuuna. Begitu pula dengan Yuuna yang tampak ketakutan, ia
terkejut bukan main saat mengetahui bahwa Satoru yang telah menyelamatkannya.
“A…Amano…”
ujar Yuuna gemetar. Satoru buru-buru membuang muka karena kini ia mulai
menangis setelah mengetahui apa yang akan dialami Yuuna seandainya saja ia tak
datang menolongnya.
“Lihatlah,
apa jadinya kau jika tanpa aku…” gumam Satoru tak kuasa membendung air matanya,
ia pun tak sanggup lagi menyembunyikan perasaan cemasnya itu dan langsung
memeluk Yuuna dengan perasaan rindu yang teramat dalam. Yuuna pun ikut menangis
bersamanya. Keduanya menumpahkan segala emosi yang terpendam dalam hangatnya
pelukan.
Namun
tanpa disadari oleh keduanya, berandal itu ternyata belum seutuhnya pingsan. Di
balik punggung Satoru, ia bangkit dan langsung menusukkan pisau tepat ke arah
Satoru.
Satoru
langsung jatuh tersungkur disertai jeritan kencang dari Yuuna.
“La…Lari….”
ujar Satoru pelan. Namun Yuuna masih terdiam syok menyaksikan Satoru yang
tengah berlumuran darah di hadapannya. Ia merasa tak tega jika harus meninggalkan
Satoru dalam keadaan seperti itu.
“LARI
!!! LARI, BODOH….!!!!” teriak
Satoru. Yuuna pun dengan berat hati meninggalkan Satoru. Namun berandal itu
tampaknya belum puas, ia pun mengincar Yuuna. Dengan segenap tenaga, Satoru
berusaha menahan kaki berandal itu dengan kedua tangannya.
“Padahal
sudah sekarat tapi masih banyak tingkah !! Dasar bocah ingusan !!”
Lagi-lagi
berandal itu menusuk perut Satoru tanpa merasa berdosa sedikit pun.
“AAAAAAKHH
!!”
Satoru
meringis kesakitan, namun berandal itu tak mempedulikannya dan berusaha lari
memburu Yuuna. Dalam keadaannya yang seperti itu pun, Satoru masih mencemaskan
Yuuna. Ia berharap Yuuna dapat menyelamatkan diri dan mencari pertolongan
baginya.
Namun,
Yuuna yang tak kunjung kembali. Dalam keputusasaan ia memutuskan untuk
menyelamatkan dirinya sendiri. Dengan segenap tenaga yang tersisa, ia berusaha
menggapai motornya sambil menahan sakit yang amat luar biasa itu, lalu perlahan-lahan
ia mulai mengendarai motornya. Hanya selang beberapa saat setelahnya, Satoru
mulai mengantuk dan semakin mengantuk.
Sedetik
kemudian, ia roboh. Tubuhnya terhempas di jalan sementara motornya tergelincir
jauh dari tubuhnya. Beberapa orang yang lalu lalang di jalan sepi itu, seketika
mengerumuninya. Menyaksikan tubuhnya yang sudah terbaring sekarat.
Dalam
detik-detik ajalnya itu, sayup-sayup ia mendengar bisikan di telinganya.
“Kalau kau sebegitu
sayangnya dengan ayahmu, kenapa kau tidak sekalian menyusulnya saja?”
“Ah,
begitu ya… benar juga..” batin Satoru.
Chapter 3-End
Oikawa Yuuna (17th)
Gadis lemah yang mengalami tekanan hidup cukup berat. Penghakiman
buruk terhadap dirinya telah membuatnya kapok mendekati orang yang mengaku
naksir padanya. Merupakan pengganjal sekaligus gadis yang ditaksir Satoru
semasa hidup.
“7 Days” {Chapter 4 : The Reason }
Mata
Nami berkaca-kaca saat menyimak cerita dari Satoru yang menurutnya sangat
memilukan. Ia menatap Satoru yang masih bercerita dengan penuh hikmat. Satoru
melirik Nami yang kini sedang memandangnya.
“Kenapa
kau menatapku seperti itu?” tanya Satoru tampak risih.
“Ah,
memangnya aku menatapmu bagaimana?” tanya Nami penasaran.
“Ya,
begitulah… Matamu itu ! Seakan kau
sedang menyaksikan melodrama saja… Kenapa kau seperti ingin menangis begitu?”
“Ah,
masa sih?” Nami mengusap-usap matanya.
“Inilah
alasan kenapa aku malas menceritakan yang sebenarnya padamu, pada akhirnya kau
hanya bisa mengasihaniku saja… !” gerutu Satoru.
“Ah,
aku menangis bukan karena aku mengasihanimu… Tapi, menurutku kisahmu itu memang
menyedihkan…” ujar Nami polos.
“Sama
saja, bodoh…” umpat Satoru kesal. “Ah, ya… tapi aku masih penasaran… Bagaimana
kau bisa tahu rumahnya?”
“Ada
deh pokoknya… Itu tak usah kau pikirkan…” ujar Nami seraya membaringkan
tubuhnya di kasur. “Ah ya, aku salut padamu… Ternyata kau ini diam-diam berbakat
menjadi seorang ‘stalker’…” ejeknya sambil melirik ke arah Satoru.
“Ap,
apa? Stalker?” Satoru langsung bereaksi mendengar ejekan itu. Bersiap beradu
mulut dengan Nami untuk kesekian kalinya. Nami tersenyum geli.
“Sudah
ah, aku mau tidur…” gumam Nami berdalih.
Satoru
menghela napasnya. Mau tak mau ia akhirnya mengalah dan membiarkan Nami tidur.
Sementara itu ia sendiri hanya berdiri di depan jendela sambil menatap rembulan
yang bersinar terang pada malam itu.
Esoknya… (H-5)
“Apa?
Jadi sore ini kau benar-benar akan datang ke rumahnya lagi?” tanya Satoru yang
tampak tak tenang.
“Ya,
lalu kenapa? Ini memang satu-satunya cara untuk menemukan alasan mengapa gadis
itu tak kembali menolongmu pada malam itu…”
Satoru
hanya terdiam.
“Baiklah,
aku berangkat dulu ya… Dan kau, silakan bersenang-senang dengan hobi barumu
itu..”
Nami
mulai membisikkan sesuatu di telinga Satoru.
“….Stalker…”
bisik Nami.
Satoru
langsung jingkrak-jingkrak sebal mendengar julukan barunya itu. Sedangkan Nami
hanya terbahak-bahak melihat reaksi Satoru.
Pagi
itu, Satoru benar-benar datang mengunjungi Oikawa Yuuna ke sekolahnya. Ternyata
hantu ini benar-benar beralih profesi menjadi stalker sejati.
Di
dalam kelas ia berdiri mengambang tepat di samping Yuuna yang sedang duduk
sambil mengerjakan tugas mulai dari jam pelajaran pertama hingga jam pelajaran
kedua.
Satoru
tak menyadari bahwa kehadirannya telah menimbulkan hawa kutub untuk gadis yang
ada di sampingnya itu. Yuuna berkali-kali merasa dingin di sekujur tubuhnya. Ia
pun berkali-kali mengusap lehernya, dan berpikir bahwa ia sedang tak enak
badan.
Sementara
itu di tempat lain…
Pada
jam istirahat itu, Nami dan teman-temannya berdiskusi perihal kenyataan yang
semalam baru saja Satoru ceritakan padanya.
“Jadi
maksudmu…. Malam itu sebenarnya Amano-kun tewas karena mencoba menolong seorang
gadis, dan ternyata… Gadis yang ditolongnya itu adalah Oikawa Yuuna-san?” ujar
Chika mencoba memperjelas pernyataan Nami.
“….Dan
gadis itu malah pergi begitu saja setelah ditolong olehnya?” sambung Aya dengan
mimik sedih.
“Apa-apaan
si Oikawa Yuuna ini? Kenapa dia tidak cari bantuan? Kalau saja ia segera
melakukannya pasti Amano-kun masih bisa terselamatkan... Dasar tidak tahu balas
budi..” gerutu Natsuna geram.
“Nah
itu juga yang membuatku kepikiran… Memang sih nyatanya Satoru-lah yang
menyuruhnya untuk lari menyelamatkan diri, tapi apa sepantasnya ia pergi
meninggalkan orang yang hampir sekarat begitu sendirian di tempat sepi seperti
itu?” ujar Nami.
“Benar-benar
membuat kesal saja… Ah..! Aku punya ide ! Bagaimana kalau sepulang sekolah
nanti kita berempat langsung bertanya saja ke Oikawa Yuuna-san… Apa alasan dia
tega berbuat seperti itu? Kalau nantinya ia memberikan alasan yang tak masuk
akal…Aku akan… aku akan…!!” seru Natsuna geram. Namun Aya buru-buru
menenangkannya.
Sore
itu seusai sekolah, Nami dan teman-temannya bergegas menuju kediaman Oikawa
Yuuna. Namun tiba-tiba saja ibu Nami menelpon dan mengabarkan bahwa Tsuji, baru
saja mengalami kecelakaan dan saat ini ibunya sedang menjenguknya di rumah
sakit.
“Ap,
apa bu? Tsuji-chan kecelakaan…?” tanya Nami tak percaya. Ketiga temannya yang
menguping pembicaraan itu pun sama kagetnya dengan Nami.
“Itu
tadi Tsuji-kun keserempet motor saat ibu dalam perjalanan pulang dari pasar..
Ibu lihat ada kerumunan, dan ternyata Tsuji-kun sudah terbaring pingsan,
untunglah saat itu ibu berada tak jauh dari lokasi tabrakan…” ujar Ibu
menjelaskan panjang lebar.
“La,
lalu bagaimana keadaannya saat ini…?” tanya Nami dengan penuh kecemasan.
“Untungnya
tidak terlalu parah, hanya perlu perawatan saja, kemungkinan besok pagi sudah
bisa pulang… Tenang saja…”
Meskipun
saat itu ibu menyuruhnya untuk tenang, namun dalam hatinya Nami tetap tak bisa
merasa tenang.
“Nami…
bagaimana keadaan Akiyoshi-kun? Apa tidak sebaiknya kita menjenguknya saat
ini?” tanya Aya yang tampaknya mampu membaca kecemasan yang sedang dirasakan
Nami.
Akhirnya
Nami dan teman-temannya memutuskan untuk menunda kunjungan ke kediaman Oikawa
Yuuna pada sore itu. Mereka bergegas menuju rumah sakit dimana Tsuji dirawat.
Setibanya
di kamar pasien, Nami menyaksikan Tsuji yang sedang berbincang-bincang dengan
ibu Nami. Tanpa menghiraukan ibu dan teman-temannya, Nami langsung saja memeluk
Tsuji yang saat itu masih berbaring di tempat tidur.
“Na,
Nami..?” Tsuji kelihatan sangat kaget melihat reaksi Nami yang secara tiba-tiba
itu.
“Untunglah
kau tidak apa-apa…” ujar Nami lega sambil menitikkan air matanya.
Tsuji
tersenyum lalu mengelus-elus kepala Nami.
“Tidak
apa-apa bagaimana? Lihat nih tanganku…” dengan mimik jahilnya, Tsuji memamerkan
tangannya yang baru diperban itu.
“Hahaha…”
Nami dan teman-temannya pun tertawa melihat ulah Tsuji.
“Ah,
ya… Nami, ibu pulang duluan ya.. Ibu belum siapkan makan malam… Nanti pulangnya
kan beramai-ramai jadi ibu tidak khawatir…” ujar ibu Nami sambil bersiap
pulang.
“Terima
kasih, bibi..”
Ibu
Nami membalas dengan senyuman kecil, lalu beranjak pergi.
Nami
dan teman-temannya mulai menghibur Tsuji dengan berbagai cara.
“Ah,
ya.. Akiyoshi-kun… sebenarnya saat ini Nami sedang dalam misi penyelamatan
arwah, apa kau sudah tahu?” ujar Chika.
“Chika
!” seru Nami. Ia merasa bahwa Tsuji tak akan senang dengan hal-hal yang ada
hubungannya dengan arwah dan semacamnya. Ia menatap Tsuji heran, karena kali
ini tampaknya Tsuji mulai bereaksi.
“Oh…Ah…Lalu?
Bagaimana perkembangannya?” tanya Tsuji gamang.
Nami
seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Karena baru kali ini
Tsuji merespon pembicaraan yang berhubungan dengan arwah.
“Sebenarnya…
ada yang ingin aku tanyakan pada Tsuji-chan… kau hanya perlu menjawabnya saja
ya, jangan banyak bertanya…” ujar Nami dengan tatapan serius.
Tsuji
mengangguk disertai tatapan penuh tanya di wajah ketiga temannya.
“Seandainya
aku diserang oleh berandalan lalu kau datang menolong… Tapi ternyata, berandal
itu balik menyerangmu dan menusukmu, kemudian kau berteriak menyuruhku untuk
pergi… Jika keadaannya seperti itu, apakah Tsuji-chan benar-benar ingin aku
pergi?” tanya Nami.
GUBRAK
Chika
dan yang lainnya kaget bukan main dengan pertanyaan Nami yang sangat konyol
itu.
“Dasar
bodoh ! Apa-apaan ! Pertanyaan macam apa itu? Kau ingin Akiyoshi-kun celaka
ya?” omel Natsuna.
“Aku
kan sudah bilang itu seandainya…” gumam Nami pelan sambil melirik Tsuji yang
tampak syok dengan pertanyaan Nami barusan.
“Oh..
Haha.. Pasti ini ada hubungannya dengan misi penyelamatan arwah, ya? Baiklah
akan aku jawab… Ng.. kalau seperti itu posisinya sih, terserah Nami saja… Kalau
aku sendiri pastinya tak mau melibatkanmu dalam bahaya, tapi kalau boleh jujur
pastinya aku juga tak mau ditinggal sendirian kan?”
“Begitu
ya.. sudah kuduga..” gumam Nami.
“Yah,
sudah sewajarnya kan laki-laki bersikap sok heroic, tapi apakah Nami sendiri
tega meninggalkanku dalam keadaan seperti itu?” sambung Tsuji.
Nami
berpikir sejenak, lalu ia menggeleng.
“Pastinya
aku akan berusaha mencari pertolongan… Ah, ya Tsuji-chan… Terima kasih atas
sarannya, aku harus mengerjakan sesuatu yang mendesak saat ini…”
Nami
menjelaskan pada teman-temannya bahwa ia harus menemui Yuuna saat itu juga.
Nami dan teman-temannya pamit pulang.
“Nami,
apa kau benar-benar berniat mengunjungi Oikawa Yuuna? Tapi ini kan sudah
terlalu malam, apa tidak sebaiknya besok saja?” tanya Chika.
“Tidak,
aku tak punya banyak waktu, saat ini juga aku harus tahu alasan mengapa dia tak
kembali pada malam itu.. Tsuji-chan itu laki-laki, jadi perasaannya pasti sama
halnya dengan yang dirasakan Satoru.. Aku pun masih tak paham mengapa Oikawa
Yuuna tega meninggalkannya seperti itu…” jelas Nami panjang lebar.
Setibanya
di kediaman Oikawa Yuuna…
TING
TONG TING TONG
“Siapa ya?” tanya pelayan itu melalui bell.
“Ah,
saya Fujiwara Nami yang kemarin datang mencari Oikawa Yuuna…” ujar Nami.
Pintu
pagar langsung terbuka dengan otomatis. Sementara itu, ketiga temannya tampak
berdesakan untuk masuk ke dalam rumah mewah itu.
“Hei
kalian nanti jangan bertanya yang macam-macam ya, biar aku saja yang tangani
ini..” ujar Nami mengingatkan.
“Apa?
Kenapa begitu? Curaaaaang…” gerutu Natsuna.
Namun
tampaknya Nami tak terlalu menggubrisnya. Karena saat ini Nami sendiri pun
merasa bingung bagaimana menjelaskan semua ini pada Oikawa Yuuna. Bagaimana
menjelaskan padanya bahwa saat ini ia sedang berusaha membantu seorang hantu gentayangan
yang tewas dalam keadaan patah hati karena ulahnya. Nami khawatir nantinya ia
hanya dianggap sebagai pembual.
Sementara
itu di tempat lain, Satoru tampak mencemaskan sesuatu, di dalam kamar Nami ia
berputar bolak-balik tak menentu. Tampaknya ia cemas menunggu hasil wawancara
antara Nami dan Yuuna.
“Aaaakh
!! Kenapa aku jadi tak tenang begini…?” seru Satoru sambil terbang melayang
menuju kediaman Yuuna.
Di
kediaman Yuuna, Nami dan teman-temannya disambut dengan ramah oleh pelayan itu.
Mereka dipersilakan duduk dan dijamu dengan baik.
“Mohon
tunggu sebentar, Nona Yuuna saat ini sedang bersiap-siap…”
Beberapa
saat kemudian, Yuuna muncul dan memperkenalkan diri. Begitupun dengan Nami dan
ketiga temannya yang turut memperkenalkan diri.
“Ah,
maaf.. Aku langsung ke intinya saja ya.. Ng.. Ngomong-ngomong kalian ini
bagaimana bisa mengenal Amano?” tanya Yuuna penasaran. Bersamaan dengan itu,
Satoru muncul diantara para gadis itu.
“Ah,
sebelum aku menjawabnya… Pertama-tama ada yang ingin aku tanyakan juga padamu…”
ujar Nami. “Apa kau percaya adanya hantu?”
Yuuna
menatap Nami dengan tatapan gugup. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak.
Nami
melihat Satoru yang tiba-tiba nongol dengan tampang was-was.
“A..Aneh…
Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Yuuna. “Aku…Aku tak terlalu percaya
dengan hal semacam itu, memangnya kenapa?”
“Sebelumnya
aku mohon padamu, kau harus mempercayaiku… Meskipun apa yang akan aku sampaikan
nantinya ini seperti tak masuk akal, namun percayalah aku tidak berbohong
padamu…” Nami menjelaskan.
Yuuna
mengangguk disertai rasa gugup berkecamuk dalam batinnya. Sebenarnya ia sudah
memiliki firasat kemana arah pembicaraan ini nantinya. Namun ia berusaha untuk
tetap tenang seperti biasa.
“Seseorang
yang meninggal nantinya akan berubah menjadi roh… Apabila roh itu meninggal
dalam keadaan tak tenang, maka ia akan tertahan di dunia ini untuk mencari
pengganjalnya.. Untuk mencari pengganjalnya itu dalam waktu tujuh hari, roh
harus mengorbankan ingatannya semasa hidup, termasuk siapa dirinya,
keluarganya, teman-temannya.. Bahkan ia akan lupa penyebab kematiannya… Yang ia
tahu hanya kenyataan bahwa ia telah meninggal… Dalam keadaan seperti itulah dia
harus bisa menemukan pengganjalnya agar ia bisa meninggal dengan tenang tanpa
terbebani apapun yang berkaitan dengan dunia ini….” ujar Nami panjang lebar.
“Apa
maksudmu dengan pengganjal…?” tanya Yuuna.
“Banyak
manusia yang ketika meninggal masih saja mengkhawatirkan hal-hal yang
berhubungan dengan kehidupannya terdahulu, sehingga mengganjalnya untuk bisa
pergi dengan tenang… Misalkan saja, karena ia pernah berjanji namun belum
ditepati… Tanggung jawab yang belum ditunaikan seperti hutang dan semacamnya…
Mimpi yang belum sempat diraih… dan yang terakhir adalah kesalahpahaman yang
belum diselesaikan…” ujar Nami sambil melirik Satoru.
“A..Apa
maksudmu dengan memberitahukanku hal-hal semacam ini..?” tanya Yuuna cemas.
“Seminggu
yang lalu… Kenapa kau tidak menolongnya..? Kenapa kau justru pergi begitu saja
meninggalkannya dalam keadaan seperti itu?” tanya Nami menggebu-gebu.
Satoru
kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Nami.
“NAMI…!!!” teriak Satoru.
“…Meninggalkan..
siapa…?” tanya Yuuna dengan gemetar.
“HENTIKAN…!!
NAMI, SUDAHLAH…!!”
Nami
berpura-pura tak mendengarkan Satoru yang sedang jingkrak-jingkrak.
“Apa
aku tak salah dengar? Barusan kau bertanya : Meninggalkan siapa…?” Nami balik
bertanya pada Yuuna.
“AH
!! TERSERAHMU SAJALAH !!” seru
Satoru, lalu kabur dan menghilang. Ia belum siap mendengarkan alasan Yuuna tak
kembali menolongnya pada malam itu.
“A..Aku
tak mengerti apa maksudmu…”
“Amano
Satoru…” ujar Nami memotong. “Kenapa kau meninggalkannya pada malam itu…?”
Dalam
sekejap wajah Yuuna berubah pucat. Bibir dan tangannya bergetar. Dengan
bersusah payah ia mulai berusaha membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
“Mu…mungkinkah…
kau bermaksud untuk mengatakan… bahwa… saat ini Amano meninggal dalam keadaan
tak tenang…? Maksudmu… roh Amano… mendatangimu…?” tanya Yuuna gugup. “Kau…bisa
melihat rohnya…?”
Nami
mengangguk lalu menjelaskan padanya bahwa Yuuna-lah yang menjadi pengganjal
Amano, karena sesaat sebelum kematian Amano, Yuuna telah membuatnya sakit hati
dengan pergi begitu saja tanpa kembali untuk menolongnya.
“Apakah
ini sungguhan…? Jadi maksudmu… Amano masih ada di dunia ini… dalam wujud
arwah…? Benarkah…? Lalu, dia ada dimana sekarang…? Apa sekarang dia ada disini?
Dia ada disini kan..?” ujar Yuuna sambil berusaha menahan tangisnya.
Nami
menggeleng.
“Ada
yang ingin aku jelaskan padanya… Ada yang ingin aku katakan padanya…..” Yuuna
akhirnya tak sanggup membendung air matanya.
“Ceritakan
padaku apa yang sebenarnya terjadi… kenapa kau tidak kembali pada malam itu?”
tanya Nami sambil berusaha menenangkan Yuuna yang terus menerus menangis.
“Aku
bukannya tak berniat kembali pada malam itu… Hanya saja… Hanya saja…” ujar
Yuuna terputus. Ia mulai menangis lagi. Nami berusaha untuk menenangkannya
kembali.
Lalu
Yuuna mulai menceritakan kejadian yang terjadi pada malam itu. Sesaat setelah
Satoru menyuruhnya untuk lari, ia benar-benar ketakutan karena berandal itu
terus memburunya. Ia berniat untuk mencari pertolongan, namun karena terdesak,
ia justru berlari tak karuan sampai akhirnya ia hanya menemukan jalan yang sepi
dengan pepohonan di sekelilingnya.
Dalam
keadaan seperti itu, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara untuk
bersembunyi. Karena percuma saja, kalau ia tak selamat, maka siapa yang akan
mencari pertolongan. Namun, setelah bersembunyi ia malah tertidur karena saking
letihnya berlari.
Paginya
setelah terbangun, ia hanya bisa menangis menyesal saat mengetahui bahwa Satoru
telah tewas karena berusaha mengendarai motor dalam keadaan seperti itu. Ia pun
takut disalahkan menjadi penyebab tewasnya Satoru, sehingga ia hanya tutup
mulut.
“Mereka
semua pasti akan menyalahkanku sebagai penyebab tewasnya Amano… Amano tewas
karena mencoba menolongku… Dia tewas karena aku…” ujar Yuuna sambil menahan
tangisnya. “Kau tak tahu kan bagaimana tekanan yang kurasakan selama ini?”
“Ya,
tapi tak sepatutnya kau bungkam seperti itu…” Natsuna ikut nimbrung.
“Kalian
tak tahu kan seperti apa mereka menilaiku? Lalu kalian ingin agar aku terlihat
seolah-olah membenarkan penilaian itu?”
“Kau
terlalu memusingkan pendapat orang lain.. Sebenarnya kau tak perlu mendengarkan
ocehan mereka, tetaplah yakin pada dirimu sendiri… Kalau menurutmu penilaian
mereka itu tak seperti kenyataan yang sebenarnya kau alami, untuk apa kau
begitu mengkhawatirkannya?” Aya mencoba untuk mempertegas.
“Yang
penting saat ini aku sudah tahu alasanmu… Aku akan coba memberitahukan padanya
untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara kalian..” ujar Nami sambil
beranjak pamit.
“Ah,
tunggu sebentar… Ada yang ingin kutanyakan padamu… Mungkinkah selama ini dia
membuntutiku? Ah, maksudku… Sebenarnya dari kemarin… aku merasa seperti ada
orang yang selalu memperhatikanku.. padahal tidak ada siapapun di dekatku.. aku
juga sering merasakan dingin dan menggigil secara tiba-tiba… apakah itu
pertanda bahwa saat itu dia sedang berada di dekatku…?” tanya Yuuna.
“Ya,
itu benar…” jawab Nami singkat. “Aku rasa sebaiknya kau mengetahui hal ini…
sebenarnya dia sudah tak punya banyak waktu lagi, terhitung besok maka ia hanya
memiliki sisa empat hari saja…”
“Apa
maksudmu dengan sisa empat hari…?” tanya Yuuna.
“Ya…
Sisa empat hari baginya untuk menemukan pengganjalnya, jika dalam batas waktu
itu dia gagal menanganinya maka… arwahnya akan terjebak di dunia untuk
selamanya dan berubah menjadi roh jahat… kita pasti tak menginginkan hal itu
sampai terjadi, kan? Aku yakin, baginya kau pastilah orang yang sangat berarti,
sehingga dia nekad untuk menerima tawaran tujuh hari itu…” ujar Nami.
“Terima
kasih… Tapi, aku punya satu permohonan padamu…”
Yuuna
memohon pada Nami agar dirinya dipertemukan dengan arwah Satoru. Dia ingin
menjelaskan sendiri pada Satoru mengenai alasan dirinya tak kembali pada malam
itu. Dan tentu saja melalui perantara Nami, agar dia tahu bagaimana respon
Satoru.
“Baiklah,
aku akan membantu kalian menyelesaikan kesalahpahaman ini… Namun aku juga mohon
padamu agar ke depannya kau berhati-hati dalam setiap perbuatan dan ucapanmu,
karena dia sedang mengawasimu…”
Setelah
perbincangan itu, Nami dan ketiga temannya pamit pulang. Sebenarnya masih
banyak yang ingin Nami tanyakan pada Yuuna, namun dia enggan melakukannya. Dia ingin
bertanya mengapa Yuuna pernah menolak Satoru. Namun, Nami merasa dia tak berhak
mencampuri urusan orang lain. Baginya cukup untuk mengetahui bahwa Yuuna
ternyata tak meninggalkan Satoru dengan sengaja.
Setibanya
di rumah, Nami melihat Satoru yang sedang duduk menunggunya di ruang tamu. Nami
mengacuhkannya dan tetap melangkah menuju kamarnya. Satoru mengekorinya.
“Hei…”
sapa Satoru.
“Ng..?
Kenapa…?” Nami melirik Satoru.
“Itu…
dia bilang apa…?” tanya Satoru penasaran.
“Ng…?
Hahaha…”
“Kenapa,
kenapa kau malah tertawa !?”
“Hahaha
!! Habisnya kau ini, kalau memang ingin tahu jawabannya kenapa tadi malah
kabur..?” ejek Nami.
Satoru
tak menjawab apa-apa namun wajahnya menunjukkan rasa menyesal.
“Hei,
jangan ngambek dong… Aku cuma bercanda…. Sebenarnya…. Psst pssst….” Nami
membisikkan pada Satoru bahwa Oikawa Yuuna ingin memberikan penjelasan padanya
besok.
“Kau
serius…?” tanya Satoru.
“Tentu
saja, kau kira aku sedang berbohong…?” gerutu Nami.
“Dia
sendiri yang bilang kalau dia ingin bicara langsung padaku, begitu…?” tanya
Satoru.
Nami
mengangguk pelan. Satoru tampak sumringah, ia menatap Nami dengan mata yang
berbinar-binar.
“Terima
kasih…. Terima kasih banyak atas bantuanmu…” ujar Satoru dengan penuh
kesungguhan.
“Ya…
tenang saja….” ujar Nami dengan senyum lebar, sementara itu Satoru menatapnya
dengan penuh makna. Ia sangat lega karena Nami bersedia membantunya melewati
hari-hari terakhirnya.
Chapter
4 –End
“7 Days” {Chapter 5 – Poor Satoru}
Esoknya (H-4)
Pagi
itu, Satoru menemani Nami berangkat ke sekolah. Satoru mengatakan bahwa ia
sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Oikawa Yuuna. Ia merasa sangat puas
setelah mengetahui bahwa Yuuna sendiri-lah yang ingin menjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi pada malam itu. Namun, entah mengapa tetap saja ia merasa
khawatir.
“Hei,
kau ini jangan berpikir yang tidak-tidak… Aku yakin semuanya akan berjalan
lancar…” ujar Nami menenangkan Satoru.
“Tapi…
bagaimana jika aku gagal…? Bagaimana jika aku gagal menemukan alasan mengapa
dirinya yang menjadi pengganjalku ….?” Tanya Satoru dengan cemas.
“Tenanglah…
itu semua takkan terjadi..” ujar Nami sambil tersenyum.
Satoru
masih memasang mimik kekhawatiran yang terpampang nyata di wajahnya.
“Kalau
kau terus-terusan seperti ini, aku jadi malas membantumu…” canda Nami.
“Ah,
jangan begitu dong….” Satoru berusaha membujuknya. “Aku tak kenal pawang hantu
lain selain Nami, kan?”
Nami
tertawa terbahak-bahak.
“Baru
sekarang kau menyadarinya!” ejek Nami. “Baiklah, sampai ketemu nanti sore
di rumahnya, ya….!!” ujar Nami seraya
melambaikan tangan pada Satoru dan bergegas menuju gedung sekolahnya.
Satoru
hanya memperhatikan Nami dari kejauhan sambil menatap bangunan sekolah itu. Ia
pun bergegas menuju tempat dimana Yuuna saat ini berada. Tentu saja di sekolah.
Sementara
itu pada saat yang sama, tepatnya di dalam kelas yang saat itu belum terlalu
ramai, Mizue tengah bersiap menghampiri Yuuna yang sedang duduk santai sambil
menulis.
BRAK
Tiba-tiba saja Mizue menggebrak meja Yuuna. Yuuna terkejut dan
menoleh ke arah Mizue.
Mengetahui kenyataan bahwa Satoru saat ini kemungkinan sedang
mengawasinya, Yuuna berusaha untuk tidak terlihat lemah. Sehingga ia pun
memberanikan diri untuk menantang Mizue yang terkenal dengan sikapnya yang
kasar.
“Maaf, lebih baik kau bersikap sopan jika ingin memulai
perbincangan, bukan seperti ini caranya…” ujar Yuuna.
“Kau senang…? Sekarang ini kau sudah kembali terkenal seperti
dulu… Pasti kau bangga dengan gelar yang saat ini kau sandang, iya kan?” ejek
Mizue dengan sinis.
“Lalu apa urusanmu !! Bukankah ini yang memang kau inginkan ?
Seharusnya aku yang bertanya… Kau senang…?” ujar Yuunna membalikkan kata-kata
yang baru saja diutarakan Mizue.
“Dasar gadis tak tahu malu !!” saking geramnya Mizue karena merasa
dilecehkan, ia langsung menarik kerah baju Yuuna dengan kasar.
“Hey, ini bukan arena gulat…” ujar Yuuna, berusaha memancing emosi
Mizue.
“Apa katamu ? Huh, berani sekali kau mengguruiku !!” seru Mizue
dengan mencengkeram kerah baju Yuuna sekuatnya. Yuuna hanya menatap Mizue
dengan datar.
Sementara itu, di dalam kelas mulai ramai murid yang kasak-kusuk
dan berkumpul untuk menyaksikan pertengkaran kedua gadis ini. Termasuk Jun yang
ikut menyaksikan. Sialnya, pada situasi yang bersitegang itu, Satoru justru
muncul dengan ekspresi polosnya.
“Ng..? Ada apa ramai-ramai begini….?” Gumam Satoru, keheranan. Ia
pun menelusuri pusat kegaduhan itu. Ia kaget melihat Yuuna yang saat itu sedang
diperlakukan kasar oleh Mizue, namun tak seorangpun dari murid-murid itu yang
melerainya. Malahan mereka menonton dengan asyiknya.
“Hei, ada apa dengan kalian semua? Kenapa sih kalian hanya
menyaksikan mereka bertengkar seperti itu…?” ujar Satoru panik. Ia menghampiri
Jun yang dilihatnya hanya berdiam diri saja menyaksikan pertengkaran kedua
gadis itu.
“Hey, Jun ! Bukankah kemarin kau membelanya ? Kenapa sekarang kau
malah ikut-ikutan seperti mereka !!!” omel Satoru. Namun percuma saja karena
Jun tak bisa mendengar apapun yang dikatakan Satoru padanya.
“Itu benar !! Aku memang menyukai Amano-kun !! Sampai sekarang pun
aku masih tetap menyukainya meskipun dia sudah menolakku… Namun yang membuatku
tak tahan adalah kenyataan bahwa Amano-kun meninggal sia-sia demi menyelamatkan
gadis yang telah menyakiti hatinya yaitu kau !! Itu yang tak bisa
kumaafkan….!!!” Teriak Mizue disertai air mata yang mulai menetes di pipinya.
Yuuna syok mendengar ucapan Mizue yang terang-terangan itu.
“Sebenarnya, bagaimana perasaanmu padanya…? Sebenarnya apa kau menyukainya
juga…? Beritahu aku !!” Mizue berteriak semakin keras.
Seiisi ruangan itu langsung hening dibuatnya. Termasuk Jun yang
ikut tegang menyaksikannya. Jun saja merasa tegang, apalagi Satoru. Ia menanti
jawaban Yuuna dengan penuh kecemasan.
Yuuna melepaskan cengkeraman tangan Mizue perlahan-lahan dari
kerah bajunya.
“Baru disetrika tadi pagi, kau sudah buat kusut saja…” gumam
Yuuna. “Aku.... Aku selalu berpesan dalam hati bahwa sampai kapanpun aku tak
berniat untuk memiliki perasaan semacam itu padanya… Jadi, sah-sah saja kan
kalau saat itu aku menolaknya..?” ujar Yuuna sambil menundukkan kepalanya.
“Ap, apa katamu….?” Mizue seakan tak percaya bahwa Yuuna telah
nekad berkata seperti itu padahal ada banyak mata yang sedang menyaksikannya.
Begitu pula dengan Satoru, ia hanya berdiri mematung tak berdaya.
Baginya kata-kata Yuuna barusan adalah cambuk kedua yang mencabik-cabik
hatinya. Sekaligus jawaban yang tak perlu didengar untuk kedua kali nantinya.
Dengan langkah gontai, ia pun pergi meninggalkan ruangan itu
sambil mencengkeram erat tangannya. Terlihat tetesan air mata jatuh di pipinya,
namun dengan segera ia menghapusnya. Dengan wajah yang memerah karena menahan
tangis, ia pun terbang menyusur menuju sekolah Nami.
Sementara itu, Yuuna masih bungkam dan tak menghiraukan respon
dari Mizue. Perlahan ia mengangkat wajahnya.
“Seandainya… seandainya saja saat itu aku tak berpikir bodoh
seperti itu… Seandainya sekarang dia masih ada disini… Aku akan mengatakan
padanya bahwa dia adalah orang yang benar-benar bodoh, orang bodoh yang nekad
mengorbankan diri demi gadis pengundang maut seperti diriku ini… Aku akan… Aku
akan mengatakan padanya bahwa saat ini aku sangat merindukannya…” Yuuna tak
mampu lagi membendung air matanya.
Anehnya setelah mendengar pengakuan itu, Mizue malah ikut menangis
bersama Yuuna dan memeluknya. Tindakan Mizue itu membuat seisi kelas tercengang
dan kebingungan, begitu pula dengan Yuuna.
“Aku selalu ingin mendengar kau mengatakan itu… Meskipun jujur
saja, aku tak senang mendengarnya… Namun… mudah-mudahan jika Amano-kun
mendengar apa yang baru saja kau katakan, ia bisa merasa tenang di alam sana…”
ujar Mizue sambil mengusap-usap matanya. Lalu ia mengarahkan pandangan ke arah
teman-temannya yang sejak awal berkumpul menyaksikan.
“Hey, kenapa kalian semua jadi berkumpul disini !! Memangnya
kalian pikir ini pertunjukkan gratis, hah !! Sudah, sudah sana… Bubar,
bubaaaar…!!” seru Mizue berusaha meramaikan situasi yang sempat bersitegang.
Yuuna tersenyum melihat ulah Mizue yang memang selalu tak bisa
ditebak itu. Tiba-tiba saja ia teringat bahwa apa yang dikatakan Mizue barusan
ada benarnya juga. Bisa saja Satoru saat ini sedang berada di sekitarnya. Itu
artinya, Satoru juga telah mendengarkan pengakuan yang telah disampaikannya.
Yuuna merasa lega dan puas.
Namun nyatanya tak seperti yang ia bayangkan… Satoru hanya
mendengar permulaannya saja yang berujung kembali menimbulkan kesalahpahaman.
Sementara itu di sekolah Nami…
“Naaaamiiiiii…” sapa Chika.
“Ah, Chika !” seru Nami sambil menghampiri sahabatnya itu.
“Bagaimana…? Amano Satoru….?” Tanya Chika penasaran.
“Hmmmm, yaaaah saat ini dia sedang sibuk dengan rutinitas
stalker-nya…” gumam Nami.
“Eh? Stalker..? Kenapa kau menyebutnya begitu? Dasar kau ini,
hahaha…” ujar Chika geli.
“Siapa yang kau maksud dengan stalker...?”Tiba-tiba saja
Satoru muncul dengan wajah angker-nya sehingga membuat Nami terperanjat kaget.
“Eh…? Ada apa Nami…? Kenapa kau tiba-tiba kaget begitu…?” tanya
Chika, heran.
“Ah… Tidak apa-apa…” ujar Nami. Satoru langsung mengernyitkan
dahinya.
“Apanya yang tidak apa-apa…?? Sekarang aku ini apanya yang tidak
apa-apa…??” Satoru menggerutu tak jelas.
“Apa maksudmu..?” bisik Nami pada Satoru yang saat ini berjalan di
sampingnya.
“Sudahlah….!! Aku menyerah saja !!” Satoru kembali menggerutu tak
jelas.
“Kau ini kenapa sih…?” gumam Nami pelan.
Sementara itu, Chika yang saat itu sedang berjalan berdampingan
dengan Nami mulai merasakan efek hawa kutub-nya Satoru. Tubuhnya merinding dan
menggigil kedinginan. Berkali-kali ia mengusap lehernya.
“Na, Nami… Ke, kenapa disini hawanya dingin sekali ya...?” bisik
Chika pada Nami.
Nami hanya melihat dan melirik sebentar ke arah Chika. Lalu, ia
berbisik pada Satoru.
“Nanti saja kita bicara, saat ini tunggu aku disana ya…. Oke?”
Satoru hanya bisa mengangguk, padahal kenyataannya ia sudah tak
sabar ingin menumpahkan seluruh kegalauannya itu pada Nami.
“Ng…? Masa sih…? Aku tidak merasa dingin, tuh… Kau kenapa..? Sakit
ya…? Istirahat saja dulu di ruang kesehatan… Ayo aku antarkan....” ujar Nami
berbohong.
Satoru masih terus mengikuti Nami. Sesampainya di ruang kesehatan,
Nami menyuruh Chika untuk istirahat saja. Sedangkan Nami berkelit bahwa ia
hendak ke kamar mandi saat itu.
Namun beberapa menit setelahnya, Chika yang ditinggal di ruang
kesehatan itu merasakan keganjilan pada tubuhnya.
“Eh, kok..? Tiba-tiba tubuhku tidak merinding lagi…?” ujar Chika
kebingungan.
Sementara itu di luar ruangan, Nami sedang berbisik-bisik pada
Satoru dengan cukup jelas.
“Ada apa…? Kenapa jam segini kau malah kesini….? Bagaimana dengan
rutinitas stalker-mu itu…?” tanya Yuuna dengan polosnya.
“Ap, Apa…? Stalker…?” Satoru menarik napasnya dalam-dalam lalu
menghembuskannya. Nami hanya memandanginya dengan heran. “Bersyukurlah karena
hari ini aku sedang malas untuk meladenimu, Nami…”
Eh..? Dia ini kenapa lagi, sih…? Batin Nami.
“Bukannya kau bilang ingin mencari informasi seputar Oikawa Yuuna…
makanya kau….”
“Jangan sebut nama itu !!” ujar Satoru memotong.
Nami kaget melihat reaksi Satoru.
“Ke… kenapa kau teriak-teriak begitu, sih…? Ada apa lagi kali
ini…? Bukannya nanti sore kita akan mengunjungi rumahnya…? Memangnya kau tak
mau mendengarkan penjelasan darinya langsung….?” Tanya Nami padanya.
“Sudahlah… itu tak perlu… aku sudah mendengar semuanya dengan
sangat jelas di depan mata kepalaku sendiri…” gumam Satoru pelan.
Tiba-tiba saja Chika muncul di hadapan Nami dengan ekspresi takjubnya.
Nami kaget melihatnya, begitu juga dengan Satoru
“Nami… kau… sedang bicara dengan siapa….?” Tanya Chika dengan
terbata-bata.
Nami hanya bisa menelan ludah. Ia kepergok sedang berkomunikasi
dengan Satoru.
“Ah… sebenarnya aku…”
“Mungkinkah… kau sedang bersama ‘dia’…?” ujar Chika memotong
dengan wajah yang bergidik ngeri namun tetap berusaha melawan rasa takut itu.
Nami menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum kecil padanya.
“Woah…!! keren…” gumam Chika. “Jadi… hawa dingin yang tiba-tiba kurasakan
itu…. Apa mungkin Amano Satoru-lah penyebabnya…?”
“Hey, hey… Bagaimana gadis ini bisa mengetahui namaku…?” tanya
Satoru sambil melirik Nami. “Lalu apa maksudnya dengan hawa dingin barusan…?
Enak saja, dia anggap aku ini apa..?”
“Dia tidak bohong, kok…” bisik Nami pada Satoru. “Hanya saja aku
sudah terbiasa dengan hawa keberadaanmu, jadi aku tak pernah mengomentarinya…”
Satoru lalu teringat bahwa Yuuna juga beberapa kali bereaksi sama
halnya dengan Chika barusan. Akhirnya dia bisa menyimpulkan sendiri apa
penyebabnya.
“Ah, jadi begitu ya…” gumam
Satoru.
“Maaf ya, Chika… Aku tak memberitahukannya lebih awal… itu karena
aku cemas nantinya kau malah ketakutan….” Ujar Nami.
“Ketakutan….? Hahaha, tidak Nami…Sekarang aku sedang berusaha
melawan rasa takutku terhadap hal-hal semacam itu… Sejak Nami berbagi cerita
padaku tentang perjuangan Amano-kun, aku jadi mengerti bahwa roh pun sama
halnya dengan manusia… Ternyata banyak yang masih memiliki perasaan terikat
dengan kehidupannya di masa lalu… Hanya saja, wujudnya yang tak terlihat maka
kita selalu merasa takut… Padahal tak ada yang perlu ditakuti… Karena yang tak
terlihat itu belum tentu tak ada, benar kan…?” ujar Chika dengan bersemangat.
“Oh iya, Amano-kun… Kau sedang mendengarkanku juga kan…?”
Nami mengangguk mengiyakan. Ia pun lega setelah mendengar apa yang
baru saja dikatakan Chika. Ia merasa
kagum pada sahabatnya itu.
“Memangnya kau cerita apa sih padanya…?” tanya Satoru yang
kebingungan. Namun Nami hanya tersenyum saja menanggapinya.
“Amano-kun ! Berjuanglah… Semoga kesalahpahaman diantara Amano-kun
dan Oikawa-san dapat segera diselesaikan, dan Amano-kun dapat pergi dengan
tenang meninggalkan dunia ini…” ujar Chika, lalu ia melirik Nami. “Dia dengar,
kan…?” bisiknya. Nami tersenyum lalu mengangguk.
“Hei, kau dengar itu…? Barusan ada yang mendoakanmu… Kenapa diam
saja…? Wah, saking tersentuhnya kau sampai tak bisa berkomentar apa-apa ya…?
Hahaha…” ujar Nami. Kali ini ia mengatakannya dengan jelas di hadapan Chika.
Chika pun tertawa geli melihat ulah Nami.
Nami memandang Satoru yang saat itu hanya terdiam lesu. Ia bisa
membaca bahwa kali ini Satoru memang sedang punya masalah dengan Oikawa Yuuna.
Sementara itu di tempat lain….
Sepulang sekolah, Yuuna kebingungan seperti sedang mencari-cari
sesuatu. Sepanjang perjalanan pulangnya, ia terus-menerus mencari hawa
keberadaan Satoru yang tak kunjung dirasakannya sejak pagi tadi.
Bahkan saking gelisahnya, ia tak menyadari bahwa baru saja ia
berpapasan dengan gerombolan Jun dan teman-temannya. Jun memandangnya heran
karena Yuuna tampak sedang memikirkan sesuatu.
“Ah, kalian duluan saja deh, nanti aku menyusul…” ujarnya pada
teman-temannya, lalu ia buru-buru mengejar Yuuna yang saat itu masih saja
tampak kebingungan.
“Oikawa-san…” Jun mencoba menyapanya. Mendengar namanya dipanggil,
Yuuna spontan berbalik menoleh dan terkejut bahwa orang yang baru saja
memanggil namanya adalah Jun.
“Ka, kau memanggilku…?” tanya Yuuna masih tak percaya.
“Ya, memangnya kenapa…?” jawab Jun singkat.
“Ah… Oh, begitu….” Gumam Yuuna dengan heran.
“Aku ingin berbincang sebentar denganmu, apa kau punya waktu…?”
tanya Jun dengan mimik datarnya itu.
Apa ? Apa aku tak salah dengar…? Barusan dia bilang ingin
berbincang denganku…? Kenapa tiba-tiba….? Batin Yuuna, masih penuh dengan
kebingungan.
Jun lalu mengajak Yuuna untuk mengobrol di tempat lain. Bersama
dengan motornya, ia membawa Yuuna melewati perempatan toko buku, tempat dimana
Satoru jatuh bersama motornya.
“Ini adalah pertama kalinya aku melewati jalan ini sejak
mengetahui bahwa anak itu tewas disini beberapa minggu yang lalu…” ujar Jun.
Yuuna hanya terdiam karena tak tahu harus berkomentar apa.
“Aku selalu membayangkan seperti apa jadinya jika saat itu aku-lah
yang mengalami semua hal itu, bukan dirinya… Apakah dia juga akan sama syok-nya
seperti saat aku mendengar kabar bahwa sahabatnya telah tewas dengan
mengenaskan…?” sambung Jun. “Anak itu… bahkan di detik-detik mendekati ajalnya
pun masih saja menunjukkan keceriannya pada kami, padahal kami semua tahu bahwa
dia sangat tertekan pada saat itu…”
Yuuna mulai menitikkan air matanya. Sambil mengendarai motornya,
Jun kembali melanjutkan perkataannya.
“Jika mengingat semua itu, aku hanya bisa menyesali diriku yang
tak berguna sebagai sahabatnya… Kenapa saat itu aku tak menunggunya saja sampai
selesai membaca komik itu agar kami bisa pulang bersama-sama…? Dengan begitu,
dia takkan… dia takkan mengalami peristiwa naas itu…” Jun akhirnya tak kuasa
membendung air matanya lagi. Perlahan-lahan ia pun mulai menangis. Yuuna
penasaran ingin menatap seperti apa ekspresi Jun saat itu, karena untuk pertama
kalinya ia mendengar Jun menangis.
“Kami sudah akrab sejak masih SMP, kami sering berbagi cerita satu
sama lain… Saat itu, dia sangat berbeda jauh dengan dia yang kau kenal
sekarang… Dulu dia sangat pemurung dan bahkan tanpa sebab yang jelas dia sering
berkelahi, dia juga selalu mengatakan bahwa ia membenci perempuan… Aku bilang
padanya, apa nantinya kau akan menikah dengan laki-laki..? Dia terdiam lalu
mengomel tak karuan… Haha, kau pasti tertawa geli jika melihat bagaimana
ekspresinya..” ujar Jun. “Ehm, apa kau sudah tahu apa penyebab kenapa dia
sampai membenci perempuan saat itu…?”
“Aku belum pernah dengar….” Gumam Yuuna.
“Benar juga ya, mana mungkin dia menceritakan masalah ini padamu…”
Jun tersenyum kecil. “Dia jadi seperti itu karena ibunya…”
“Ibunya….?” tanya Yuuna.
“Apa kau lupa bahwa orangtuanya telah lama bercerai…? Ibunya
menikah dengan pria yang lebih muda lalu meninggalkan Satoru yang masih kecil
bersama ayahnya. Sejak itu, ayahnya selalu sakit-sakitan dan akhirnya
meninggal… Itulah alasan mengapa dia sangat menyayangi ayahnya… Kami saja tak
berani mengungkit masalah yang berhubungan dengan ayahnya, karena kami tahu
bahwa itu akan sangat menyiksanya…” ujar Jun panjang lebar. Sementara Yuuna
yang baru mendengar cerita itu, hanya tertunduk menyesal karena teringat bahwa
dulu dirinya pernah melukai batin Satoru dengan menjelek-jelekkan ayahnya.
“Karena tak ada yang mengurusnya lagi, akhirnya dia diajak tinggal
bersama ibunya… Awalnya dia sempat menolak, namun akhirnya dia terpaksa ikut…
Sampai saat ini, aku tak tahu apakah dia sudah berbaikan dengan ibunya atau
belum… Hei, kau masih mendengarkanku tidak…?” tanya Jun.
“Eh…? I.. Iya.. aku dengar…” jawab Yuuna pelan sambil
terisak-isak.
“Karena itulah, saat mengetahui bahwa dia sedang naksir seseorang…
Aku sangat penasaran kira-kira siapa yang dimaksudnya itu… Gadis seperti apa
yang untuk pertama kalinya telah menggerakkan hatinya… Setelah mengetahui bahwa
gadis yang dimaksudnya adalah kau, pada saat itu sebenarnya aku merasa cukup
terpukul juga…” ujar Jun.
Eh…? Batin Yuuna.
“Namun karena dia adalah sahabat baikku, maka aku ikut
mendukungnya untuk menyatakan perasaannya padamu… Apa kau tahu…? Hari disaat
dia berkata bahwa dia akan menyatakan perasaannya padamu adalah hari dimana
pertama kalinya kami semua melihatnya begitu berseri-seri… Kami jadi
terus-terusan menggodanya sepanjang hari itu, haha…” ujar Jun.
“Kenyataan bahwa kau telah menolaknya pun, dia tak pernah
memberitahukannya… Kami sendiri yang menyadari hal itu setelah berulang kali
melihatnya tak menegurmu saat berpapasan langsung denganmu…” Jun menambahkan.
“Itu karena dia pandai sekali berakting, jika di hadapan kami dia tampak
memperlakukanmu seperti biasanya.. Haha, jika saat ini dia masih hidup, aku
akan menyuruhnya sekalian saja menjadi aktor..”
“Ya, dia melakukannya dengan sangat mengagumkan…” ujar Yuuna
sambil terkekeh.
“Ya, dia memang sangat mengagumkan… Karena itulah aku sangat
membencimu, saat itu aku tak habis pikir sebenarnya atas dasar apa kau
menolaknya…? Jika kau menolaknya hanya karena merisaukan gosip yang tak benar
itu, maka aku benar-benar bertekad takkan memaafkanmu… Namun entah kenapa
sekarang ini meskipun aku tahu kenyataannya bahwa kau memang menolaknya dengan
alasan itu, aku justru memaafkanmu… Mungkin itu karena tadi kau mengatakan
dengan sungguh-sungguh bahwa kau merindukannya… Karena sama halnya denganku,
saat ini pun aku sangat ingin bertemu dengannya… Aku ingin mengucapkan
kata-kata yang sudah lama ingin aku sampaikan padanya… Namun jelas saja itu tak
mungkin…” ujar Jun.
“Kau… ingin bertemu dengannya…?” tanya Yuuna dengan penuh
semangat. Lalu ia pun menceritakan pada Jun bahwa ada seorang gadis yang
kemarin datang menemuinya dan mengatakan bahwa ia mampu berkomunikasi dengan
roh Satoru. Ia pun menjelaskan perihal tujuh hari itu dan kenyataan bahwa saat
ini roh Satoru terganjal karena dirinya.
“Jadi maksudmu….? Rohnya gentayangan, begitukah…?” tanya Jun tak
percaya.
“Ya… menurut apa yang dikatakan gadis itu, kemungkinan besar
rohnya saat ini sedang mengawasiku….” Ujar Yuuna dengan polosnya.
“Ap, Apa…???” Saking kagetnya Jun ia sempat hampir jatuh dari
motornya. “Ja, jadi maksudmu… Kemungkinan besar semua yang kukatakan tadi… dia
telah mendengarnya…..? Semuanya…..??” tanya Jun panik.
“Ya, mungkin saja… karena gadis itu juga memperingatkan padaku
untuk berhati-hati dalam bertindak dan mengucapkan sesuatu…” bisik Yuuna.
“Heeee…?? Kenapa kau tidak bilang dari awal…??” omel Jun.
“Eh..? Memangnya kenapa….?” Tanya Yuuna, heran.
Jun pada saat itu langsung celingak-celinguk melihat
sekelilingnya, ia tentu saja malu jika saja memang benar semua perkataannya
tadi telah didengar oleh Satoru.
Jun mengantar Yuuna sampai ke rumahnya. Sesaat sebelum masuk,
Yuuna menjelaskan padanya bahwa hari ini gadis itu akan datang lagi ke
rumahnya. Ia menanyakan apakah Jun ingin menemui gadis itu juga.
“Tidak perlu…” jawab Jun singkat.
“Tapi, bukankah tadi kau bilang ada yang ingin kau katakan
padanya…?” tanya Yuuna.
“Ya…. Itu kan kalau dia masih hidup… Yang benar saja, masa aku
berkomunikasi dengan rohnya? Memangnya aku ini pawang roh…?” ujar Jun berkelit.
“Bukan kita yang langsung bicara dengannya, tapi melalui perantara
gadis itu…” Yuuna menjelaskan.
“Lalu bisa saja gadis itu membohongimu, kan? Mungkin saja
sebenarnya dia adalah penipu yang setelah ini akan meminta imbalan tak sedikit
padamu dengan alasan telah membantumu menenangkan roh Amano… Apa kau tak pernah
berpikir seperti itu…?” tanya Jun.
“Eh? I, iya juga sih… Ta, tapi itu tak mungkin… karena dari mana
dia bisa tahu sampai sebanyak itu selain mendengarnya langsung dari Amano… Sebenarnya,
aku pun bisa merasakan hawa keberadaan Amano jika dia sedang di dekatku…” ujar
Yuuna.
“Merasakan hawa keberadaan…?” tanya Jun.
“Ya, kalau kita merasa dingin secara tiba-tiba dan sekujur tubuh
merinding itu tandanya dia sedang berada di dekat kita…” Yuuna menambahkan.
Jun langsung teringat bahwa beberapa hari ini dia memang sering
merasakannya, terutama jika dia berada di dekat Yuuna, seperti saat ia berada
di kelas pagi tadi.
“Hehe, tapi aku masih belum bisa mempercayai hal semacam itu…”
ujar Jun sambil menggelengkan kepalanya. “Ah, maaf, aku harus kembali sekarang,
sampai besok ya…” Lalu, ia pun buru-buru kembali mengendarai motornya.
“Ah, terima kasiiiih…” seru Yuuna sambil melambaikan tangannya.
Jun yang melihat itu dari kaca spionnya tersenyum tanpa menoleh ke belakang,
lalu membalas dengan melambaikan tangan kirinya pada Yuuna.
Sementara itu di kediaman Nami…
Malam itu, Nami sedang mengerjakan PR sambil sesekali melirik ke
arah Satoru yang masih tampak lesu dan hanya termenung di depan jendela.
“Hei, mau sampai kapan kau lesu begitu…?” ejek Nami. Satoru
menoleh ke arahnya.
“Seandainya aku tak berhasil ke alam baka… Apakah nantinya aku
akan benar-benar menjadi roh jahat yang bersemayam di tempat itu untuk
selamanya…?” tanya Satoru dengan mata yang berkaca-kaca. Nami kaget melihat
ekspresi Satoru yang seperti itu.
“Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Oikawa Yuu…”
“Jangan sebut nama itu lagi !! Jika sekali lagi kau menyebutnya,
maka seumur hidup aku akan menggentayangimu !!” omel Satoru dengan berapi-api.
“Hah…? Kau bicara apa sih…?” tanya Nami heran. “Jika kau bersikap
seperti ini, aku jadi menyimpulkan bahwa memang benar kau sedang ada masalah
dengannya kan…?”
“Aaaaaaakh !! Dasar siaaaaaal… !! Kenapa harus begini jadinya..?
Kenapa ini semua harus terjadi padaku…?? Aku tak mau mati menyedihkan seperti
ini…. Aku tak mau berakhir seperti ini…!!!” Satoru meluapkan seluruh emosinya
hingga menangis.
“He,.Hei… Jangan putus asa begitu, dong… Aku masih bisa
membantumu, kan…?” ujar Nami mencoba menghiburnya. Satoru mengusap matanya,
lalu menatap Nami.
“Sudahlah, Nami… Percuma saja… Aku takkan bisa ke alam baka…
Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, kelak kalau aku berubah jadi roh
jahat, aku masih tetap akan mengingatmu…” ujar Satoru.
“Hah…? Lagi-lagi kau bicara ngawur….” Gumam Nami pelan.
Satoru balas menatapnya sambil tersenyum.
Malam pun semakin larut. Nami bersiap untuk tidur. Dilihatnya
Satoru yang masih saja berdiri termenung di depan jendela sambil menatap bulan
yang bersinar pada malam itu.
Bulan itu… Mirip denganku… Berubah-ubah mengikuti fasenya… Bulan
baru, bulan sebagian, bulan purnama, bulan sabit… Kehidupan, kematian,
bergentayangan melewati tujuh hari hingga akhirnya kelak bergentayangan untuk
selamanya… Namun setidaknya fase bulan masih bisa terus berulang… Sedangkan
kehidupan adalah fase yang takkan pernah aku ulangi untuk yang kedua kalinya…
batin Satoru.
Chapter
5–End
“7 Days” {Chapter 6 – His Mother}
Esoknya (H-3)
Pagi
itu, Nami tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ia mencemaskan Satoru
yang sejak tadi telah menghilang entah kemana. Dia sangat khawatir pada nasib
roh itu ke depannya. Maka ia pun bertekad sepulang sekolah akan langsung
mengunjungi kediaman Oikawa Yuuna untuk meminta penjelasan padanya. Namun,
tiba-tiba saja di saat Nami tengah membuka pintu, Satoru muncul mengagetkannya.
“Haha…
mau sampai kapan kau lesu begitu…?” ejek Satoru mengulang persis seperti apa
yang kemarin dikatakan Nami padanya.
“Ka,
kau darimana saja… Aku kira kau menghilang dan takkan kembali lagi…” ujar Nami
dengan mata berkaca-kaca.
“Hah..?
Kenapa aku harus begitu…? Aku tadi cuma jalan-jalan sebentar untuk menenangkan
pikiranku, lalu saat aku kembali… Aku lihat kau sedang panik mencari-cariku…
Hoho, tak kusangka kalau kau sangat menyukaiku sampai seperti itu…” Satoru
menggodanya.
“Ap,
apa…? Dasar kau ini ! Wajar kan kalau mengkhawatirkan teman…?” ujar Nami
spontan.
“Teman..?”
gumam Satoru. “Hmm, begitu ya… Ah iya, aku hampir lupa..! Ada yang ingin aku
tanyakan padamu…”
“Eh?”
“Apa
mungkin pengganjal itu ada lebih dari satu…? Sebenarnya sampai sekarang ini
masih banyak yang mengganjal di hatiku, mungkin saja sebenarnya yang kemarin
itu keliru… Bukan itu pengganjalku… Tapi ada hal lain yang kemungkinan besar
adalah pengganjal yang sebenarnya… Benar, kan…?” tanya Satoru bersemangat.
“Hah…?
Apa maksudmu…?” tanya Nami, heran.
“Ng…
sepertinya… ada orang lain yang mengganjal di hatiku… saat ini aku sangat ingin
bertemu dengannya…” ujar Satoru.
“Siapa
orang itu…?”
“Ibuku…!!
Hehehe…” ujar Satoru dengan ceria.
“Ibumu….?”
“Ya…
Ibuku… Ada banyak hal yang ingin aku ketahui dari ibuku… Semasa hidupku, aku
tak sempat mencari tahu kebenarannya… Inilah saat yang tepat untuk memanfaatkan
bakat stalker itu ya, kan? Haha, sampai nanti Nami..!” ujar Satoru seraya kabur
entah kemana. Nami hanya bengong menyaksikan perubahan emosi Satoru yang begitu
mendadak kembali ceria seperti awalnya.
“Jadi
maksudnya… dia ingin mengganti pengganjal, begitu?” gumam Nami. “Yang perlu dia
tahu, hanya ada satu pengganjal baginya dan itu jelas hanya Oikawa Yuuna…
Karena sejak awal gadis inilah yang memang terus mengusiknya.. Apa
jangan-jangan dia sudah lupa kalau saat itu dia bahkan lebih dulu mengingat
namanya sendiri ketimbang nama gadis itu…?”
Nami
dapat merasakan bahwa Satoru amat mencintai Yuuna hanya dari tatapan matanya
terhadap gadis itu. Tatapan kerinduan, kesedihan dan kekecewaan yang bercampur
aduk. Ia merasa kasihan pada Satoru yang tengah melalui hari terakhirnya ini
dengan bermacam-macam rintangan.
Pada
jam istirahat di sekolah, Nami sedang berpikir keras mencari jalan terbaik yang
harus ditempuhnya demi membantu Satoru. Dia berdiri menghadap jendela kelasnya.
“Haaaaah…”
Nami menghela napas panjang. Tanpa disadarinya, saat itu Tsuji sedang berada di
belakangnya.
“Kenapa
mengeluh begitu…?” tanya Tsuji. Spontan Nami menoleh.
“Ah
! Tsuji-chan ! Kaget aku…”
“Ada
masalah apa…? Jarang aku lihat Nami mengeluh seperti itu…” ujar Tsuji.
“Ng…
sebenarnya… aku sedang memikirkan nasib seseorang….”
“Hah…?”
“Ah
! Benar juga ya…Tsuji-chan kan laki-laki pasti paham bagaimana perasaan Satoru
saat ini…” gumam Nami.
“Satoru…
siapa itu…?” tanya Tsuji.
“Eh?
Ah… dia itu… sebenarnya… roh yang saat ini sedang kubantu….” Nami menerangkan.
“Oh…
lalu ada apa dengannya…?” tanya Tsuji penasaran.
Nami
pun menceritakan masalah yang terjadi pada Satoru. Termasuk bagaimana kisah
cinta antara Satoru dan Yuuna yang menjadi penyebab terganjalnya Satoru. Namun,
sekarang Satoru malah berusaha menampik kenyataan tersebut karena suatu hal
yang belum diketahui Nami.
“Jika
aku mencari tahu lebih lanjut, itu sama saja kan kalau aku sedang mencampuri
urusan pribadi antara mereka…” ujar Nami.
“Menurutku
tidak begitu, Nami… Menurutku jalan terbaiknya saat ini adalah memang Nami yang
harus mencari tahu penyebabnya…”
“Hmm,
begitu ya.. Tapi, saat ini aku juga bingung…” ujar Nami.
“Bingung…?
Kenapa bingung…?” tanya Tsuji.
“Bagaimana
jika ternyata benar Oikawa Yuuna telah melakukan suatu hal yang mengecewakan
Satoru…? Apa yang bisa ku perbuat…? Karena meskipun aku sangat ingin membantu
Satoru, namun pada kenyataannya… Aku pun tak tahu bagaimana perasaan Oikawa
Yuuna terhadap Satoru…” ujar Nami sedih.
“Menurutku
untuk saat ini, jika ternyata keadaannya benar begitu, Nami harus bisa membujuk
gadis itu untuk berpura-pura mengatakan hal-hal yang memang sudah lama
diinginkan Satoru… Menurut cerita Nami barusan, bukankah dia meninggal dalam
keadaan patah hati…? Mungkin sebenarnya yang diinginkan Satoru adalah kata-kata
‘itu’ yang diucapkan oleh gadis itu…” ujar Tsuji menerangkan.
“Kata-kata
‘itu’…?” tanya Nami.
“Iya,
seperti ‘aku menyukaimu’… ‘aku mencintaimu’… begitulah…” ujar Tsuji.
Mendengar
kata-kata itu diucapkan langsung oleh Tsuji, membuat wajah Nami tiba-tiba saja
bersemu merah. Ia merasa seakan ucapan Tsuji barusan benar-benar ditujukan
padanya.
“Ah…
Bukan itu, ya…?” tanya Tsuji yang masih tak menyadari efek dari perkataannya.
“Ah..!
Te, terima kasih atas sarannya, Tsuji-chan.. A, aku harus menyusul Chika dan
yang lainnya dulu… Sampai nanti…” ujar Nami gugup. Tsuji masih tampak
kebingungan dengan reaksi Nami yang langsung kabur begitu.
“Sadar,
Nami.. Sadar, Nami…” gumam Nami sambil menepuk-nepuk pipinya. Lalu, ia teringat
ucapan Tsuji bahwa dirinya harus ikut campur dalam permasalahan Satoru dan
Yuuna.
“Baiklah,
baiklah… aku takkan ragu-ragu lagi ! Ini yang terakhir kalinya… Jika aku memang
ingin membantunya, maka segala cara harus kulakukan…!!” gumamnya.
Sementara
itu di tempat lain…
Yuuna
tampak duduk di kursinya dengan lesu tak bersemangat. Mizue datang
menghampirinya.
“Ada
apa denganmu..? Pagi-pagi sudah lesu begitu…?” tanya Mizue.
“Ah,
tidak apa-apa kok….” Ujar Yuuna.
“Hmmm,
begitu ya… Ah, Yuuna-chan… ngomong-ngomong besok kau ada kegiatan tidak?” tanya
Mizue.
“Besok..?
Hmm, hari minggu ya… Tidak ada, sih… Memangnya kenapa…?” tanya Yuuna.
“Ayo
kita ziarah ke makam Amano-kun… Kita belum pernah sekalipun ziarah ke
makamnya…”
Tiba-tiba
saja Jun muncul dan ikut nimbrung.
“Ziarah,
ya…? Aku boleh ikut tidak…?” tanya Jun.
“Memangnya
siapa yang mengajakmu….?” ujar Mizue.
“Aku
tidak bertanya padamu… Aku bertanya pada Oikawa-san…” jawab Jun santai. Mizue
mencibir dan menggerutu kesal.
“Eh?
Oh.. boleh saja…” ujar Yuuna sambil tersenyum tipis.
“Wah,
kalian bertiga mau ziarah ke makam Amano-kun ya…?” ujar salah seorang murid.
“Aku ikut juga dong…” ujar yang lainnya. “Hei, benar juga… kita belum pernah
kesana… aku ikut juga dong…”
Tiba-tiba
saja banyak murid yang juga ingin ikut berziarah ke makam Satoru.
“Hei,
kalian pikir ini piknik…?? Kenapa ziarah harus beramai-ramai begini, sih…??”
omel Mizue. “Kalian ziarahnya lain hari saja…!!”
“Kenapa
jadi kau yang menentukan boleh atau tidaknya, itu terserah mereka…” Jun
berkomentar. “Benar kan, Oikawa-san…?”
“Eh?
Ah… bagaimana ya…” Yuuna melirik Mizue yang masih kelihatan tak senang dengan komentar
Jun. “Aku rasa… lebih baik kalian….”
“Ya
sudah, besok kita semua pergi kesana…!!” ujar Mizue memotong.
“Eh?”
Yuuna menatap Mizue heran.
“Kalau
kalian tidak diajak pasti nantinya menyalahkan aku lagi…” gerutu Mizue sambil
kembali ke tempat duduknya. Yuuna dan Satoru memandangnya geli.
“Mizue
itu… ternyata baik juga ya…” gumam Yuuna.
“Ya,
hanya sayangnya dia suka seenaknya…” jawab Jun.
“Ya,
mirip denganmu…” canda Yuuna.
“Hah?
Apa?” tanya Jun.
Yuuna
tak berkomentar dan hanya membalas dengan senyuman. Jun ikut tersenyum
bersamanya.
“Sore
nanti… mau kuantar pulang lagi, tidak…?” tanya Jun.
“Eh?”
“Ka,
Kalau tidak mau, ya sudah…” ujar Jun sambil buru-buru kembali ke tempat
duduknya.
Yuuna
menatapnya heran, lalu tersenyum geli.
Sementara
itu di tempat lain….
Setelah
terbang menyusur cukup lama, akhirnya Satoru pun tiba di rumah ibunya. Dengan
penuh kerinduan, ia pun langsung mengitari halaman rumah tersebut, sampai
akhirnya dia menyaksikan anjingnya yang sedang bermain di halaman belakang.
Satoru tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah anjingnya itu.
Merasa
sedang diperhatikan, anjing tersebut langsung menoleh ke arah Satoru. Kaget
melihat sosok Satoru yang sedang berdiri mengambang, anjing itu spontan
menggonggong sejadi-jadinya. Sontak reaksinya itu membuat Satoru kaget bukan
main.
“He,
hei… Rocky…” ujar Satoru panik seraya melangkah perlahan mendekati anjingnya.
Anjing itu terus saja menggonggongi Satoru sembari mundur perlahan-lahan.
Satoru
pun menghampiri anjingnya dengan posisi jongkok. Ia menatap anjingnya itu
dengan sedih, karena ternyata ia sudah tak dikenali lagi oleh anjingnya
sendiri.
“Kau…
sudah lupa padaku….?”
Mendengar
suara Satoru, perlahan-lahan Rocky berhenti menggonggong. Sepertinya dia masih
mengenali suara Satoru. Anjing itu menatap Satoru dalam-dalam. Ia terus saja
memandangi wajah Satoru yang nyaris tembus pandang itu. Sedetik kemudian, Rocky
menggoyang-goyangkan ekornya sambil menjulurkan lidahnya.
“Anjing
pintar… !!” seru Satoru dengan gembira, karena ternyata anjing itu masih
mengenalinya meskipun pada awalnya sempat kaget karena melihat tuannya yang
muncul dalam sosok seperti itu.
“Ibuku…
ada di dalam kan…?” tanya Satoru pada Rocky. Seakan memahami bahasa tuannya,
anjing itu menjawab dengan menyalak sebanyak dua kali. Ia terus membuntuti
Satoru yang beranjak masuk ke dalam rumah.
Saat
Satoru mulai masuk menembus pintu depan, Rocky meracau tak jelas seakan
berusaha menghalanginya masuk. Ia memandangi Satoru dengan tatapan cemas.
“Ada
apa, Rocky…?” tanya Satoru yang heran dengan reaksi anjingnya itu. “Maaf ya…
kita bermainnya setelah ini saja… Saat ini ada hal penting yang harus
kulakukan…”
Satoru
meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Memberi kode pada Rocky untuk
diam sejenak agar tidak mengagetkan ibunya.
Namun
tampaknya, bukan itu yang dimaksud oleh Rocky. Meski telah berhenti meracau,
namun ia terus saja menatap Satoru yang masuk ke dalam rumah dengan tatapan
penuh kecemasan. Entah apa yang dicemaskan oleh anjing tersebut. Seakan ia tak
ingin Satoru masuk ke dalam rumah.
Setelah
menembus pintu masuk dengan mudahnya, Satoru mulai mengitari tiap sudut rumah
untuk mencari keberadaan ibunya. Sebenarnya, batin Satoru menolak untuk
melakukan ini. Sejak perceraian orangtuanya, Satoru tak senang pada ibunya
karena tega meninggalkan dirinya dan ayahnya yang saat itu sedang menganggur
demi menikah dengan pria lain.
Meskipun
begitu, ia masih saja mengkhawatirkan keadaan ibunya itu. Apalagi setelah
kematian dirinya. Pasti itu merupakan pukulan berat bagi ibunya.
Setibanya
di dapur, ia tak menemukan sosok ibunya. Lalu ia beranjak menuju kamar ibunya.
Namun yang didapatinya kamar itu justru kosong.
Ia
juga merasa heran dengan keadaan rumah yang sangat sepi. Dalam batinnya, ia
mulai merasa ada yang tidak beres. Buru-buru ia beranjak ke kamarnya yang ada
di lantai dua tersebut.
Begitu
menembus pintu kamarnya, ia terkejut menyaksikan apa yang ada di depan matanya.
Ibunya sedang berdiri di atas kursi dengan menggenggam simpul tali yang sudah
menggantung dari plafon. Ibunya sedang bersiap untuk bunuh diri. Dengan
histeris Satoru berlari menghampiri ibunya.
“Ibu…..!!
HENTIKAAAAAN…!!”
Tiba-tiba
saja ibunya tersentak kaget. Ia mengarahkan pandangannya ke segala penjuru
namun tak melihat siapapun. Sepertinya, ibunya telah mendengar teriakan Satoru barusan.
“Apa
yang ibu coba lakukan….? Kenapa ibu jadi seperti ini…?” Satoru menangis
terisak-isak.
“Si,
siapa disana …..???” ujar ibu Satoru dengan penuh ketakutan. Satoru kaget
setelah menyadari bahwa suaranya barusan telah terdengar oleh ibunya.
“I,
Ibu…” Satoru mencoba mengulangi ucapannya. Sementara itu, ibunya tampak semakin
panik setelah mendengar suara Satoru.
“SI,
SIAPA KAUUU… ?? Jangan bersembunyi…!!” teriak ibunya.
“I,
Ini aku… Satoru… Putramu…. Satoru, bu….” Ujar Satoru seraya melangkah mendekati
ibunya. Untunglah aku muncul pada saat yang tepat, batin Satoru.
“Sa…Satoru….?
Tak mungkin…!! Putraku Satoru sudah meninggal….!!! Dia sudah tak ada di dunia
ini… Dia sudah tak ada….!! Jangan bersembunyi lagi…!! Tunjukkan dirimu,
pencuri…!!” teriak ibunya histeris.
“Ini
aku, bu… Ini aku, percayalah… Ini aku, Amano Satoru, putramu… Putra semata
wayangmu…” ujar Satoru perlahan. Seketika ibunya merasa lemas. Tangan yang pada
tadinya sedang menggenggam simpul tali itu, perlahan-lahan mulai terlepas. Air
mata mulai bercucuran dari pipinya.
“Be,
benarkah…? Benarkah itu kau, Satoru….? Kau datang untuk menjemput ibu, ya…?”
ujar ibunya. Satoru tersentak kaget mendengar pernyataan ibunya.
“Apa
maksud ibu…? Aku datang hanya untuk melihat keadaan ibu… Aku mencemaskan ibu…
Tapi kenapa..? Kenapa ibu malah tega melakukan hal seperti ini padaku…? Aku
takkan bisa pergi dengan tenang jika melihat keadaan ibu yang seperti ini…!!”
teriak Satoru. Mendengar itu, tangis ibunya pun pecah dan semakin menjadi-jadi.
“Benarkah
ini kau, Satoru…? Dimana…? Dimana sekarang kau, nak….?” tanya ibunya seraya
mengangkat jemarinya. Tiba-tiba saja ia merasakan hawa dingin di telapak
tangannya yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Karena, baru saja Satoru
merapatkan kedua pipinya di tangan ibunya.
“Ibu
melakukannya karena ibu sangat rindu padamu.. Ibu rindu wajahmu… Kenapa kau
tiba-tiba meninggalkan ibu seperti itu…? Ibu kesepian, Satoru… Ibu kesepian,
nak…” tangis ibunya seraya mengusap-usapkan tangannya pada hawa dingin
tersebut. ”Ibu sudah tak tahu harus bagaimana… Ibu sudah tak tahu lagi
bagaimana harus bertahan hidup setelah ini… ”
“A,
apa maksud ibu…? Masih ada paman, kan…?”
Ibunya
menceritakan bahwa beberapa hari setelah kematian Satoru, suami barunya itu
mendadak kabur entah kemana. Belakangan ini ketahuan bahwa ternyata suami
barunya itu terlibat dalam kasus penipuan dan saat ini sedang dalam status
buronan polisi. Ia dituntut terancam hukuman berat dan denda yang tak sedikit
jumlahnya, bahkan rumah yang saat ini mereka tempati terancam disita. Karena
mengalami tekanan yang sangat berat itulah, ibunya nekad mencoba bunuh diri
seperti tadi.
“Maafkan
aku, bu… Maafkan aku karena sudah pergi meninggalkanmu dalam keadaan sulit
seperti ini… Tapi… Tapi aku tak mau melihat ibu meninggal sia-sia seperti itu…
Kumohon jangan lakukan itu lagi, bu… Kumohon teruslah hidup…” ujar Satoru
sambil menangis tersedu-sedu.
“Maafkan
ibu juga, nak… Maafkan ibu…” ujar ibunya sambil terisak-isak. Ia seakan
berusaha menghapus air mata Satoru walaupun ia tak dapat melihat wajah putranya
itu. “Jangan menangis lagi karena ibu… Sudah terlalu banyak kesedihan yang ibu
berikan selama hidupmu… Mungkin ini adalah karma bagi ibu karena perbuatan
kejam ibu padamu dan ayahmu dulu… Ibu memang pantas menerima hukuman ini… Akhirnya
ibu juga merasakan bagaimana tersiksanya perasaan ayahmu saat ibu
meninggalkannya berdua denganmu… Ibu hanya ingin menyusul kalian berdua…”
“Ibu….
Aku takkan memaafkan ibu jika melakukan hal itu lagi… Jika benar ibu
menyayangiku dan ayah, maka teruslah hidup demi kami… Ayah… Meskipun dirinya
sangat terpukul saat itu, namun dia tak pernah bertindak bodoh seperti apa yang
baru saja ibu lakukan…” ujar Satoru.
Ibunya
tertegun mendengar ucapan Satoru. Ia akhirnya sadar bahwa tindakannya itu
salah.
“Ternyata
tujuanmu datang kesini yang sebenarnya adalah untuk menyelamatkan ibu, ya..?
Terima kasih, Satoru…. Terima kasih kau sudah menyadarkanku...” ujar ibunya
dengan senyum yang merekah di wajahnya. “Tapi… sampai saat ini kenapa kau masih
ada di dunia ini…? Apa mungkin ibu yang sudah menjadi penyebabnya….? Mungkinkah
selama ini ibu sudah mengganjalmu untuk pergi…?”
Mendengar
ucapan ibunya barusan, Satoru tiba-tiba saja teringat pada sosok Oikawa Yuuna.
“Pergilah,
nak… Sekarang pergilah… Ibu sudah tidak apa-apa… Ibu berjanji akan terus hidup
demi dirimu dan ayahmu… Ibu ingin kau tenang disana… Ibu ikhlas melepaskanmu…”
ujar ibunya dengan tangis yang tak kunjung berhenti.
Satoru
memperhatikan sekujur tubuhnya. Ia berharap terjadi sesuatu pada dirinya
setelah ini. Namun, tak ada perubahan apa-apa yang terjadi pada tubuhnya. Ia
hanya bisa tersenyum kecewa karena menyadari bahwa ternyata memang bukan ibunya
yang merupakan pengganjalnya. Tiap kali ia berpikir tentang pengganjal, tanpa
disadarinya ia pun kembali teringat nama Oikawa Yuuna. Dalam hatinya terbesit
rasa sakit hati dan pedih. Ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena sudah
menyukai gadis tersebut.
“Aku
selalu menyayangimu… Tak pernah sedetik pun aku membencimu…” gumam Satoru
seraya terus memandang wajah ibunya untuk terakhir kalinya. Sementara itu,
seakan tak menghiraukannya, ibunya mulai beranjak pergi meninggalkannya. Satoru
pun sadar bahwa waktunya sudah habis. Keajaiban telah berakhir. Kini ibunya
sudah tak dapat mendengar suaranya lagi. Namun, Satoru amat bersyukur karena ia
telah datang pada saat yang tepat sehingga ia berhasil menyelamatkan ibunya.
Ia
pun mulai melangkah pergi dengan menembus pintu depan rumahnya. Begitu keluar,
ia amat kaget mendapati Rocky yang tengah duduk menunggu dengan tenangnya di
depan pintu tersebut. Begitu melihat Satoru muncul, anjing itu langsung
mengibaskan ekornya berulang-ulang sambil menjulurkan lidahnya. Satoru amat
terhibur melihat tingkah anjingnya itu.
“Hahaha…
Anjing pintar…!!” ujar Satoru seraya duduk jongkok menghampirinya. “Dengar,
Rocky… Sebentar lagi aku akan pergi jauuuuuuh sekali… Aku juga tak tahu kapan
akan pulang dan bermain denganmu lagi…. Maaf ya…. Jadi mulai sekarang, kau
harus menjaga ibuku…!! Karena hanya kau yang ada di sisinya saat ini… Terima
kasih karena sudah menjadi teman yang baik bagiku selama ini… Selamat tinggal,
Rocky….”
Anjing
itu memandang Satoru dalam-dalam. Ia paham maksud tuannya itu. Dia pun menjawab
dengan menyalak sebanyak dua kali. Ia terus memandangi Satoru yang kini mulai
terbang melayang meninggalkannya.
Sore
itu, Yuuna sedang menunggu Nami di ruang tamu. Ia merasa cemas karena Nami tak
kunjung datang ke rumahnya. Padahal menurut apa yang dikatakan Nami beberapa
hari yang lalu, dia akan datang kembali bersama Amano Satoru untuk menyelesaikan
permasalahan diantara mereka berdua.
TING TONG TING TONG
Yuuna
mendengar bunyi bel dan memperhatikan pelayannya yang buru-buru membuka pintu.
“Akhirnya
dia datang, nona… Fujiwara Nami sudah datang…” bisik pelayan itu pada Yuuna.
Nami
pun dipersilakan duduk di ruang tamu. Ia menatap Yuuna dengan tatapan sinis.
“Kenapa
kemarin kau tidak datang…? Aku sudah menunggumu….” ujar Yuuna sambil tersenyum
tipis.
Nami
hanya diam tak menanggapinya. Yuuna merasa heran ekspresi Nami yang seperti
itu.
“Apa
kau sakit….?” Yuuna kembali bertanya. Namun Nami masih saja diam. Yuuna merasa
tak tenang, firasatnya mulai tak enak.
“A…Amano…
Amano ada disini, kan…?” tanya Yuuna gugup. Mendengar pertanyaan itu, Nami
langsung menatap Yuuna tajam.
“Disini…?
Kau tanya barusan, apa dia ada disini…??” Nami mengulangnya. “Bagaimana mungkin
sekarang dia ada disini…! Aku saja tak tahu saat ini dia sedang berada
dimana…!!”
Yuuna
terbelalak kaget mendengar penyataan Nami barusan.
“A..Apa
maksudmu….?” Tanya Yuuna cemas.
“Tanyakan
saja pada dirimu sendiri…!! Apa yang sudah kau perbuat sampai-sampai dia tak
ingin menemuimu…?!”
Yuuna
semakin terkejut karena dirinya disalahkan sebagai penyebab menghilangnya
Satoru.
“Apa
mungkin… karena saat itu dia melihatku pulang diantar oleh Jun….?” tanya Yuuna.
“Jun…?”
“Jun
adalah sahabat Amano… Kemarin sore, aku pulang diantar olehnya…”
“Sore…?
Tampaknya bukan itu yang menjadi penyebabnya…. Karena kemarin saat dia
tiba-tiba muncul di sekolahku adalah pagi hari… Saat itu dia sudah menunjukkan
reaksi kesal tiap kali aku menyebut namamu…” ujar Nami menjelaskan. “Dia
sepertinya marah karena suatu hal… Apa kau tak ingat apa yang sudah kau lakukan
atau mungkin apa yang telah kau katakan pagi hari itu…? Harusnya kau tidak
boleh lupa bahwa dia selalu ada di sekitarmu…!!”
Yuuna
pun berusaha mengingat-ingat apa saja yang sudah diucapkannya kemarin. Ia
berusaha mencari-cari dimana letak kesalahannya. Tiba-tiba saja ia teringat
akan ucapannya pada Nohara Mizue. Ia menyadari bahwa ada kata-kata yang dapat
memunculkan salah paham jika didengarkan hanya sepintas. Yaitu kata-kata yang
diucapkan di bagian permulaan, saat Yuuna mengatakan bahwa sudah menjadi hal
wajar jika ia menolak Satoru.
“Mungkinkah….?
Mungkinkah….??” Yuuna langsung syok karena tak menyadari bahwa kata-kata itu
justru membawa bencana baginya. “Apakah dia menyangka kalau aku
bersungguh-sungguh mengucapkannya….? Apa mungkin setelah itu dia langsung pergi
tanpa mendengar apa yang kukatakan sesudahnya….? Pantas saja… Pantas saja aku
tak merasakan hawa keberadaannya sejak pagi itu….!!”
“Kau
sudah mengingatnya….?” Tanya Nami. Sambil menahan tangis, Yuuna pun
menceritakan kejadian yang sebenarnya telah terjadi pagi itu pada Nami. Ia
mengatakan bahwa Satoru telah salah paham padanya, karena kenyataan yang sebenarnya
secara tersirat ia mengakui bahwa ia pun menyukai Satoru. Yuuna memohon pada
Nami untuk menjelaskan yang sesungguhnya pada Satoru sebelum semuanya
terlambat.
Setibanya
di rumah, Nami merasa amat lega setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa
Oikawa Yuuna juga memiliki perasaan pada Satoru.
“Aku
pulang…. Eh..?” ujar Nami spontan karena kini ia melihat sosok Satoru yang
sedang berdiri seperti biasa menghadap jendelanya. Mendengar suara Nami, Satoru
pun menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
“Oh,
kau sudah pulang…?” ujarnya seraya mendekati Nami. Hawa kutubnya dalam sekejap
menyerbu Nami seperti biasa.
Nami
menatapnya kaget.
“Da,
darimana saja kau seharian ini…?” tanya Nami.
“Loh…?
Bukannya sudah kuberitahu padamu kalau aku pergi sebentar untuk menemui
ibuku….?” ujar Satoru dengan santai.
“Eh..?
Jadi itu sungguhan…?”
“Ya
tentu saja…!! Memangnya kau pikir saat itu aku berbohong…??” teriak Satoru
kesal.
“Oh…
Haha… Karena kupikir saat itu kau cuma cari alasan untuk menghindari Oikawa
Yuu…” Spontan Nami merapatkan bibirnya. Hampir saja ia menyebutkan nama itu.
Nama yang sangat sakral bagi Satoru untuk saat ini, pikirnya.
Nami
melirik Satoru yang tampak mengernyitkan dahinya pada Nami.
“Sudahlah
jangan begitu… Kau kira aku ini laki-laki macam apa…? Aku tidak secengeng
itu…!!” seru Satoru kesal.
Hah…?
Kenapa lagi dia ini…? Batin Nami. Ia merasa heran dengan reaksi Satoru.
“Aku
akan memberinya satu kesempatan lagi…” ujar Satoru pelan. “Mungkin aku tak bisa
mengubah kenyataan bahwa dia memang tak
menyukaiku… Tapi setidaknya aku yakin bahwa dia tidak membenciku… Aku akan
mencari suatu alasan kuat yang bisa menjawab mengapa dia yang harus menjadi
pengganjalku… Aku akan mencari tahu penyebabnya….!!” ujar Satoru bersemangat.
Nami
pun tersenyum lega. Syukurlah, akan lebih indah jika dia sendiri yang menyadari
bahwa sesungguhnya Oikawa Yuuna ternyata juga memiliki perasaan yang sama
dengannya… batin Nami. Karena itulah, Nami memutuskan untuk tetap merahasiakan
kebenaran tersebut.
Chapter
6–End
“7 Days” {Chapter 7 – The Truth}
Esoknya (H-2)
Pagi
itu karena hari libur, Nami masih tertidur dengan pulasnya. Satoru hanya
mencibirnya karena tak kunjung bangun padahal jam weker entah sudah berapa kali
berbunyi. Tiba-tiba saja, Satoru mendapatkan ide untuk membangunkannya. Ia pun
menyeringai lebar.
“Nami…
Nami…!! Cepat bangun…!! Tsuji-chan sekarang ada di ruang tamu…!! Katanya ingin
mengajakmu pergi hari ini…!!” seru Satoru.
Tentu
saja ucapan Satoru itu membangunkan Nami.
“Tsu,
Tsuji-chan?? Kenapa mendadak begini …??” tanya Nami yang langsung merapikan
rambutnya dengan tergesa-gesa.
“Iya…!!
Sudah, sudah sana lekas mandi..!! Kau harus berdandan secantik mungkin, kan…?”
ujar Satoru.
“Eh?
Ah, iya… Kau benar…!!” ujar Nami lalu buru-buru ke kamar mandi.
Sementara
itu, Satoru cekikikan geli melihat tingkah Nami yang seperti itu.
Setelah
selesai merapikan dirinya, Nami pun buru-buru ke ruang tamu. Ia menyangka bahwa
Tsuji benar-benar ada disana.
“Loh..?
Tsuji-chan mana…? Apa jangan-jangan… dia sudah pulang….?” Tanya Nami bingung.
Satoru
datang menghampiri Nami dengan menahan geli.
“Mana…?
Mana Tsuji-chan….??” Tanya Nami pada Satoru.
“Mana…?
Ya dimana lagi kalau bukan di rumahnya, kan…?” ujar Satoru sambil tertawa.
“Apa
maksudmu…?” tanya Nami kebingungan.
Sedetik
kemudian, ia pun sadar bahwa ia sudah dibohongi oleh Satoru. Ia menatap Satoru
yang cekikikan itu dengan penuh kekesalan.
“Haha,
kenapa marah begitu….? Ini kan hari libur… Mau sampai kapan kau tidur seperti
itu…? Lebih baik kau jalan-jalan bersama temanmu, kan…? Atau… lebih baik
jalan-jalan dengan Tsuji-chan… Hahaha….” Ujar Satoru menggodanya.
“Dasar…!
Sudahlah lebih baik kau saja sana yang jalan-jalan dengan Oikawa Yuuna…!!”
“Tanpa
kau suruh pun sebenarnya sekarang ini aku memang mau menemuinya, kok…! Tapi kalau
aku pergi tanpa memberitahumu, nanti kau malah menyangka aku pergi menghilang
lagi…” ujar Satoru sambil membuang pandangannya dari Nami.
Nami
tertegun mendengar ucapan Satoru barusan.
“Iya,
ya… benar juga…” ujar Nami.
“Eh?”
“Iya,
benar juga… lebih baik hari ini aku jalan-jalan saja dengan teman-temanku…!”
Nami berdalih. Padahal kenyataannya ia ingin membenarkan pernyataan Satoru
bahwa jika Satoru menghilang tiba-tiba seperti saat itu, maka itu akan
membuatnya cemas.
“Oh..
Ya sudah kalau begitu… Sampai nanti, Nami….” ujar Satoru seraya menghilang
menembus pintu.
Sementara
itu di tempat lain, Yuuna dan teman-temannya sedang berkumpul di halte tak jauh
dari rumah Nami. Mereka sedang bersiap untuk berangkat menuju makam Satoru yang
letaknya cukup jauh dari tempat tinggal mereka, sehingga jika ingin kesana
lebih baik menggunakan kendaraan seperti bus. Tinggal satu orang lagi yang
belum datang yaitu Mizue.
“Oikawa-san…
Masih berapa lama lagi, nih…? Nanti keburu siang… Coba hubungi Nohara-san, kau
tau nomor handphone-nya kan…?” ujar Jun tak sabaran. Begitu pula dengan
beberapa murid lainnya yang sejak tadi menunggu. Yuuna pun langsung menghubungi
Mizue dan mengaktifkan mode loudspeaker.
“Aaaah…
Maaf, Yuuna-chan… Hari ini aku sedang tidak enak badan… Aku baru saja bangun
setelah mengangkat telpon darimu… Aku pikir pagi ini bakal mendingan, tapi
ternyata masih pusing… Maaf, ya…. Maaf, teman-teman.. Kalian berangkat saja
tanpa aku...” ujar Mizue dengan lesu.
“Iya,
tidak apa-apa kok, Mizue… Cepat sembuh, ya….” ujar Yuuna, lalu ia pun menutup
telponnya. “Sayang sekali ya, padahal ini kan usulnya…”
“Ya
sudah, mau bagaimana lagi…? Ayo kita berangkat…” ujar Jun.
Sementara
itu tak jauh dari sana, Satoru yang kebetulan lewat dekat halte, menyaksikan
Yuuna, Jun dan teman-temannya yang sedang bergegas masuk ke dalam bus. Ia pun
buru-buru mengikuti mereka.
Selama
di perjalanan, Jun berulang kali melirik ke arah Yuuna yang duduk di
seberangnya. Satoru pun menyadari hal itu. Ia mencermati tiap gerak-gerik Jun.
Setibanya
di komplek pemakaman, Jun langsung berjalan dan mengambil posisi tepat di
belakang Yuuna. Satoru mulai mencurigai gerak-gerik Jun.
Apa
yang sedang dipikirkan anak itu…? Batin Satoru. Bersamaan dengan itu, alangkah
kagetnya ia setelah menyadari tempat apa yang dituju oleh Yuuna dan
teman-temannya.
“Hah…?
Pemakaman…? Untuk apa mereka beramai-ramai seperti ini datang ke pemakaman…?
Memangnya piknik…?” ujar Satoru, persis seperti apa yang pernah dikatakan Mizue
sebelumnya. Ia belum menyadari bahwa teman-temannya saat itu berniat ziarah ke
makamnya sendiri. Namun ia terus saja membuntuti teman-temannya itu dari
kejauhan agar keberadaannya tak dirasakan oleh mereka.
Ia
pun melihat teman-temannya yang sedang berdoa lalu mulai mencabuti rumput liar
yang tumbuh di sekitar pusara tersebut. Ia melihat Jun memajang bunga di depan
pusara itu.
“Amano-kun…
Hari ini kami semua datang kesini untuk mengunjungimu…” ujar Jun.
Satoru
spontan tercengang kaget setelah mendengar perkataan Jun barusan.
“Ja,
jadi… Mereka kesini untuk… berziarah ke makamku….?” Gumam Satoru terbata-bata.
Ia amat kaget setelah menyadarinya. Karena ia sendiri pun tak tahu dimana
makamnya berada. Tanpa disadarinya, ia mulai melangkah mendekati pusaranya itu.
“Awalnya
sih, ini idenya Mizue… Kau masih ingat padanya kan…? Dia berkata ingin
mendoakanmu agar tenang di alam sana… Tapi, sayangnya pagi ini dia tidak ikut
bersama kami… Dia bilang karena tidak enak badan… Apa mungkin dia mendadak
sakit begitu karena keisenganmu…? Hahaha…Ha…” ucapan Jun terhenti karena tiba-tiba
saja ia merasakan hawa dingin yang menusuk tepat disampingnya. Ia teringat akan
ucapan Yuuna bahwa itu pertanda bahwa Satoru sedang berada di sekitar mereka.
Jun
spontan melirik ke arah Yuuna yang berdiri di belakangnya. Ia melihat Yuuna
yang juga tampak pucat tak tenang. Mereka saling memandang satu sama lain.
Yuuna memandang Jun sambil mengangguk, seakan isyarat membenarkan bahwa Satoru
memang benar ada di dekat mereka. Jun tak dapat menyembunyikan rasa gugupnya.
Sebenarnya ia pun merasa agak ngeri karena hawa dingin itu berpusat tepat di
sampingnya. Jun hanya mampu menelan ludah berkali-kali untuk mengurangi rasa
gugupnya.
Sementara
itu, Satoru yang baru pertama kali melihat pusaranya itu hanya berdiri terpaku
memandanginya.
“Jadi…
disinilah tubuhku dikuburkan….?” gumam Satoru. Tanpa disadarinya, air mata
mulai membasahi pipinya ketika ia membaca nama yang terukir di nisan itu. “AMANO SATORU”. Saat itu perasaannya
bercampur aduk. Antara senang dan sedih. Ia merasa senang karena teman-temannya
rela mengorbankan waktu sekedar untuk mengunjunginya. Dan juga merasa sedih
karena membayangkan bahwa tubuhnya itu kini telah dibaringkan di dalam tanah yang
gelap, sempit dan sesak itu.
Hari
beranjak senja, Yuuna, Jun dan yang lainnya memutuskan untuk kembali. Sementara
itu, Satoru masih saja berdiri mematung di depan pusaranya sendiri.
Dalam
perjalanan pulang, baik Yuuna maupun Jun, keduanya tampak risau mengingat hal
ganjil tadi. Setelah tiba di halte pemberhentian, Jun menawarkan untuk
mengantar Yuuna pulang.
“Ti,
Tidak usah… Ada yang akan menjemputku kok, tenang saja…” ujar Yuuna. Jun yang
masih mencemaskannya terpaksa mengalah, karena ia juga tak tahu harus berbuat
apa. Maka ia pun ikut pulang bersama teman-teman yang lainnya, meninggalkan
Yuuna seorang diri di halte tersebut. Namun, di tengah perjalanan ia masih saja
mencemaskan Yuuna. Lalu ia memutuskan untuk kembali menjemput Yuuna.
Sementara
itu masih di halte tadi, Yuuna sedang memikirkan ide gila untuk menemui Satoru
sekali lagi di pemakaman. Ia langsung menaiki sebuah bus yang berhenti di
depannya. Alangkah kagetnya Jun, dari kejauhan ia melihat Yuuna yang bukannya
dijemput seseorang, melainkan di jemput oleh bus yang sama dengan yang mereka
tumpangi tadi. Jun berusaha mengejar bus itu namun ia tak keburu cepat,
sehingga bus itu pun melaju begitu saja. Dengan napas terengah-engah, Jun
melampiaskan kekesalannya dengan menendang kaleng yang berada di bawah kakinya.
Senja
kini berganti dengan keheningan malam, Yuuna menyetop busnya tepat di halte
yang berada di depan komplek pemakaman. Ketika itu, Yuuna adalah penumpang
terakhir.
“Nona…?
Malam-malam begini untuk apa berhenti di depan pemakaman…?” tanya supir bus
tersebut dengan gugup.
“Tak
apa-apa kok, pak… Saya memang ingin turun disini..” ujar Yuuna dengan nada
datar. Seketika membuat wajah supir bus itu berubah pucat. Ia menyangka bahwa
Yuuna adalah hantu. Dengan secepat kilat ia membawa busnya kabur dari tempat
itu.
Sementara
itu di dalam komplek pemakaman, Satoru masih saja berdiri terpaku di hadapan
pusaranya. Entah apa yang membuatnya terdiam mematung seperti itu.
Tak
jauh dari sana, Oikawa Yuuna perlahan-lahan melangkahkan kakinya ke komplek
pemakaman tersebut. Ia yang merasa putus asa, sudah tak mempedulikan lagi rasa
takutnya, yang ia pikirkan saat itu hanyalah demi bertemu dengan roh Satoru. Ia
tak menghiraukan lagi keadaan sekitarnya yang benar-benar mencekam dan
menakutkan. Pandangannya kosong. Ia hanya memandang lurus ke depan. Seakan tak
menyadari apa yang sedang di perbuatnya saat itu. Ia pun mulai berhalusinasi. Di dalam
pandangannya yang terlihat adalah kejadian saat ia di kejar-kejar oleh berandalan
itu. Seketika itu juga, ia baru merasakan ketakutan menyelubungi seluruh
tubuhnya. Ia baru menyadari bahwa saat itu ia sedang berada di tempat yang tak
seharusnya. Ia langsung berlari ketakutan. Sekelilingnya seakan berubah menjadi
sama seperti keadaan di malam naas itu. Pepohonan itu. Bayangan hitam itu.
Jeritan pilu itu. Semuanya tergambar jelas di pandangannnya.
“AAAAAAAHH
!!”
Yuuna berteriak ketakutan. Ia terus berlari
dan berlari sampai akhirnya ia terjatuh seperti tersandung sesuatu. Tubuhnya
tersungkur ke tanah. Saat tengah berusaha bangkit berdiri, ia langsung merasa
lemas setelah melihat apa yang ada di hadapannya. Matanya tertuju pada pusara
yang ada di depan matanya itu. “AMANO SATORU”
Yuuna
pun tak kuasa membendung air matanya.
“A…Amano
Satoru….? Hahaha…. Kau….? Kau menolongku lagi kali ini…..”
Ya,
halusinasinya buyar seketika sesaat setelah ia terjatuh. Dan kenyataannya ia
terjatuh di hadapan pusara Satoru. Benar-benar ironis.
Sementara
itu, Satoru pun ikut tersadar dari lamunannya setelah menyadari kedatangan
Yuuna. Tentu saja ia kaget bukan main karena tiba-tiba saja hari sudah berubah
menjadi gelap. Dan yang lebih mengagetkannya adalah, malam-malam begitu, apa
yang dilakukan Yuuna di pemakaman? Dan tepat di depan pusaranya? Ia memandang
Yuuna dengan penuh kebingungan. Tangis Yuuna mendadak berhenti setelah
menyadari hawa keberadaan Satoru.
“Ternyata
sesuai dugaanku… Kau memang benar ada disini…” ujar Yuuna pelan.
Celaka
! pikir Satoru. Ia sampai lupa menjaga jarak dengan Yuuna gara-gara sejak tadi
hanya kebingungan. Yuuna mulai menjulurkan tangannya.
“Ini
benar-benar kau kan, Amano…?” tanya Yuuna perlahan. Satoru hanya terdiam. “Tak
apa… Aku tahu kalau ini memang benar dirimu… Aku mohon sentuhlah tanganku, agar
aku tahu bahwa ini benar-benar dirimu…”
Satoru
merasa sedih melihat Yuuna yang begitu berharap bahwa saat ini dirinyalah yang
sedang berada ditempat itu. Beruntung bahwa kali ini memang benar Satoru yang
ada di hadapannya. Namun bagaimana jika ternyata yang ada di hadapannya saat
itu adalah roh jahat yang mendiami pemakaman tersebut? Pikirnya.
“Dasar
bodoh… Bagaimana aku bisa meninggalkanmu dengan tenang jika kau selalu
bertindak ceroboh seperti ini….?” Ujar Satoru seraya turut menjulurkan
tangannya ke tangan Yuuna. Tiba-tiba saja Yuuna langsung menggenggam erat hawa
dingin itu.
“Maafkan
aku ! Kumohon maafkan aku, Amano….! Kau jadi tersiksa begini gara-gara aku….!
Semuanya gara-gara aku…!!” Yuuna langsung menangis tersedu-sedu. Sementara
Satoru hanya bisa tercengang kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan
Yuuna.
Tak
jauh dari tempat itu, Jun tiba di halte depan pemakaman. Dirinya seakan
dituntun untuk berhenti disana.
“Ini
adalah bus terakhir yang lewat kawasan ini, apa kau yakin ingin turun disini…?”
tanya si supir dengan gugup. Jun hanya mengangguk pelan tanpa menjawab apa-apa.
Sama halnya dengan bus yang sebelumnya, bus ini pun langsung buru-buru melaju
kencang meninggalkan halte itu. Sebenarnya Jun bukannya sengaja tak menjawab,
ia hanya merasa gugup untuk mengiyakannya. Dengan penuh ketakutan, Jun akhirnya
mulai melangkahkan kakinya memasuki komplek pemakaman tersebut. Dengan berbekal
senter seadanya, ia mulai mencari sosok Yuuna. Ia sendiri pun tak mengerti
untuk apa ia bertindak konyol seperti itu.
Sementara
itu, Satoru masih tak habis pikir dengan tindakan Yuuna yang nekad datang ke
pemakaman hanya demi mencari dirinya.
“Saat
itu aku memang bodoh… Aku takut semua yang mereka katakan itu benar…. Aku takut
jika kelak aku hanya akan mencelakaimu…. Dan ternyata itu semua benar terjadi….
Seandainya saja saat itu kau tak datang menolongku, maka kau takkan berakhir
seperti ini….” ujar Yuuna sambil terisak-isak. “Seandainya saja saat itu aku
sempat mengatakan… Bahwa aku pun menyukaimu…. Maka saat ini jiwamu pasti takkan
tersiksa seperti ini… Maafkan aku….”
Satoru
tercengang kaget. Ia tak percaya bahwa dirinya baru saja mendengar Yuuna
mengatakan itu tepat di hadapannya.
“Aku
selalu berusaha menampik kenyataan bahwa aku mulai menyukaimu…. Karena aku tak
ingin kau celaka seperti yang lainnya, saat itu yang kupikirkan hanyalah
bagaimana cara untuk membuatmu membenciku… Dengan begitu, kau takkan menyukaiku
lagi… Karena itulah aku mengucapkan kata-kata kasar itu padamu… Kumohon maafkan
aku…. Tak kusangka bahwa melukaimu itu justru lebih menyakitkan bila
dibandingkan dengan mendapat julukan ‘pengundang maut’…” ujar Yuuna.
Satoru
mengepalkan tangannya erat-erat. Ia berusaha menahan tangisnya.
“Malam
itu… Saat kau suruh aku untuk pergi… Sebenarnya aku tak ingin pergi… Dan
seandainya saja aku tak pergi meninggalkanmu disana….!! Maka aku takkan merasa
tersiksa seperti ini… Berkali-kali aku menyalahkan diriku sebagai penyebab
kematianmu…. Karena itulah, kumohon maafkan aku… Maafkan aku, Amano….”
Dengan
berlinang air mata, Satoru menyimak tiap kata yang diucapkan Yuuna.
“Iya,
aku sudah memaafkanmu…. untuk itu berhentilah menangis…” ujar Satoru
sambil mencoba menghapus air mata Yuuna.
Mendadak
tubuh Yuuna lemas setelah ia mendengar
suara Satoru. Ia pun jatuh pingsan. Satoru kalang kabut karena Yuuna pingsan
pada saat yang tak tepat. Ia bingung bagaimana cara memindahkan Yuuna dari
tempat itu.
“Yang
benar saja…! Kenapa kau malah pingsan di saat-saat seperti ini…!” gerutu Satoru
panik. Namun tiba-tiba saja ia melihat secercah cahaya yang mulai datang ke
arahnya.
“Oikawa-san…!!”
seru Jun. Ternyata cahaya itu datang dari lampu senter yang dibawa oleh Jun
sejak tadi. Satoru kaget tak menyangka bahwa Jun juga ikut datang malam-malam
ke pemakaman. Jun langsung membopong Yuuna keluar pemakaman.
Beberapa
saat kemudian, akhirnya mereka tiba di depan halte yang ada di seberang
pemakaman. Lalu Jun teringat bahwa bus terakhir yang melewati daerah itu adalah
bus yang ditumpanginya tadi. Sementara itu, Jun mulai bergidik ketakutan saat
dirinya mulai merasakan hawa dingin yang semakin mendekatinya. Ia mencari cara
untuk dapat menenangkan dirinya.
“Wah
! Bus terakhir sudah lewat beberapa waktu yang lalu… Bagaimana ini…? Ya ampun…
Aku juga lupa membawa handphone….! Aduh… Kenapa tadi aku tidak naik motor saja
ya… Ah, dasar bodoh…!” Jun meracau tak jelas untuk mengurangi rasa takutnya.
Tapi, masih saja hawa dingin itu menjalar di sekujur tubuhnya. Meski diselimuti
ketakutan, namun akhirnya Jun nekad mencoba ide gilanya.
“He, hei, Amano…!” seru Jun gugup. Satoru
tersentak kaget.
Eh?
Bagaimana anak ini bisa mengenaliku? Apa dia bisa melihatku….? Batin Satoru.
“A,
Aku harap itu memang benar kau…. Apa kau hanya ingin menonton saja disitu…? Apa
kau mau melihat kami tidur berdua saja disini semalaman…? Lebih baik kau bantu
cari pertolongan pada gadis itu… Ya, gadis yang katanya bisa melihat dan
berkomunikasi denganmu itu….!” ujar Jun nekad.
Hah…?
Dari mana dia mengenal Nami….? Batin Satoru.
“Ka,
katakan pada gadis itu kalau kami terjebak disini…! Kau… bisa melakukannya,
kan…?” seru Jun dengan terbata-bata.
Aaaaah…!!
Aku tak mau membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini jika ternyata itu
bukan dirinya ! batin Jun dengan ketakutan yang teramat sangat.
“Hmm,
benar juga ya…” gumam Satoru. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyusur terbang
menuju kediaman Nami.
Beberapa
saat setelahnya, Jun tidak lagi merasakan hawa dingin itu di sekitarnya.
Akhirnya ia baru mempercayai apa yang dikatakan Yuuna selama ini.
“Jadi
ternyata… tadi itu benar-benar kau, Amano….
Itu benar kau…” ujarnya teramat lega.
Sementara
itu di kediaman Nami….
Satoru
langsung membangunkan Nami dan menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi.
“Apa…?
Malam-malam begini aku ke pemakaman…? Apa kau gila…?” omel Nami.
“Bukannya
kau ini pawang roh…? Lalu apa yang kau takutkan…? Bukannya dulu kau bilang pernah
melihat roh yang lebih menyeramkan daripada aku…?”
“Biarpun
begitu tetap saja aku tak berharap dengan sengaja melihatnya…!!” Nami kesal.
“Lalu
bagaimana dengan Yuuna dan Jun….??”
“Oikawa
Yuuna….? Jun….?” tanya Nami.
“Iya….
Tadi siang mereka beramai-ramai datang mengunjungi makamku… Saat tiba di depan
makam, entah kenapa aku jadi ingin berlama-lama disana… Saat aku sadar dari
lamunan, aku baru menyadari bahwa hari sudah gelap… Dan yang lebih
mengagetkanku adalah Yuuna tiba-tiba saja muncul di sampingku….” Satoru
menjelaskan.
“Wah,
kau benar-benar beruntung saat itu Oikawa Yuuna ada di dekatmu… Karena jika
saja kau berlama-lama di sana, maka tanpa sadar kau sudah menghabiskan masa
tujuh harimu hanya dengan berdiri disana… Itu adalah perbuatan roh jahat yang
sedang menghipnotismu agar kau terjebak di dunia ini sama halnya dengan mereka…
Namun hipnotis itu akan hilang saat roh berada di dekat pengganjalnya… Karena
itulah, sebaiknya roh penasaran sepertimu lebih baik tidak mengunjungi
pemakamannya karena…”
“Iya,
iya… penjelasannya cukup sampai disini saja…. Sekarang ini yang terpenting
adalah bagaimana cara membawa mereka pulang karena bus terakhirnya sudah lewat
beberapa waktu lalu….” ujar Satoru memotong, tak sabaran.
“Iya,
iya… aku tahu…” gerutu Nami kesal.
Karena
hari sudah malam, Nami meminta bantuan Tsuji untuk mengantarkannya ke kediaman
Yuuna. Setibanya disana, Nami mengabarkan bahwa Yuuna saat ini sedang berada di
pemakaman. Tentu saja, keluarga Yuuna awalnya tak mempercayai ucapan Nami.
Namun, Nami tak kehabisan akal. Ia mulai menyinggung nama Amano Satoru dan
kata-kata yang berkaitan dengan ‘roh’. Akhirnya mau tak mau mereka mempercayai
ucapan Nami. Dan ternyata pihak keluarga pun sejak tadi sudah mencoba
menghubungi Yuuna namun handphone-nya tidak aktif.
Setelah
itu, pihak keluarga menyuruh salah seorang supirnya untuk menjemput Yuuna dan
Jun. Nami dan Tsuji juga ikut menjemput mereka. Dengan dipandu oleh Satoru,
beberapa jam setelahnya, akhirnya mereka tiba di halte yang ditunjuk oleh
Satoru. Alangkah kagetnya Tsuji dan supir itu karena mereka sendiri yang
membuktikan kebenaran dari apa yang dikatakan Nami. Dari kejauhan mereka dapat
melihat sosok Jun sedang duduk di samping Yuuna yang ketika itu tengah pingsan.
Jun
yang setengah mengantuk itu, tampak lega saat ia melihat mobil yang berhenti di
depan halte sambil membunyikan klakson padanya. Ia dapat mengenali bahwa mobil
tersebut adalah milik keluarga Yuuna mengingat dari warna dan plat nomornya
yang sama dengan yang pernah dilihatnya saat mengantar Yuuna pulang beberapa
hari yang lalu.
Saat
itu, Nami dan Tsuji keluar dari dalam mobil untuk menyapa Jun.
“Ah…
Perkenalkan, namaku Fujiwara Nami… Aku sudah mendengar tentangmu dari Satoru
maupun Oikawa Yuuna… ” ujar Nami memperkenalkan diri.
“Salam
kenal, namaku Akiyoshi Tsuji…” Tsuji pun ikut memperkenalkan diri.
Jun
menatap Nami dengan rasa penasaran.
“Jadi…
kau ini gadis yang bisa melihat roh itu…? Apa benar kau… bisa melihat roh
Amano….? Kau… bisa bicara dengannya…?” tanya Jun sambil bergidik ngeri.
“Bukankah
baru saja Jun-kun juga berbicara dengannya….? Kalau tidak, bagaimana mungkin
kami bisa tahu kalau kau sedang berada disini bersama Oikawa Yuuna…?” ujar Nami
sambil tersenyum tipis. Jun pun membalas dengan tersenyum kecut. Mau tak mau
akhirnya Jun mempercayai hal-hal yang dianggapnya tak masuk akal itu.
Dari
kejauhan, Satoru menatap mereka dengan perasaan lega.
Selama
dalam perjalanan, karena tak kuat menahan kantuk, Nami, Tsuji dan Jun akhirnya
tertidur.
“Wah,
dia tertidur…! Dia tertidur….! Ini saatnya…!” seru Satoru seraya merapatkan
kepalanya ke kepala Jun. “Loh…? Aneh…. Kenapa tidak terjadi apa-apa…? Kenapa
tidak sama seperti saat itu….?”
Nami
pun terbangun karena mendengar keributan di sebelahnya.
“Hei,
berisik sekali… Apa yang sedang kau lakukan...?” bisik Nami sambil menguap.
“Oh,
ternyata kau belum tidur….? Saat ini aku sedang mencoba untuk masuk ke dalam
mimpinya…! Seperti saat aku melakukannya pada berandalan itu…!” ujar Satoru.
“Hah..?
Itu kan terjadi karena tak sengaja…”
“Benar
juga, ya… Ah, kalau begitu, jika dia terbangun nanti…. Katakan padanya kalau
aku akan segera menemuinya, oke…?”
“Hah…?
Bukankah itu sama saja dengan menakut-nakutinya…? Ah, apa jangan-jangan… Kau
mau melakukannya karena cemburu padanya, ya….? Wah, kau cemburu ya karena
sahabatmu pergi berdua dengan gadis yang kau suka….?” Nami menggodanya.
“Apa…?
Cemburu pada sahabat sendiri….? Yang benar saja…! Sudahlah, katakan saja nanti
padanya, aku akan segera menemuinya besok….” ujar Satoru.
“Iya,
iya baiklah…” Nami mengangguk.
“Ah,
ya… Aku masih penasaran, kenapa tadi dia bisa pingsan begitu, ya…?” tanya
Satoru sambil melirik Yuuna yang berada di samping Nami.
“Siapa?
Oikawa Yuuna…?” tanya Nami.
“Iya…
Setelah dia memohon maaf padaku karena sudah meninggalkannya pada malam itu,
tiba-tiba saja dia pingsan begitu…” ujar Satoru heran.
“Hmmm…
Ternyata kejadiannya terulang sama persis ya…” ujar Nami.
“Hah?
Apa maksudmu…?” tanya Satoru heran.
“Di
malam saat penusukanmu itu sebenarnya dia juga pingsan…. Dia pingsan karena
kelelahan berlari…. Makanya saat itu ia tak kembali untuk menolongmu….”
Nami
melirik Satoru yang tertegun setelah mendengar ucapannya barusan. Satoru
tersenyum lega setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Nami melihat sosok
Satoru mulai berpendar. Namun sedetik kemudian, sosok itu langsung kembali
berubah seperti sedia kala. Nami pun menyadari bahwa itulah pertanda bahwa
Satoru telah mendekati detik-detik kepergiannya.
Karena
sudah larut, supir itu berbaik hati untuk mengantar Nami, Tsuji dan Jun pulang
ke rumah masing-masing. Satoru yang menuntun Nami menuju kediaman Jun.
“Dari
sini belok kiri… lalu lurus….” Bisik Satoru.
“Dari
sini belok kiri lalu lurus…” ujar Nami pada supir itu, mengulangi kata-kata
yang diucapkan Satoru padanya.
Setibanya
di kediaman Jun, Nami mulai membangunkan Jun yang masih tertidur lelap. Ia
mengguncang-guncang tubuh Jun berulang kali.
“Eh?
Apa…? Kenapa…?” gumam Jun dalam keadaan setengah sadar.
“Kita
sudah tiba di depan rumahmu…” bisik Nami pelan.
“Oh…
begitu, ya….?” ujar Jun masih dengan ekspresi mengantuknya.
Lalu
Nami mengantarkannya sampai ke depan pintu rumahnya.
“Ah,
terima kasih banyak Fujiwara-san… Maaf merepotkanmu….” ujar Jun sambil
menundukkan kepalanya sesaat.
“Ah,
tidak apa-apa kok… Oh iya, Jun-kun, Satoru mengatakan bahwa dia akan segera
menemuimu besok….” ujar Nami sambil menguap.
“Eh…?”
“Iya…
Dia bilang ingin menemuimu…. Aku juga tak tahu pastinya kapan… Tapi yang
terpenting, jika nanti dia muncul di hadapanmu maka kau tak perlu takut… Karena
dia adalah Satoru yang sama dengan Satoru yang dulu pernah menjadi temanmu…”
ujar Nami seraya pamit meninggalkan Jun yang masih berdiri tercengang.
Chapter
7–End
“7 Days” {Chapter 8 – The 1st guy in your
life}
Esoknya (H-1)
Pagi
itu, Nami terbangun dari tidurnya. Ia bergegas merapikan diri dan bersiap
berangkat ke sekolah. Saat ia memandang ke sekelilingnya, ia tak menemukan
sosok Satoru.
“Jadi….dia
benar-benar sudah pergi ya…?”
Nami
mengeluh kecewa. Ia menyangka bahwa Satoru pergi tanpa pamit padanya.
Setibanya
di sekolah…
“Chika
! Aya ! Natsu…!” Nami menyapa ketiga sahabatnya dengan penuh semangat.
“Wah,
wah… Ada apa nih…? Ceria sekali…” ujar Aya heran.
Lalu
Nami pun menceritakan bahwa Satoru telah berhasil melalui masa tujuh harinya
itu.
“Wah,
syukurlah…. Jadi selama ini… Oikawa Yuuna juga memendam perasaan yang sama
padanya ya….? Hahaha… Baguslah….!!” seru Chika kegirangan. Aya dan Natsu pun
ikut senang mendengarnya.
“Tadinya
aku menyangka Oikawa-san itu gadis yang menyebalkan…!! Tiap kali mendengar
namanya aku tak tahan ingin melabraknya….! Tapi syukurlah ternyata dia gadis
yang baik….” ujar Natsuna dengan senyum lebarnya.
“Ini
semua berkat Nami…” ujar Aya sambil tersenyum menatap Nami.
“Ah,
tidak kok.. Aku bisa sampai sejauh ini juga berkat dukungan kalian semua….”
“Hei,
Nami…. Kalau begitu…. Saat nanti aku berubah jadi roh tersesat seperti
Amano-kun, kau harus membantuku juga ya….!” Seru Chika. Ketiga temannya
langsung serentak menatap Chika.
“Buahahahaha….!!
Itu pun kalau kau berhasil menemukan Nami…. Benar kan, Aya-chan..?” ejek
Natsuna. Aya hanya mengangguk sambil tersenyum geli.
“Enak
saja! Tentu saja aku bisa….! Iya kan, Nami…?” Chika megharapkan pembelaan dari
Nami. Sementara itu, Nami hanya tertawa melihat tingkah teman-temannya yang
selalu ramai seperti biasanya.
Pada
jam istirahat…
“Hei…”
sapa Tsuji tiba-tiba.
“Eh?
Tsuji-chan…!” seru Nami.
“Hehe…
Gimana…? Sudah beres….?” tanya Tsuji.
“Ng…?
Apanya…?”
“Itu…
Satoru…" bisik Tsuji.
“Oh…
Hahaha… Tenang saja, sudah beres kok…” ujar Nami sambil tertawa.
“Syukurlah…
Lalu… Apa nantinya setelah lulus, kau mau buka kantor konsultasi arwah….?”
“Wah…
benar juga ya…! Ide yang bagus…!”
“Haaaaah….?
Kau serius…? He, Hei…! Tadi aku cuma bercanda….!”
Dari
kejauhan tampak Satoru sedang tersenyum memperhatikan Nami dan Tsuji yang
sedang bersenda gurau.
“Huh..!
Apa aku masih harus percaya bahwa kalian berdua hanya sebatas ‘teman’...?”
gumam Satoru seraya menghilang entah kemana.
Siang
itu, Jun bolos sekolah karena bangun kesiangan. Ia menghabiskan waktunya hanya
dengan bersantai-santai di taman yang tak jauh dari sekolahnya. Tiupan angin
yang sepoi-sepoi dan cuaca hari itu yang tak terlalu terik membuatnya merasa
sangat santai. Tanpa sadar ia pun tertidur di atas bangku taman itu.
Beberapa
saat kemudian, ia pun terbangun. Namun, ketika terbangun ia merasa kaget karena
mendapati dirinya baru saja tertidur di sofa rumahnya. Ia melihat dua orang
temannya yang sedang asyik bermain playstation dan yang lainnya sedang
membongkar-bongkar isi kulkasnya. Situasi yang sama seperti saat ia sedang
berkumpul di rumah bersama teman-temannya pada hari libur.
“Hei,
kau sudah bangun….?”
Jun
terperanjat kaget saat ia mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya
itu. Ia menoleh ke belakang dan melihat Satoru yang sedang menyodorkan soft
drink untuknya.
“A,
Amano…?” Jun terbelalak tak percaya dengan apa yang sedang disaksikannya. Lalu
ia teringat ucapan Nami semalam bahwa Satoru akan segera datang menemuinya.
“Keluar
sebentar, yuk…. Temani aku pergi ke suatu tempat….” ujar Satoru sambil
tersenyum simpul. Jun pun mengangguk sambil mengambil soft drink tersebut.
Untungnya, ia langsung teringat akan pesan Nami, bahwa dirinya harus bersikap
seperti biasa pada roh Satoru.
Setibanya
di tempat yang dituju, Jun semakin terkejut saat menyadari bahwa Satoru
mengajaknya ke toko buku yang ada di perempatan, lokasi yang tak jauh dari
tempat naas yang menimpa Satoru.
“Ah,
ini dia…” gumam Satoru seraya mengambil buku yang sama dengan yang terakhir
kali dibacanya sebelum ia tewas malam itu. “Aku akan beli buku ini sekarang….
Habisnya, kau selalu saja mengejekku karena aku sering baca gratis disini…
Hehehe..”
Jun
tertegun memandang sahabatnya itu. Lalu
ia merampas buku itu dari tangan Satoru.
“Jangan…
Sini berikan padaku…!” seru Jun seraya berjalan menuju kasir dan langsung
membayar buku itu. Lalu ia memberikannya pada Satoru.
“Nih,
untukmu….” ujar Jun sambil tersenyum.
“Kenapa
kau malah membelikannya untukku…? Padahal niatnya aku mau beli sendiri…!”
gerutu Satoru kesal.
“Kenapa….?
Ya, tentu saja agar aku selalu mengenangmu sebagai Amano si ‘tukang baca
gratis’… Hehehe…” ujar Jun terkekeh. Setelah mendengar itu, langsung saja
Satoru merangkul sahabatnya itu.
“Kau
tidak akan melupakanku, kan…?” ujar Satoru sambil menangis.
“Mana
mungkin aku melupakanmu, Amano si pemuja Oikawa Yuuna…” bisik Jun.
“A,
Apa…? Huh… Kau sendiri juga sama saja….! Diam-diam ternyata kau juga
menyukainya, kan..? Kenapa sejak dulu kau tak pernah bilang padaku kalau kau
juga menyukai gadis itu…?” omel Satoru.
“Kenapa
juga aku harus memberitahukannya padamu….? Tak ada untungnya buatku…” canda
Jun, lalu ia kembali tertawa.
“Dasar
kau ini…! Tapi tetap saja begini-begini aku adalah orang yang pertama ada di hatinya..!
Kau ingat itu baik-baik loh..!” seru Satoru.
“Iya,
iya….” gumam Jun dengan senyum gelinya.
“Kau….
Setelah ini harus menjadi orang yang menggantikanku untuk melindunginya… Aku
ingin kau juga menjadi orang yang berharga baginya….” ujar Satoru seraya
menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.
Jun
hanya membalas dengan senyuman.
“Maaf
ya, Jun… Pasti kau sudah banyak terluka karena aku… Saat itu aku benar-benar
tak tahu bahwa kau juga menyukainya….” sambung Satoru.
“Itu
tidak benar… Saat kau bersamanya, aku merasa senang kok… Malahan aku merasa
sangat terpukul setelah mengetahui bahwa dia sudah menyakitimu…. Entah kenapa
rasanya sama saja seperti dia menyakitiku juga…” ujar Jun tersenyum simpul.
Satoru
tertegun mendengar pengakuan sahabatnya itu.
“Huweeeeee…..
Juuuuuuuun….!!” seru Satoru sambil merangkul sahabatnya itu.
“Apa-apaan
kau ini…?” gerutu Jun.
“Hehehe…
Ah, ngomong-ngomong... Trims ya untuk traktirannya…!” seru Satoru seraya
menunjukkan bungkusan yang isinya buku pemberian Jun itu.
“Kalau
sedang bosan… kau bisa baca buku itu…! Toko buku takkan kau temukan di alam
sana…!” seru Jun sambil terkekeh.
Satoru
tertawa sambil melambaikan tangannya pada Jun dari seberang jalan.
Tiba-tiba
saja sebuah bus lewat melintasi jalan tersebut bersamaan dengan menghilangnya
sosok Satoru dari penglihatan Jun.
“Dia
sudah pergi….” gumam Jun. Tanpa terasa, air matanya mulai menetes. Ia merasa
lega karena dapat kesempatan untuk melepaskan rindu pada sahabatnya itu.
BRUK
Saat
Jun berbalik, tiba-tiba saja ia merasa seakan telah menubruk tubuh
seseorang. Bersamaan dengan itu, dalam
kenyataannya ia sedang terjatuh dari bangku taman tempat dimana ia tertidur
semula.
“Aduh…”
Jun akhirnya terbangun dan meringis kesakitan.
Sementara
itu di tempat lain….
Yuuna
baru saja terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat kejadian yang
semalam dialaminya.
Bukannya
semalam aku ada di pemakaman…? Lalu kenapa sekarang aku bisa ada disini….?
Batin Yuuna kebingungan.
“Oh,
kau sudah bangun…” ujar ibu Yuuna.
“I,
Ibu…? Bagaimana aku bisa berada disini…? Bukannya kemarin aku….”
Tunggu
dulu, yang semalam itu mimpi atau bukan, sih? Batinnya.
“Semalam…?
Kenapa….?” tanya ibunya pura-pura tak tahu.
Kalau
bukan karena itu, lalu kenapa jam segini aku baru terbangun…? Batinnya.
“Lalu,
kenapa ibu membiarkanku tak masuk sekolah hari ini…? Kenapa tadi pagi tidak ada
yang membangunkanku….?” Tanya Yuuna heran.
“Ah…
itu… Itu karena ibu ingin kau istirahat untuk hari ini….” ujar ibunya berdalih.
“Memangnya
apa yang terjadi padaku…? Kenapa aku harus istirahat segala…? Aku kan tidak
apa-apa… Aku sehat-sehat saja, kok… Ibu jangan berbohong padaku, aku tahu bahwa
ibu sedang menyembunyikan sesuatu dariku….!” seru Yuuna ngotot.
Akhirnya
ibunya pun menyerah dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi semalam.
“Apa…?
Kotobuki-kun….?” Seru Yuuna heran. Dalam hatinya ia merasa terkejut bagaimana
Jun bisa tahu bahwa dirinya berada di tempat itu. Dan yang membuatnya semakin
terkejut adalah kenyataan bahwa Satoru yang memberitahukan keberadaan mereka
pada Nami.
“Nantinya
kau harus berterima kasih pada gadis itu… Dia yang sudah bersusah payah
meyakinkan kami bahwa kau dan temanmu itu memang benar berada disana…” ujar
ibunya seraya pergi meninggalkan Yuuna di kamarnya. Setelah ibunya pergi, Yuuna
merebahkan tubuhnya kembali.
Ternyata
Amano yang memberitahukan gadis itu kalau aku ada disana, ya…? Syukurlah,
ternyata itu benar dirinya… Batin Yuuna sambil tersenyum lega. Tanpa
disadarinya, ia pun mulai terlelap.
Tirai
jendela perlahan tersibak tertiup angin.
“Yuu…na…
Yuuna….”
Yuuna
merasa seakan mendengar seseorang memanggilnya. Lalu ia perlahan membuka
matanya. Ia amat tercengang menyaksikan siapa yang muncul di depan matanya.
“A…Amano…..”
gumamnya tak percaya. Air matanya pun mulai menetes. “Tak mungkin…!”
“Mungkin
saja….” ujar Satoru. “Apakah wujudku yang hampir nyata seperti ini belum cukup
meyakinkanmu…?”
Perlahan-lahan
tubuh Satoru tiba-tiba saja terlihat semakin nyata dan semakin nyata hingga
berwujud manusia sesungguhnya. Yuuna kaget tak percaya dengan apa yang sedang
disaksikannya saat itu.
“Ba,
bagaimana mungkin….?” Gumam Yuuna.
“Keajaiban
Tuhan untuk hari terakhir bagi kita berdua…. Ayo ikut aku….”
Satoru
mengulurkan tangannya ke arah Yuuna.
“Kita
mau kemana….?” Tanya Yuuna heran.
Satoru
hanya tersenyum.
“Terima
kasih… Berkatmu… besok aku bisa menuju alam baka dengan tenang…” ujar Satoru.
Yuuna
merasa sedih karena ia baru menyadari hal itu.
“Jangan
sedih begitu… walau kelak aku tak ada di sisimu… tapi, aku akan selalu ada di
hatimu… selama kau belum melupakanku….” Ujar Satoru perlahan. “Ayo, aku tak
punya banyak waktu…”
Perlahan
Yuuna pun menggapai tangan Satoru. Saat membuka matanya, tiba-tiba saja ia
melihat hamparan laut di depan matanya.
“Hari
itu, saat pertama kali aku mengajakmu kesini, aku masih bisa mengingat
bagaimana wajahmu yang terlihat benar-benar gembira….” Ujar Satoru sambil
berjalan berdampingan bersama Yuuna di sepanjang pantai itu. Yuuna pun tertawa.
“Haha…
iya, itu karena aku sangat suka dengan pasir pantai... Hampir tiap orang pasti
pernah mengukir kenangan dan kebahagiaan di atasnya…. Meskipun seiring waktu
kenangan itu hilang tersapu bersama ombak…. Namun akan selalu datang
kenangan-kenangan baru yang terukir di atasnya….” ujar Yuuna.
“Hmm,
benar juga… Kalau begitu, mulai sekarang jadilah seperti itu….!” Seru Satoru.
“Eh,
apa maksudmu…?” Yuuna tak paham maksud ucapan Satoru.
“Ya…
seperti pasir pantai yang meskipun kehilangan kenangan lamanya, namun selalu
bisa menemukan kenangan barunya….. Itu artinya… Kau harus menjadi orang yang
bisa membuka hati untuk orang lain….” ujar Satoru.
Yuuna
tertegun. Matanya berkaca-kaca memandang Satoru.
“Iya….”
Gumam Yuuna pelan.
“Aku
benar-benar senang saat ini….!” Seru Satoru.
“Hehe,
kenapa….?” Tanya Yuuna penasaran.
“Harapanku
terwujud… Saat ini aku telah menjadi orang yang pertama.. yang pertama
membelamu, yang pertama melindungimu, yang pertama tahu tentang apa yang kau
pikirkan, yang pertama kau rindukan… bahkan telah menjadi yang pertama
membuatmu sedih dan bahagia….” Ujar Satoru.
“Haha,
sok tahu… Memang apa buktinya…?” canda Yuuna.
“Ah…
itu tak perlu bukti segala… Cukup aku saja yang membuktikannya…. Haha…”
Yuuna
pun ikut tertawa.
“Dan…
berjanjilah padaku… Kau harus membuka hati untuk orang yang ada di dekatmu…!
Jangan sekali-kali kau merasa takut untuk jatuh cinta lagi, oke..? Janji….?”
Satoru
menjulurkan kelingkingnya pada Yuuna.
“Janji….”
Lalu Yuuna mengaitkan kelingkingnya di kelingking Satoru.
Tiba-tiba
saja Yuuna melihat cahaya yang sangat terang di hadapannya. Saking silaunya, ia
sampai menutup matanya.
Saat
membuka matanya, ia menyaksikan Satoru yang perlahan-lahan mulai lenyap menjadi
bias cahaya. Yuuna menyaksikannya sambil menangis terisak namun tetap
berusaha untuk dapat tersenyum.
Beberapa
saat kemudian, Yuuna terbangun dari mimpinya.
“Selamat
jalan, Amano….” Gumam Yuuna.
Esoknya (H-0)
Tengah malam
“Hoy,
banguuuun…! Tukang tidur…!” seru Satoru tepat di telinga Nami.
“Apaan,
sih…?” omel Nami. Matanya terbelalak kaget saat melihat Satoru yang saat itu
ada di hadapannya. “Eh…? Kenapa kau masih ada disini….?”
“Masa
aku pergi begitu saja tanpa pamit padamu….?” Ujar Satoru.
“Oh,
aku pikir kau memang sudah pergi…” gumam Nami.
“Huh…
Kau itu selalu saja berpikiran buruk tentangku…!” gerutu Satoru kesal.
Nami
tersenyum simpul.
“Iya,
iya… Maaf…” gumam Nami.
“Nami…
Terima kasih untuk semuanya, ya… Kalau saja saat itu aku tak bertemu denganmu…
Aku tak tahu entah bagaimana nasibku saat ini… Terima kasih banyak… Aku
bersungguh-sungguh…!” ujar Satoru seraya berbalik dan berjalan menuju jendela
yang terbuka.
“Ah…!
Kau mau kemana…?” tanya Nami.
“Ya
ampun… Jangan terbawa suasana deh… Aku ini roh… Aku amnesia mendadak… Batas
waktuku tersisa tujuh hari untuk menemukan pengganjalku… dan sekarang ini hari
terakhirnya….!!” Seru Satoru kesal. “Padahal kau sendiri yang berulang kali
menjelaskan itu sampai aku bosan mendengarnya…!”
Nami
pun tertawa melihat tingkah Satoru yang tetap ceria bahkan sampai di hari
terakhirnya.
“Oh,
iya…! Rukun-rukun dengan Tsuji, ya… Hahaha… Selamat tinggal, Nami….”
Satoru
pun menghilang bagaikan angin yang menyisakan sisa-sisa keceriaannya di ingatan
Nami. Ia telah benar-benar pergi dengan tenang untuk selamanya. <© yayangdinimaharani>